25.

190 65 0
                                        

Sore hari dimulai dengan angin yang lebih pelan dari biasanya, matahari mulai meredup di balik langit jingga, tapi Arka justru baru bangkit dari tidurnya. Ia bangkit dari kasur yang sudah direbahinya seharian penuh. Rambutnya acak-acakan, keningnya masih menempel plester putih yang sedikit miring karena keringat, dan mata tajamnya tampak redup oleh bosan.

Ia berjalan pelan menyusuri lorong menuju pintu belakang markas, lalu memutar kunci besar yang menghubungkannya dengan garasi. Pintu itu berderit berat saat dibuka, mengeluarkan aroma debu, oli, dan kenangan buruk yang belum lama lewat. Pandangan pertamanya langsung jatuh ke motor kesayangannya.

Motornya kini tampak nyaris tak bernyawa. Stangnya bengkok, spion copot, lampu depan pecah, dan cat bodinya penuh luka. Seolah ikut jadi korban dari kerasnya dunia.

Arka mendesis pelan. Wajah dinginnya menyipit, dan bibirnya meringis kecil menahan kesal. “Hancur.”

Pelan, dengan satu tangan menahan rasa nyeri di bahu kanannya yang belum pulih, ia tarik motor itu keluar dari garasi dan memarkirkannya di halaman markas mereka. Cahaya senja jatuh miring ke bodi motor, menyorot bekas gesekan dan penyok yang membuatnya terlihat seperti baru keluar dari ajang balapan ilegal.

Ia diam sejenak, menatap motor itu seperti menatap diri sendiri di cermin—sama-sama penuh luka.

Arka lalu berbalik masuk lagi ke dalam garasi. Langkahnya pelan, terseok, tapi tetap teguh. Kaki kirinya masih nyeri tiap menapak, tapi tak sedikit pun ia mengeluh. Ia menjangkau rak tua di sisi garasi, menarik kotak perkakas yang berisi kunci inggris, tang, obeng, dan sebotol kecil cairan pembersih. Debu menguar ketika ia membukanya.

Ia kembali ke motor, jongkok perlahan, mulai membuka bagian-bagian kecil yang masih bisa diselamatkan. Tangannya gemetar sedikit, tapi ia terus melanjutkan. Meringis saat bahunya tertarik, tapi tetap melanjutkan.

Untuk sesaat, dunia seolah sunyi. Tak ada keributan geng, tak ada sorakan. Hanya Arka, motornya, dan suara logam beradu pelan di halaman rumah yang sepi.

Dan mungkin sepotong rasa tenang yang perlahan ia cari, setelah semua kekacauan yang terjadi.

Di sela suara denting obeng yang membentur mur, Arka sempat berhenti sejenak. Tangannya yang terbungkus sarung tangan mekanik tampak berdebu, dan pelipisnya sudah mulai basah oleh keringat. Namun perhatiannya teralih saat suara knalpot motor lain terdengar dari kejauhan, mendekat perlahan dan berhenti sekitar tujuh meter di hadapannya.

Sebuah motor sport berwarna putih-biru tua, tampak baru dan elegan, kini berdiri tenang di depan pagar markas mereka. Arka menyipitkan mata, memperhatikan lekukan bodi motor itu dengan penuh curiga. Itu bukan motor siapa-siapa di sekolah, bukan juga milik geng mana pun yang biasa ia temui.

Lalu helm full-face pengendaranya terbuka perlahan. Di baliknya, muncul wajah yang sangat dikenal—wajah yang langsung membuat rahang Arka menegang.

Arsha.

Kakaknya. Lengkap dengan seragam OSIS yang masih rapi, dilapisi jaket kulit hitam dengan desain klasik. Jaket yang entah kenapa terlihat terlalu serasi untuk tubuhnya yang tegap dan langkahnya yang selalu percaya diri.

Arsha membawa dua jaket kulit, yang satu dilipat rapi di tangannya—modelnya sama persis dengan yang sedang ia kenakan. Tapi Arka hanya menatap barang itu sejenak, lalu mengalihkan pandangan. Seolah jaket itu hanyalah potongan kain murahan yang tak ada artinya.

Sosok kecil yang dulu sangat ia sayang, tapi kini baginya terasa seperti bayangan jauh yang sulit dijangkau.

Arsha berjalan perlahan ke arah Arka, tak terburu-buru, seperti tahu adiknya butuh ruang. Senja menyapu wajahnya, mempertegas sorot matanya yang hangat dan tulus.

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang