Motor-motor mulai melambat saat mendekati halaman depan markas. Chandra yang paling depan mengangkat tangan, memberi kode agar mereka berhenti rapi. Satu per satu kendaraan diparkir di sisi kanan halaman yang cukup lapang-berjejer tak terlalu rapat, seolah sudah terbiasa dengan ritme tempat ini. Suara mesin dimatikan bergantian, menyisakan dengung pelan yang segera larut oleh obrolan kecil dan derap langkah kaki.
Pintu garasi terbuka sebagian. Dari baliknya, Arka tampak jongkok dengan obeng di tangan, bahunya sedikit condong ke depan. Wajahnya serius, fokus, meski plester di dahinya masih tampak jelas dan kontras dengan kulit yang tersengat matahari. Ia menoleh ketika suara deru motor terakhir mati-ekspresinya datar, nyaris tak berubah. Namun matanya menelusuri mereka satu per satu, seolah memastikan semua benar-benar datang.
"Woy," seru Harsa sambil melambai, suaranya menggema ringan di halaman. "Masih bisa ngoprek motor lo dengan kondisi begitu?"
Arka hanya mengangkat sebelah alis. "Gue gak lumpuh," katanya tenang. "Masih bisa gerak."
Tawa kecil pecah. Gillbert dan Farel langsung duduk di pinggiran halaman, melepas helm sambil mengibas rambut yang lepek oleh keringat. Ada yang meregangkan kaki, ada yang langsung bersandar ke dinding, menikmati rasa 'pulang' yang khas setiap kali mereka tiba di markas.
Tak lama, motor matic pink Reska datang dengan gaya berbelok dramatis. Ban depan menggeser kerikil tipis, debu beterbangan halus. Bunga di tangan Amara nyaris terlepas dari genggaman. Semua anak basket refleks menyingkir setengah langkah.
"Sialan, mau copot jantung gue!" teriak Sandi, tangannya refleks menutup dada.
Amara turun pelan, menarik napas pendek untuk menstabilkan diri. Di tangannya ada bungkusan buah dan setangkai bunga kecil-masih utuh meski sepanjang jalan ia sempat beberapa kali menegangkan bahu. Reska turun dengan gaya bak pahlawan kesiangan, menarik cardigan ke belakang, ekspresinya puas.
"Selamat datang di markas cowok-cowok baik hati sejagat raya," kata Sandi santai, lalu melirik ke arah Arka. "Terkecuali yang itu."
Arka masih di posisi semula, jongkok di samping motornya yang setengah hancur. Kaos tanpa lengan yang dikenakannya sudah menyerap keringat dan noda oli. Sisi wajahnya tampak belang-campuran debu, peluh, dan bekas sentuhan alat bengkel. Plester di dahinya mencolok, begitu pula perban yang melilit lengan kirinya, tampak belum sempat diganti.
"Ar," goda Harsa sambil menyeringai, "lo yakin nggak mau mandi dulu? Itu disamperin cewe-cewe loh."
"Itu kaos udah kayak kain lap meja," sambungnya, setengah tertawa.
Sandi cekikikan. "Kalo diperes, olinya bisa dipake ulang!"
Tawa kecil kembali pecah, ringan dan akrab.
Amara membetulkan cardigan biru mudanya, menenteng bungkusan buah dan bunga tangan kecil yang sejak tadi dipeluk erat. Wajahnya menyimpan rona malu-terasa makin pekat karena sorotan candaan yang mengarah pada Arka. Reska dengan santai mengekori di belakang, melangkah seolah halaman itu miliknya.
"Sana samperin," bisik Reska, setengah menyindir sambil menyenggol pinggang Amara. "Ntar pura-pura gak deg-degan aja."
"Aku gak pura-pura," jawab Amara pelan, menunduk. "Emang deg-degan."
Reska ngikik. "HAH! Diakuin!"
Amara melangkah pelan. Cardigan biru mudanya bergoyang lembut tertiup angin sore, kontras dengan nuansa garasi yang pekat oleh aroma oli dan besi panas. Di kejauhan, suara klak kecil dari motor yang baru dimatikan masih terdengar, lalu menghilang.
Matanya mengarah pada sosok yang berdiri beberapa meter di depannya. Lelaki itu masih mengenakan kaos tanpa lengan; sisi tubuhnya berlumur noda hitam. Lengan kirinya dililit perban, dahi dengan plester putih menyembul jelas-membuat Arka tampak seperti seseorang yang terlalu keras kepala untuk beristirahat, tapi juga terlalu terbiasa dengan luka untuk mengeluh.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Fiksi RemajaArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
