SORE HARI DI LOBI SEKOLAH
Hujan sudah reda sepenuhnya. Lobi sekolah dipenuhi suara tawa dan gumaman pelan para siswa, khususnya tim basket yang baru saja menyelesaikan kegiatan gotong royong mendadak mereka-dipimpin oleh sosok yang tak biasa bicara, namun hari ini tampil seperti pemimpin alami.
Beberapa anggota tim basket masih duduk berderet di lobi sekolah, seragam mereka setengah kering namun penuh bekas lumpur dan dedaunan. Gelas plastik bekas minuman isotonik berserakan di kaki mereka, dan suara tawa ringan mulai mengisi udara setelah kelelahan gotong royong tadi mulai menguap.
Di ujung lobi, Arka masih duduk menyendiri di lantai, masih dengan seragam basah dan raut wajah datar yang tak pernah jauh dari ekspresinya sehari-hari. Ia baru saja meneguk air putih dari botol plastik ketika tiba-tiba dari arah kumpulan anak-anak basket terdengar suara lantang:
"Eh, Kapten!" seru Rio, si shooting guard yang selalu kebanyakan gaya. "Kerja sama kita tadi keren banget tau! Sampe viral tuh di sosmed sekolah kita."
Gilbert, yang dari tadi bersandar sambil mengipas dirinya dengan papan skor mini, ikut menyahut, "Gak cuma kapten basket, Ar. Lo juga cocok jadi Kapten Kelas Darurat. Kalo sekolah kebanjiran juga pasti lo suruh kita bikin perahu dari papan triplek lapangan!"
Arka melirik ke arah mereka dengan senyum tipis. "Lo yang pertama gue suruh nata kayunya," ujarnya pelan, tanpa intonasi.
Justru itu membuat mereka makin ngakak.
"Wah! Ancamannya serem banget," kata Farel, si center jangkung yang suka ngelawak. "Jujur, gue bangga sih. Lo tau banget kapan harus maju. Serius, kayak-"
"Udah," Arka akhirnya membuka suara dengan nada sedikit kesal tapi masih tenang. "Sekarang kalian ganti baju, masuk angin semuanya ntar."
Mereka semua terdiam sesaat, sebelum kembali tertawa.
"Ya ampun! Dia peduli, dia peduli!" kata Farel pura-pura terharu sambil memegangi dada.
Gilbert mengangkat tangannya ke atas dengan tatapan jahil. "Bener kata pepatah, yang paling diam itu justru yang paling peka deh."
Arka hanya menggelengkan kepala pelan, meneguk lagi airnya, dan diam.
Namun, di balik wajahnya yang datar, ia tidak membantah. Dan itu saja sudah cukup membuat seluruh tim tahu-mereka dihargai. Kapten mereka, meski tak banyak bicara, bukan cuma pemain hebat di lapangan. Dia juga pemimpin yang tahu caranya berdiri di depan ketika semua orang butuh arah.
Dari koridor sebelah kiri lapangan, langkah kaki Chandra terdengar ringan saat ia menuruni tangga ruang olahraga menuju lobi, seragam olahraga di tangannya tergenggam rapi.
Tubuhnya masih tegap dengan jas OSIS-nya, namun ekspresi wajahnya tetap tenang dan fokus seperti biasa. Pandangannya terarah pada sosok Arka yang duduk sendirian di ujung lobi, masih dalam seragam basahnya, tampak seperti batu karang yang tak tergerus ombak, diam dan tak tergoyahkan.
Namun sebelum kakinya benar-benar menapak ke lantai lobi, pandangan Chandra terpaut ke arah lantai dua, tepat di balik pagar besi tangga terbuka. Di sana berdiri dua sosok yang sudah ia kenal terlalu baik-Reska, dengan tangan bersedekap dan wajah yang tampak bawel seperti biasanya meski sedang tak berbicara, dan di sebelahnya, Amara, tenang, diam, dan sedang menatap lurus ke arah yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
