Bel istirahat baru berjalan beberapa menit saat Chandra berdiri di depan ruang OSIS, memanggil semua anggota yang sudah bersiap. Ia memegang daftar pembagian tugas di tangannya, wajahnya terlihat lebih tegas dari biasanya.
“Dengar, kita gak punya waktu lama. Lakuin sesuai pembagian, cepat dan tepat,” ucap Chandra dengan nada singkat.
Beberapa anggota OSIS yang hadir langsung berdiri membentuk setengah lingkaran, mendengarkan.
Chandra mulai membacakan:
“Arsha, lo ke lantai tiga. Bareng dua anak OSIS lain, periksa semua kelas. Fokus titik pojok dekat lab komputer. Kemungkinan banyak yang ngumpet di situ.”
Arsha mengangguk singkat. Wajahnya serius seperti biasa. Dua anggota OSIS lain yang ditunjuk ikut bersamanya tanpa banyak bicara.
“Amara, lo ke lantai dua. Pastikan semua kelas kosong dicek juga. Jangan lupa ruang musik, ruang seni dan UKS.”
“Di mengerti,” jawab Amara, mencatat cepat di catatan kecilnya.
“Reska, lo standby di tengah lapangan. Kalo ada siswa yang ketangkep, langsung diarahkan ke lo. Jangan lupa koordinasi juga sama guru BK.”
Reska mengangguk mantap. “Oke, langsung gue atur barisannya juga kalau perlu!”
“Gue sendiri bakal turun ke lantai bawah—ke gudang, ruang audio, dan fotokopi. Tempat-tempat yang sering dijadiin tempat persembunyian barang.”
"Kita gerak sekarang, satu jam ke depan kita kumpul."
Semua anggota OSIS bergerak serentak setelah instruksi diberikan. Langkah-langkah cepat mulai memenuhi lorong sekolah. Suasana jadi lebih hening dan tegang, berbeda dengan biasanya.
Sambil berjalan menuruni tangga ke lantai bawah, Chandra merapikan lencana OSIS-nya dan menarik napas panjang. Ia tahu tugas ini penting, tapi di satu sisi, ada bayangan wajah Arka, Harsa, dan Sandi yang terus berkelebat di benaknya.
Ia berharap mereka cukup bijak untuk tidak main-main hari ini.
Di saat yang sama, Arsha dan dua temannya mulai membuka pintu-pintu kelas lantai tiga satu per satu. Matanya tajam memindai setiap sudut ruangan—bukan hanya sebagai Wakil OSIS, tapi sebagai seorang kakak yang diam-diam mencari keberadaan adiknya.
Di lantai dua, Amara bergerak cepat, dengan clipboard di tangan dan langkah mantap. Ia mengetuk, membuka, dan memeriksa kelas demi kelas, sesekali mengajak ngobrol guru piket atau murid yang tampak mencurigakan.
Sementara di lapangan, Reska sudah berdiri tegap dengan dua guru BK di belakangnya. Ia menyiapkan bangku, formulir, dan daftar pemeriksaan—seperti posko darurat kecil.
Razia telah dimulai.
Dan dari berbagai sisi sekolah, perhatian para siswa mulai tertuju pada satu hal: Apakah mereka cukup bersih hari ini, atau justru sedang menanti masalah?
Tidak membutuhkan waktu lama, Arsha bersama dua teman OSIS-nya mulai bergerak di koridor lantai tiga dengan langkah cepat dan waspada. Mereka membuka satu per satu pintu kelas yang kosong dan memeriksa sudut-sudut ruangan dengan teliti.
Tak jauh dari ruang laboratorium komputer, mata tajam Arsha menangkap gerak-gerik mencurigakan dari sekelompok siswa yang sedang mencoba menyembunyikan sesuatu di balik lemari tua. Dengan sigap, Arsha dan dua temannya mendekat tanpa suara.
“Hei, ngapain kalian di situ?!” teriak Arsha dengan suara tegas, membuat para siswa itu terkejut dan langsung berhenti bergerak.
"Eh, kita-"
Salah satu siswa tampak gugup, berusaha menyembunyikan bungkus rokok yang hampir tertutup debu. Teman-temannya yang lain hanya bisa terdiam, wajah mereka menahan takut dan pasrah.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
