17

286 91 13
                                        

Suara deru dua motor sport membelah sore yang mulai merambat senja. Satu berwarna hijau-hitam menyala milik Sandi, satu lagi kuning-hitam mencolok milik Harsa, meluncur bersamaan menuju sebuah bangunan tua berlantai dua di ujung area sekolah-bangunan yang menjadi habitat mereka.

Motor mereka berhenti mulus di bawah pohon besar yang nyaris menutupi atap bangunan. Begitu mesin mati, Sandi dan Harsa serempak melepas helm mereka, wajah keduanya menyipit, mata diserang terik mentari yang memantul dari aspal parkiran.

"Ampun dah, panasnya kayak di oven!" keluh Harsa, mengibas-ngibas wajah dengan tangan kosong. "Nyesel pake ni jaket."

"Gue lebih nyesel lagi," sahut Sandi sambil menepuk helmnya dan menaruhnya asal di atas jok motor, "karena kita ketinggalan drama."

Harsa langsung menoleh cepat. "Hah? Drama apaan?"

Sandi menyeringai lebar, ekspresinya persis anak gosip yang baru dapet bahan premium. Ia sedikit mencondongkan tubuh, suaranya diturunkan setengah nada-dramatis, jelas sengaja.

"Lo tahu Amara?"

"Yaelah," Harsa mendengus. "Kalo itu mah semua orang tahu kali. Bendahara OSIS primadona sekolah kita."

"Nah," Sandi mengangguk puas. "Dan lo tahu Arka?"

Harsa langsung melotot. "Dongo lo nanyain gituan?!

"Tadi di parkiran, Amara jatoh gara-gara motornya oleng."

"Terus?" Harsa condong ke depan.

"Arka berdiri di depan tuh cewe."

Harsa blank. Satu detik. Dua detik. "HAH?!"

"Masalahnya cuma berdiri doang, kayak numpang gaya!" Sandi tertawa kencang.

Harsa ikut tertawa nyaring sambil membayangkan. "Parah sih, pasti tuh cewe sampe bengong. Kayak mau ngomel tapi mikir dua kali!"

Mereka berdua masih tertawa ketika melangkah ke arah kursi-kursi di depan markas. Sandi menjatuhkan diri lebih dulu, sementara Harsa duduk sambil menggeser kursinya biar gak terlalu kena matahari.

Keduanya sama-sama menarik kaos, mengibas wajah dan leher, berusaha ngusir panas yang belum sepenuhnya pergi.

Harsa menghela napas panjang, lalu mendadak duduk tegak. Ekspresinya berubah sok serius.

"Bentar, bentar," katanya sambil mengangkat tangan. "Ini harus kita bahas pake logika sih."

Sandi langsung nyengir lebar. "Gue gak sabar,"

Harsa mengangkat jari telunjuk, gaya dosen dadakan.
"Pertama. Arka itu dingin ke semua makhluk hidup. Manusia, pohon, bahkan tiang listrik."

Sandi mengangguk berlebihan, seolah sedang menyetujui tesis berat. "Valid! Sangat valid."

"Kedua," lanjut Harsa, jari keduanya ikut terangkat. "Dia gak peduli sama siapa pun. Kayak manusia yang gak punya minat hidup, tapi kebetulan dikasih nyawa aja."

Sandi menyeringai. "Tapi hari ini?"

"Tiba-tiba banget jadi kanopi buat satu cewe," sambung Harsa cepat.

Sandi terkekeh. "Pelindung UV gratis!"

Harsa menepuk pahanya sendiri. "Ini udah masuk kategori romansa sih!"

Sandi menyandarkan punggungnya ke kursi. "Coba deh lo pikir. Ada cewek lagi jatoh. Normalnya orang nolong, nanya kek, atau minimal nyodorin minum. Lah ini enggak?! Dia malah berdiri diem kayak pamer gaya doang."

Ia mengangkat alis. "Itu bukan Arka banget sih, serasa kayak jiwa dia versi update tapi belum rilis."

"Kalo bukan naksir," sahut Harsa santai sambil geleng-geleng, "gue gak tau lagi arti hidup kapten kita yang misterius itu."

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang