Beberapa hari kemudian.
Pagi itu matahari sudah naik cukup tinggi, menyebarkan cahaya hangat ke halaman sekolah yang mulai dipenuhi siswa berseragam putih abu-abu. Suara langkah kaki, tawa kecil, dan obrolan ringan bercampur menjadi hiruk pikuk khas jam pertama.
Di tengah keramaian itu, satu sosok melangkah santai melewati gerbang sekolah—tanpa ekspresi bersalah, tanpa sedikit pun kesan terburu-buru. Seolah jam masuk hanyalah rekomendasi, bukan aturan.
Rambutnya berantakan dengan gaya acak-acakan yang tampak disengaja. Dasi sekolah menggantung longgar di leher, kancing atas kemeja terbuka begitu saja. Ransel disampirkan di satu bahu, membuat penampilannya lebih mirip senior kampus yang salah jurusan daripada siswa SMA yang seharusnya patuh aturan.
Telat sepuluh menit.
Tapi untuk ukuran Arka. Itu nyaris prestasi.
Koridor utama lantai dua relatif sepi. Dari balik pintu kelas terdengar suara guru yang sedang menjelaskan materi, diselingi bunyi kapur yang beradu dengan papan tulis. Arka menyusuri lorong dengan langkah lambat, memilih jalur memutar yang sebenarnya lebih panjang—jalur yang sama setiap pagi. Bukan karena tersesat, hanya karena ia suka.
Sampai—
BRAK!
"Aw,"
Tubuh tingginya tersentak ringan ketika seseorang menabraknya dari belakang. Arka tidak jatuh-tentu saja tidak. Tapi cukup untuk membuatnya mengernyit kesal dan menoleh ke belakang.
Di lantai, seorang gadis terduduk dengan napas tersengal. Sebuah kardus besar yang semula ia bawa kini terjatuh, isinya-berkas, map, lembaran kertas-berserakan di lantai seperti badai kecil yang menyerang mendadak.
Amara. Gadis itu buru-buru duduk tegak, rambut hitamnya sedikit berantakan, poni menutupi sebagian dahinya.
"Aduh, berantakan semuanya lagi."
Dengan gerakan cepat namun tetap tenang, ia mulai mengumpulkan kembali lembaran yang berhamburan, berusaha tetap fokus meski napasnya belum teratur. Jari-jarinya gemetar ringan, tapi matanya tidak panik.
Arka menghela napas pendek, mendengus pelan. "Tch."
Ia melanjutkan langkah, jelas tidak tertarik membantu. Beberapa siswa sempat melirik, tapi tak ada yang berani ikut campur. Sosok Arka terlalu dikenal untuk itu. Preman elegan, begitu julukannya.
Tapi langkahnya terhenti ketika matanya menangkap sesuatu-sebuah lembaran kertas besar yang mencuat dari map hijau yang tidak tertutup rapat.
DAFTAR PESERTA SELEKSI NASIONAL FINAL BASKET ANGKATAN XXV-
Mata Arka menyipit. Ia jongkok perlahan, mengambil kertas itu tanpa tergesa. Matanya menelusuri nama-nama yang tercantum di sana. Dan tak butuh waktu lama untuk menemukan namanya di urutan paling atas.
Tepat di bawah namanya, ada catatan kecil bertinta biru:
"Pemain inti. Seleksi regional. Harus dikonfirmasi ulang semester depan."
Ia mengangkat alis. Lalu menoleh, memperhatikan gadis yang masih sibuk memunguti sisa berkas. Punggungnya terlihat kecil, tapi bahunya tampak tangguh. Arka mulai berdiri-membawa kertas itu bersamanya.
Tapi sebelum ia sempat melangkah, sebuah tangan kecil menyentuh lengan seragamnya. Ringan. Tidak mencengkram. Seperti permintaan yang lebih banyak membawa nada harapan daripada paksaan.
"Maaf." suara itu lembut, pelan, dan terdengar sangat kalem meski cepat. "Itu belum boleh dibaca umum. Sebelum pengumuman internal."
Arka menoleh pelan. Menatapnya. Wajah Amara tetap tenang, ia menatap mata Arka-tak ada ketakutan, hanya kekhawatiran tulus dan sedikit gugup yang sulit ia sembunyikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
