20.

211 70 3
                                        

Di bawah langit malam yang redup, cahaya bulan setengah tertutup awan menyinari pelan area pemakaman tua yang sunyi. Tempat itu bukan pemakaman umum biasa—melainkan tanah khusus milik keluarga besar ternama, milik keluarga Dmitriev.

Letaknya tersembunyi, tak terlalu jauh dari taman kota, namun cukup terpisah agar hanya mereka yang tahu yang bisa menemukannya. Jalan setapaknya kecil, hanya dilapisi tanah berlumut dan dedaunan gugur, diapit pepohonan tinggi yang menjulang seperti penjaga bisu.

Di sanalah Arka duduk malam itu, di depan salah satu nisan tanpa foto, hanya nama dan tanggal yang sudah mulai pudar oleh hujan dan waktu.

Aruna Seraphine Marie.

Jaket jeans yang ia kenakan tak cukup menahan dingin malam, tapi Arka tak peduli. Ia duduk bersila di tanah lembab, dengan gitar akustik kesayangannya di pangkuan, yang bagian pinggirnya sedikit lecet. Tak ada alas. Tak ada penerangan kecuali cahaya samar dari langit. Tapi bagi Arka, malam ini tak butuh banyak cahaya—karena ia datang bukan untuk melihat, tapi untuk merasa.

Pelan-pelan, jemarinya mulai memetik senar.

Andai saja

Ku bisa genggam tanganmu

Takkan ada kata rindu

Di dalam hatiku…”

Suara itu mengalun pelan, menyatu dengan suara serangga malam dan desir angin di sela pepohonan. Tidak keras, tidak lantang, tapi cukup untuk membuat udara di sekeliling terasa berat dan sesak. Setiap kata seperti ditarik langsung dari luka lama yang tak pernah sembuh.

Ia menatap batu nisan itu. Hening. Pandangannya tak berubah dari awal ia tiba—fokus, dalam, dan seolah ingin berkata banyak, namun tak pernah benar-benar terucap.

Tahukah dirimu

Betapa diriku

Merindukan hadirmu ada disini…”

Nafasnya menggantung. Nada suaranya nyaris pecah. Ia menggigit bibir bawahnya agar tetap tegar. Bukan karena takut menangis—tapi karena ia tahu, ia takkan bisa berhenti jika mulai.

Percayalah kasih

Jarak dan waktu tak mampu menghapus

Janji setia menjaga hati…”

Arka menunduk. Tangannya berhenti memetik. Jemarinya menggenggam leher gitar, erat, seolah sedang menggenggam tangan seseorang yang tak lagi ada.

Ia menghela napas dalam-dalam. Angin malam kembali bertiup, membawa serta aroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh liar di sekitar makam.

Arka menyandarkan kepalanya ke gitar, menutup mata. Dalam hatinya, ia tidak meminta keajaiban. Ia hanya ingin waktu berhenti sejenak, agar ia bisa merasakan kehadiran seseorang yang pernah menjadi dunia kecilnya, walau hanya lewat imajinasi samar.

“Ibu,” gumamnya lirih. Kata yang sederhana, tapi terasa paling mahal untuk disebut.

Ia tak tahu apakah suara itu akan sampai pada seseorang di luar sana. Tapi jika ada kesempatan, jika ada ruang antara dunia yang bisa menjawab, ia ingin ibunya tahu, bahwa ia masih menunggu. Masih rindu. Dan masih menjaga hatinya seperti janji polos seorang anak kecil yang tak pernah benar-benar mengerti kepergian.

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang