Amara melangkah menjauh dari stan permainan dengan senyum yang belum juga pudar. Boneka beruang berukuran sedang itu masih ia peluk di depan dada—pas di lengannya, hangat di pelukan, seolah memang diciptakan untuk berada di sana. Hadiah kecil itu terasa jauh lebih besar nilainya dari sekadar benda. Karena itu datang dari Arka.
Ia mengusap kepala boneka itu pelan, jarinya berhenti sejenak di telinga kainnya. “Lucu banget,” gumamnya, nyaris berbisik.
Arka berjalan di sampingnya, sesekali melirik. “Lo seneng?”
“Banget!” jawab Amara tanpa ragu. Senyumnya mengembang. “Kayaknya aku mau kasih dia nama.”
“Nama?” Arka menoleh, alisnya sedikit terangkat. Pandangannya jatuh pada boneka di pelukan Amara.
“Iya,” Amara mengangguk kecil. “Setiap benda yang kita sayang itu butuh perhatian juga dari kita. Dan memberikan nama salah satu perhatian yang nyata.”
Arka terdiam. Ada jeda tipis sebelum ia berkata, jujur, tanpa nada mengejek, “Gue baru tau konsep itu.”
"Kamu banyak belajar hari ini," Amara terkekeh kecil.
Ia menunduk, menatap boneka itu lagi. “Kira-kira nama apa yang cocok buat boneka lucu gini—” Ucapannya menggantung, wajahnya tampak berpikir sungguh-sungguh.
“Arumi,” Suara Arka datang begitu saja. Tenang. Pasti.
Amara menoleh cepat. “Arumi?”
Arka mengangguk. Tidak ragu. “Singkatan dari nama gue, dan nama lo.”
Hening.
“Arka dan Naomi,” lanjut Arka pelan. Ada sesuatu di nadanya—lebih dalam, lebih hangat dari biasanya.
Amara membeku. Napasnya tertahan sepersekian detik.
Ini kali pertama.
Selama mereka saling mengenal, Arka belum pernah menyebut namanya sama sekali. Dan bukan nama yang biasa orang-orang pakai. Bukan Amara. Tapi Naomi. Nama yang hanya hidup di lingkaran keluarganya. Nama yang menandakan kedekatan. Rumah.
“Kenapa diem?” Arka bertanya, suaranya lebih lembut. “Lo keberatan?”
“E-engga,” Amara menggeleng pelan. “Sama sekali engga.” Suaranya sedikit bergetar. “Ini, pertama kalinya kamu sebut nama aku.”
Ia menatap Arka. “Dan kenapa, harus Naomi?”
Arka menghindari tatapannya. “Gue pernah denger bokap lo manggil lo pake nama itu.”
Ia menarik napas pelan. “Artinya, yang bisa panggil lo begitu, cuma orang-orang yang punya jarak paling dekat.”
Arka berhenti sejenak, seolah menimbang kata-katanya sendiri. Lalu ia berkata, jujur, tanpa tameng, “Dan gue pengen jadi orang asing pertama yang manggil lo dengan nama itu.”
Satu detik. Dua detik.
“Naomi.”
Amara tidak bergerak. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang terlalu penuh untuk diberi nama. Arka—yang biasanya dingin, singkat, tertutup—kini berdiri di depannya dengan tatapan yang lembut, terbuka, tanpa jarak.
“Naomi Putri Amaraloka,” ucap Arka pelan, jelas.
Amara terdiam. Ia tidak pernah mendengar Arka berbicara sepanjang ini. Dengan kalimat yang utuh. Dengan rasa yang terbuka. Tatapan lelaki itu melembut, tidak ada sisa dingin di sana.
Matamya menatapnya tak percaya. Bibirnya bergetar, matanya memanas. Ia mencari-cari sesuatu di mata biru tua itu—dan menemukannya. Ketulusan. Keberanian. Perasaan yang tidak main-main.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
