Jalanan mulai lengang saat jam pulang sekolah merambat ke sore. Deru kendaraan masih terdengar, tapi tak lagi sesak. Satu per satu, anak-anak basket sudah bubar di persimpangan berbeda-begitupun Sandi dan Harsa yang lebih dulu kembali ke markas mereka.
Saat ini Arka mengendarai motornya sendirian.
Motor sport merah hitam itu melaju stabil, tidak tergesa, tidak pula malas. Seragam putih abu-abu masih melekat di tubuhnya, dibalut jaket jeans yang sedikit kusut di bagian lengan. Helm full face menutup wajahnya rapat.
Angin sore membawa aroma aspal hangat dan dedaunan taman kota yang mulai lembap.
Di dekat taman kota, deru motor Arka melambat tanpa sadar.
Di sisi jalan, sebuah lapangan basket terbuka berdiri sederhana. Cat lapangannya memudar, garis-garisnya tidak lagi tegas, dan ring besinya tampak tinggi menjulang, seolah selalu menantang siapa pun yang berdiri di bawahnya.
Di tengah lapangan itu, ada seorang remaja lelaki yang familiar.
Rayyan.
Ia duduk di kursi roda.
Tubuhnya sedikit condong ke depan, kedua tangannya menggenggam bola basket di pangkuan. Tidak ada pantulan bola. Tidak ada gerakan terburu-buru. Hanya diam, seperti sedang mengumpulkan keberanian yang tercecer.
Perlahan, remaja itu mengangkat wajahnya. Tatapannya naik, mengikuti tinggi ring di depannya. Ada jeda panjang di sana. Keraguan yang nyata, tergambar jelas di matanya.
Bola itu diangkat sedikit, lalu diturunkan lagi.
Arka menepi.
Motornya berhenti di pinggir lapangan, mesin dimatikan. Kesunyian langsung mengisi ruang. Ia melepas helmnya, menggantungkannya di spion, lalu tetap duduk di atas motor.
Ia tidak turun.
Jalanan mulai lengang saat jam pulang sekolah merambat ke sore. Deru kendaraan masih terdengar, tapi tak lagi sesak. Satu per satu, anak-anak basket sudah bubar di persimpangan berbeda-ada yang belok ke arah rumah, ada yang lanjut nongkrong sebentar, ada pula yang menghilang di tikungan tanpa perlu pamit panjang.
Arka mengendarai motornya sendirian.
Motor sport merah hitam itu melaju stabil, tidak tergesa, tidak pula malas. Seragam putih abu-abu masih melekat di tubuhnya, dibalut jaket jeans yang sedikit kusut di bagian lengan. Helm full face menutup wajahnya rapat, membuat dunia terasa lebih sunyi di balik kaca gelap.
Angin sore membawa aroma aspal hangat dan dedaunan taman kota yang mulai lembap.
Di dekat taman kota, Arka melambat tanpa sadar.
Di sisi jalan, sebuah lapangan basket terbuka berdiri sederhana. Cat lapangannya memudar, garis-garisnya tidak lagi tegas, dan ring besinya tampak tinggi menjulang, seolah selalu menantang siapa pun yang berdiri di bawahnya.
Di tengah lapangan itu, ada seorang remaja lelaki.
Ia duduk di kursi roda.
Tubuhnya sedikit condong ke depan, kedua tangannya menggenggam bola basket di pangkuan. Tidak ada pantulan bola. Tidak ada gerakan terburu-buru. Hanya diam, seperti sedang mengumpulkan keberanian yang tercecer.
Perlahan, remaja itu mengangkat wajahnya. Tatapannya naik, mengikuti tinggi ring di depannya. Ada jeda panjang di sana. Keraguan yang nyata, tergambar jelas di matanya.
Bola itu diangkat sedikit, lalu diturunkan lagi.
Arka menepi.
Motornya berhenti di pinggir lapangan, mesin dimatikan. Kesunyian langsung mengisi ruang. Ia melepas helmnya, menggantungkannya di spion, lalu tetap duduk di atas motor.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Novela JuvenilArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
