14

288 95 14
                                        

Bunyi bel sekolah memecah kesunyian siang, melengking panjang seolah menjadi tanda resmi kebebasan sementara. Di ruang OSIS yang kini hanya tersisa empat orang, Reska langsung bangkit dari kursinya. Ia merentangkan kedua tangan tinggi-tinggi, punggungnya melengkung, lalu menguap lebar tanpa sedikit pun rasa malu.

"Akhirnya..." ia menghela napas lega, lalu menoleh ke arah Amara dengan sorot mata penuh harap. "Laptop lo beneran dibawa, kan? Jangan bilang ketinggalan."

Amara terkekeh kecil sambil menepuk tasnya. "Aman, Res. Ada kok ini."

"Nah, gitu dong. Gue cuma mastiin aja, biar ntar bisa bebas rebahan di rumah Arsha," gumam Reska puas.

Arsha berdiri menyusul, merapikan jas OSIS-nya sebelum merogoh saku dan mengeluarkan kunci mobil. Bunyi gemerincing kecil terdengar saat ia memainkannya di udara. "Mobil gue udah di parkiran. Kita gerak sekarang?"

Amara dan Reska mengangguk hampir bersamaan. "Goo!"

Chandra menyampirkan tas selempangnya ke bahu, lalu melangkah mengikuti mereka. Sejak tadi ia memang lebih banyak diam-bukan karena canggung, melainkan karena pikirannya sibuk dengan rencana yang tak pernah benar-benar ia ucapkan. Matanya sesekali menyapu sekitar, seperti sedang menghitung kemungkinan yang hanya ada di kepalanya.

'Semoga ini bisa jadi awal dari semuanya,'

Begitu melewati gerbang sekolah, suasana berubah. Langit yang tadinya cerah mulai tertutup awan kelabu. Angin sore berembus pelan, membawa aroma rumput yang baru disiram dan tanah yang lembap. Dari arah lapangan basket, terdengar suara sorakan bercampur teriakan tidak jelas.

"Itu pasti Sandi sama Harsa," Reska mendecih. "Gue yakin mereka pasti ribut perkara skor."

"Mereka emang semangat banget buat jadi pemenang," Amara menimpali, senyumnya mengembang.

Arsha hanya terkekeh singkat sambil membuka pintu mobilnya-sebuah SUV putih dengan interior yang bersih dan rapi, nyaris tanpa barang berserakan. Mesin dinyalakan, AC langsung bekerja, mengusir hawa pengap yang masih menempel di badan mereka.

Reska buru-buru duduk di kursi depan, menurunkan jendela setengah dan menyandarkan siku di sana. "Angin sore gini enak, Sha. Biar gak ketiduran."

Amara masuk ke bangku belakang dan memilih duduk di tengah. Chandra duduk di sampingnya, menyilangkan tangan, pandangannya sesekali melirik ke arah lapangan tempat anak basket sedang bermain.

"Lagu?" tanya Arsha sambil memutar tombol audio, matanya tetap fokus ke jalan. "Atau mau hening aja?"

"Lagu, lah!" Reska menjawab cepat, nyaris refleks. "Tapi jangan yang mellow. Gue butuh lagu yang rock biar gak ngantuk."

Amara menahan tawa. "Terserah sih. Asal jangan terlalu kenceng volume-nya. Kita udah cukup pusing sama tugas OSIS."

"Siap, Bu Bendahara," Arsha menggoda ringan.

Arsha memutar lagu dengan tempo sedang. Bukan mellow, tapi cukup santai untuk menemani perjalanan sore itu. Mobil mulai melaju meninggalkan area sekolah, sementara awan di atas semakin menebal, seolah ikut mengintip percakapan ringan mereka-empat orang dengan pikiran masing-masing, terikat dalam satu perjalanan yang tampaknya sederhana, tapi perlahan menyimpan banyak kemungkinan.

Arka berdiri di area tribun, tubuhnya bersandar malas pada pagar besi yang dingin. Dari sana, pandangannya menangkap satu mobil yang terasa terlalu familiar untuk diabaikan. SUV putih itu melaju perlahan meninggalkan halaman sekolah, menyelip di antara deretan kendaraan lain yang mulai beranjak pulang.

Matanya menyipit tipis.

Satu per satu wajah di dalam mobil itu tertangkap jelas olehnya, meski jarak terus bertambah. Amara-duduk di tengah bangku belakang-tersenyum kecil entah karena apa, ekspresinya lembut seperti biasa, seolah dunia jarang benar-benar mengganggunya. Reska di kursi depan tampak sibuk, mulutnya bergerak cepat, gesturnya terlalu hidup untuk seseorang yang baru selesai rapat panjang. Arsha mengemudi dengan santai, satu tangannya di setir.

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang