40

5 1 0
                                        

Semuanya mengalir begitu saja—natural, tanpa dipaksa. Tawa muncul di sela-sela obrolan receh, senyum bertukar tanpa alasan khusus, dan candaan kecil tak pernah benar-benar berhenti. Tidak ada yang merasa dikejar waktu. Tidak ada yang ingin buru-buru pergi. Hari itu seolah sengaja melambat, memberi ruang untuk setiap momen dinikmati sampai tuntas.

Kini mereka kembali berkumpul di salah satu area makan di tepi pameran. Deretan meja kayu memanjang menghadap keramaian, dengan satu meja bundar besar di tengah yang langsung dikuasai anak-anak basket. Aroma makanan bercampur dengan suara musik pelan dan hiruk pikuk pengunjung lain.

Sembari menunggu dua gadis memilih makanan, anak basket sudah lebih dulu ribut sendiri.

"Guys!"

“Kita main UNO aja gimana?” Sandi mengusulkan sambil mengeluarkan satu set kartu dari tas kecilnya. “Daripada bengong nungguin ciwi-ciwi belanja kalori.”

“Gas!" jawab beberapa suara hampir bersamaan.

Tidak terkecuali Chandra. Lelaki itu sudah duduk di sana, bersandar santai di kursinya, ikut menyatu dalam lingkaran tanpa terlihat canggung sedikit pun. Ekspresinya tenang. Nyaman. Seolah memang di sinilah tempatnya.

Kartu dibagikan.

Arka dan Arsha duduk berhadapan, saling melirik singkat penuh makna. Chandra duduk satu garis dengan Sandi.
Harsa bersebelahan dengan Farel. Rio duduk berhadapan dengan Gillbert. Dan Niko satu tim nasib dengan Darren.

Semua memegang kartu masing-masing, menutupinya rapat-rapat seperti menyimpan rahasia negara.

“Oke, gue mulai ya,” kata Sandi penuh percaya diri sambil menurunkan kartu pertama. “Merah, angka tujuh.”

“Buset, pede amat,” Rio nyengir. “Pasti kartunya jelek.”

“Daripada lo yang mukanya doang sok ganteng,” balas Sandi cepat.

“Woi fokus,” Harsa menegur sambil tertawa. “Ini UNO, bukan roasting session.”

Permainan pun berjalan. Kartu demi kartu turun ke meja, diselingi teriakan kecil, protes receh, dan tawa yang pecah tiap kali ada yang kena kartu +2 atau +4.

“EH, EH, EH!” Darren langsung berdiri setengah dari kursinya. “Siapa yang nyimpen +4 dari tadi?!”

Gillbert pura-pura sibuk menyusun kartunya. “Gatau. Takdir mungkin.”

“Takdir pala lo,” Rio menimpali. “Muka lo tuh muka penjahat UNO!”

Arka hanya menggeleng kecil sambil menurunkan kartunya. “Uno.”

“HAH?!” Arsha spontan mendongak. “Cepet banget?”

“Skill,” jawab Arka singkat.

“Ngibul,” Arsha mendecak. “Pasti dari tadi ngumpet kartu bagus.”

Chandra tersenyum kecil melihat itu semua. Tangannya menurunkan satu kartu dengan tenang. “Santai aja,” katanya ringan. “Mainnya buat senang-senang.”

“Katanya santai,” Sandi menunjuk Chandra. “Tapi kartu lo licik.”

Chandra hanya terkekeh pelan.

Sementara itu, di depan deretan stan makanan—

Amara dan Reska berdiri berdampingan, sama-sama menatap papan menu yang panjang dan penuh pilihan. Dari rice bowl dengan berbagai saus, chicken wrap yang terlihat menggiurkan, burger mini berjejer rapi, sampai deretan minuman dingin warna-warni.

Reska menyilangkan tangan di dada, wajahnya dibuat sok serius seperti lagi rapat penting. “Kita harus mikir matang,” katanya. “Ini satu tim basket laper semua. Salah ngitung dikit, bisa chaos!"

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang