9

383 168 36
                                        

Sudah dua jam Arka tertidur di ruang UKS. Keheningan menyelimuti ruangan itu seperti selimut tipis yang nyaman, menenangkan, dan entah bagaimana—sedikit asing. Ruangannya cukup besar, terdapat enam ranjang, dua meja perawat, lemari obat di pojok, dan AC menempel di dinding ruangan.

Tak ada suara langkah kaki, tak ada pintu diketuk, tak ada panggilan dari luar. Hanya detak jarum jam dan dengung listrik. Waktu seolah enggan bergerak di ruang itu, membiarkan siapapun yang berada di dalamnya tenggelam dalam ketenangan yang jarang bisa ditemukan di tengah hiruk-pikuk sekolah.

Arka masih diam. Wajahnya mulai tenang, dadanya naik turun teratur. Pagi tadi matanya terasa perih, kepalanya berat, pikirannya pun tidak bisa fokus. Ia mencoba bertahan hingga pelajaran kedua, namun akhirnya tubuhnya menyerah.

Dan sekarang, entah berapa lama ia tertidur, tubuhnya terasa lebih ringan. Arka perlahan membuka mata, mengerjap beberapa kali saat cahaya siang menyapa retina yang masih malas bekerja. Rasa perih di matanya sudah jauh berkurang, dan kepala yang tadi seperti membawa beban, kini lebih ringan meskipun masih ada sisa pening.

Ia menarik napas panjang. Udara ruang UKS terasa bersih. Dingin. Tidak lagi dingin seperti tadi—sunyi dan tidak panas. Ia mengangkat tubuhnya perlahan, mendudukkan diri di tepi ranjang sambil menunduk, membiarkan kakinya menyentuh lantai dingin.

Tangannya mengusap wajah. Lalu, tiba-tiba dahinya berkerut.

Ada sesuatu yang menempel di sana. Ia meraba pelan.

Dingin. Kenyal. Lembab sedikit.

“Ice paper?” gumamnya pelan. Alisnya terangkat heran.

Ia mencoba mengingat-ingat. Saat tadi datang, ia tidak sempat mencari ice paper. Bahkan ia tidak yakin ada orang lain di UKS. Ia datang, membuka pintu yang tidak dikunci, lalu merebahkan diri begitu saja. Tak ada guru jaga, tak ada staff. Laci tempat penyimpanan alat-alat medis pun tampak tertutup rapat saat itu.

Mata Arka menyapu ruangan. Masih kosong. Tirai tidak bergerak, pintu tertutup rapat, meja masih tertata rapi, kursi tidak bergeser sedikit pun dari posisi semula. Tak ada tanda bahwa seseorang datang dan melakukan sesuatu.

“Apa gue yang narok sendiri tanpa sadar?” gumamnya akhirnya, setengah percaya, setengah ragu.

Ia memijit pelipis, lalu menatap lantai. Diam cukup lama, sebelum akhirnya pandangannya naik ke dinding. Sebuah jam bulat dengan bingkai coklat menggantung di atas pintu.

Jarum panjangnya menunjuk ke angka satu. Jarum pendeknya ada di antara angka dua dan tiga. Arka membelalakkan mata. Ia buru-buru berdiri, sedikit terhuyung karena darah yang mengalir cepat ke kepalanya.

“Udah jam segini?!”

Panik mulai merayap di wajahnya. Ia menunduk. Tangannya cepat merapikan baju, mengibaskan kerah yang kusut, lalu menoleh ke kaca kecil di samping lemari.

Dan ia membeku. Ice paper masih menempel di dahinya.

Ia menatap bayangan dirinya. Sebagian wajahnya masih terlihat seperti orang sakit—rambut agak berantakan, mata sedikit sayu, dan benda kenyal itu menempel begitu mencolok.

Seketika ia mendesah pelan. “Biarin aja.”

Tanpa melepasnya, ia melangkah cepat ke pintu UKS, membuka kunci, lalu keluar ke koridor.

Koridor kelas tampak lengang. Suara langkah sepatu Arka menggema pelan di antara dinding yang sunyi. Jam pelajaran sedang berlangsung, dan semua pintu kelas nyaris tertutup rapat. Hanya sesekali terdengar suara guru menjelaskan. Tapi sebagian besar, koridor itu seolah kosong—menjadi tempat peralihan antara ruang istirahat dan tanggung jawab.

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang