24

208 66 0
                                        

Di depan sebuah bangunan sederhana yang penuh warna dan mainan, halaman kecil itu dipenuhi anak-anak berseragam biru muda dengan dasi mungil di leher mereka. Tawa riang terdengar bersahutan, langkah kaki kecil berlarian tanpa arah, sebagian terjatuh lalu bangkit lagi tanpa keluhan. Dunia mereka terasa ringan, utuh, dan belum tersentuh beban apa pun.

Tak jauh dari keramaian itu, terparkir sebuah mobil putih mewah yang tampak kontras dengan kesederhanaan bangunan kanak-kanak tersebut. Seorang lelaki paruh baya bersandar di depan kap mobilnya. Posturnya tegap, bahunya lurus, nyaris tak bergerak. Kacamata hitam bertengger tegas di hidungnya, menyembunyikan sorot mata yang sulit ditebak.

Dmitriev Damarendra.
Dengan jas hitam yang terpasang rapi seolah tak pernah mengenal kusut, ia menatap lurus ke dalam area kanak-kanak itu. Tatapannya tenang, tapi dalam-seakan menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai.

Ingatan itu datang tanpa diminta.

Dua belas tahun yang lalu.

Saat kedua putranya-Arsha dan Arka-masih berada di usia yang sama dengan anak-anak di hadapannya sekarang. Masih kecil. Masih polos. Masih berlarian di tempat yang sama. Dua bocah yang hampir selalu terlihat bersama, tangan kecil mereka saling menggenggam, tertawa tanpa alasan yang rumit. Hangat. Ceria. Saling menjaga dengan cara yang begitu alami.

Damar mengedipkan matanya pelan.
Kenangan itu terasa seperti bayangan samar yang menariknya berdiri di tempat ini hari ini. Entah karena rindu, atau kekosongan yang tak pernah benar-benar terisi-ia sendiri tak sepenuhnya mengerti. Yang jelas, pikirannya terasa rumit, terlalu penuh untuk dijelaskan dengan satu kata.

Ia berdiri cukup lama di sana.
Diam.

Menyerap suara tawa anak-anak, wajah-wajah polos yang tersenyum tanpa beban, keceriaan yang begitu sempurna di usia mereka. Sekilas, bayangan wajah Arsha dan Arka muncul-singkat, nyaris tak sempat ia raih-lalu menghilang lagi.

Sampai sebuah mobil berhenti tepat di depannya.

Pintu terbuka. Seorang lelaki dengan pakaian yang rapi keluar lebih dulu. Ia membukakan pintu untuk istrinya, lalu pintu belakang untuk anak-anaknya. Satu remaja perempuan berseragam SMA, dan satu bocah kecil yang mengenakan seragam biru yang sama dengan anak-anak lain di halaman itu.

Vincent langsung jongkok di hadapan Kenzo, putra kecilnya. Tangannya cekatan merapikan sisa kerutan di baju anak itu, memastikan dasinya lurus, sepatunya terpasang rapi. Ia menepuk kepala Kenzo pelan.

"Jangan suka gangguin cewek di sekolah, ya," katanya setengah bercanda, setengah serius. "Jangan sok tebar pesona. Kamu masih kecil."

Kenzo mendengus kecil, dagunya terangkat percaya diri.
"Emang aku keren kok. Makanya cewek-cewek pada suka main sama aku!"

"Kamu itu," sahut kakaknya sambil tertawa kecil, "pede banget sih, masih bocah juga."

Adisty, mengenakan jas dokter yang rapi, tersenyum hangat melihat interaksi mereka. Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan Kenzo. "Yang penting jangan nakal, jangan bikin miss repot, jangan berantem," ucapnya lembut. "Oke, jagoan mama?"

"Oke, Mama!" jawab Kenzo mantap.

Vincent mengangkat tangannya. "Tos, Papa."

"Tos!"

Telapak tangan kecil dan besar itu bertemu, disusul tawa ringan yang mengisi udara pagi.

Semua itu tak luput sedikit pun dari pandangan Damar.
Sejak awal, ia sadar akan kehadiran keluarga itu tak jauh dari posisinya. Raut wajahnya tetap datar, nyaris tak berubah. Namun ada sesuatu di dadanya yang terasa mengganjal-rasa asing yang tidak nyaman, meski ia tak tahu harus menyebutnya apa.

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang