Abu putih masih melekat di lengan jaket kulitnya dengan sisa amarah yang meledak di rumah tadi. Arka memelintir gas motornya lebih kencang, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang panas, bukan karena cuaca, tapi karena sisa-sisa emosi yang belum sempat padam.
Ia tak tahu kemana hendak pergi untuk melepaskan beban di hatinya.
Langit di atasnya muram, seakan ikut menyimpan kemarahan yang sama. Jalanan kota tampak kabur oleh pandangannya yang kosong, matanya merah bukan karena angin, melainkan karena luka yang tak terlihat: sebuah perdebatan yang meninggalkan ruang hampa dalam dadanya.
Kini, hanya suara motor dan detak jantung yang tak beraturan yang menemaninya. Ia bahkan lupa ke mana arah roda membawanya—selatan, mungkin. Atau barat. Tak penting. Yang penting, menjauh. Dari rumah. Dari suara ayahnya. Dari bayangan-bayangan harapan yang tak pernah cocok dengan kenyataan.
Arka tidak tahu harus berbuat apa. Hidup baginya, seperti ruang sempit yang dindingnya terus menyempit setiap kali ia mencoba bernapas. Ia bukan anak yang bodoh. Ia tahu, ayah hanya ingin yang terbaik. Tapi mengapa yang terbaik itu selalu memakai nama Arsha?
Arsha si cerdas. Arsha si penurut. Arsha si harapan keluarga. Dan Arka? Ia bahkan tidak yakin apakah ia benar-benar bagian dari keluarga yang dimaksud.
Ia tidak menyalahkan Arsha. Kakaknya itu terlalu sempurna untuk dibenci. Tapi justru karena itulah, luka di dalam dirinya semakin dalam. Seakan setiap langkah yang ia ambil hanyalah gema yang tidak diharapkan—sebuah suara sumbang dalam orkestra yang terlalu rapi.
Terkadang ia bertanya, apa gunanya menjadi diri sendiri jika setiap tindakannya hanya menjadi bahan perbandingan? Apa gunanya mencoba, jika setiap keberadaannya seperti langkah yang seharusnya tidak pernah diambil?
Langkah yang tidak diinginkan. Langkah yang tak diharapkan ada.
Arka melintasi persimpangan kecil yang jika ia belok ke kanan, akan membawanya ke bangunan tua yang sudah satu tahun lalu menjadi markasnya bersama Chandra, Sandi dan Harsa. Tempat itu dulunya bangunan kosong yang mereka sulap dengan sofa bekas, kaleng minuman, cat dengan warna klasik dan mimpi-mimpi kecil yang tak pernah mereka ucapkan pada dunia. Di sana mereka tertawa, seolah luka tidak pernah ada.
Tapi malam ini, Arka terus melaju lurus, membiarkan markas itu tertinggal di balik debu jalanan. Ia tidak sanggup kembali.
Bukan karena ia marah pada mereka. Justru karena ia tahu—mereka terlalu peka. Terlalu perhatian. Dan perhatian itu, terasa seperti duri yang siap mencongkel rahasia yang sudah lama ia kubur dalam-dalam.
Mereka mungkin tidak tahu segalanya. Tapi Arka tahu, cukup satu celah, cukup satu kalimat yang meleset dari bibirnya, dan semuanya akan runtuh.
Karena ada hal-hal yang terlalu rumit untuk dijelaskan. Terlalu menyakitkan untuk diucapkan. Bahkan terlalu berat untuk dibagi.
Maka Arka memilih diam. Memilih menjauh. Memilih menutup diri sampai dunia di dalam dadanya benar-benar tak sanggup lagi dikunci.
Dan mungkin saat itu tiba, saat dirinya tak bisa lagi menahan beban, barulah semuanya akan tumpah. Dengan cara yang ia sendiri belum tahu. Atau mungkin dengan cara yang ia sendiri takutkan.
Deruman motor sport Arka melambat saat deretan pepohonan taman kota mulai tampak di kejauhan. Angin sore meniup pelan, membawa serta aroma dedaunan dan suara anak-anak yang bermain. Ia berhenti sejenak, memandang lapangan basket yang berada di sisi kanan taman. Tempat itu tampak lengang, hanya ada satu bola yang tergeletak di tepi lapangan, berguling pelan tertiup angin.
Tanpa pikir panjang, Arka berjalan menuju lapangan. Ia meletakkan ranselnya di bangku kayu yang menghadap ke ring, lalu mengambil bola itu, menggenggamnya erat seolah menemukan kembali bagian dari dirinya yang sempat hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Ficção AdolescenteArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
