Keesokan paginya, Arka terbangun dengan perasaan yang asing-kepala berat, seperti diisi kapas basah, dan mata terasa panas, perih saat dibuka. Ia mengerjap beberapa kali, berharap rasa itu cuma sisa kantuk. Tapi harapan itu cepat runtuh begitu ia menggeser tubuhnya sedikit saja.
Dadanya terasa hangat berlebihan. Tenggorokannya kering. Dan kepalanya berdenyut pelan, tapi konsisten, seolah ada alarm kecil yang lupa dimatikan.
Ia duduk di tepi ranjang, menyandarkan siku ke lutut, menunduk beberapa detik sambil menarik napas dalam-dalam. Udara pagi terasa dingin di kulitnya, kontras dengan panas yang merambat dari dalam tubuh.
Demam. Tanpa perlu dicek pakai termometer pun, ia sudah tahu.
Semalam ia pulang terlalu larut.
Tengah malam, tepatnya.
Saat rumah sudah tenggelam dalam sunyi, ketika suara napas orang-orang di kamar masing-masing lebih terdengar daripada bunyi langkah kaki. Arka masuk tanpa menyalakan lampu utama, hanya cahaya redup dari dapur yang menemani langkahnya. Jaketnya basah setengah kering, rambutnya masih lembap, dan tubuhnya menyimpan sisa dingin hujan yang belum sepenuhnya pergi.
Ia tidak ingin membangunkan siapa pun.
Dan pagi ini, semua itu kembali menghantamnya dalam bentuk yang lebih fisik.
Arka berdiri dan melangkah ke arah meja kecil di sudut kamar. Di atasnya, ada kaca bening-bukan cermin khusus, hanya pantulan dari permukaan yang cukup bersih untuk menampakkan wajahnya sendiri.
Ia berhenti di sana.
Berantakan.
Bawah matanya diapit lingkaran hitam yang jelas. Sorot matanya sayu, redup dengan cara yang tidak biasa. Bibir tipisnya tampak pucat, kering, dan alis tebalnya sedikit mengerut, entah karena sakit kepala atau karena kesal pada diri sendiri.
Arka menatap pantulan itu lama.
"Kayak zombie," katanya datar.
Ia mengangkat bahu kecil, lalu mengalihkan pandangan. Tidak ada rasa iba pada diri sendiri. Tidak ada niat untuk drama. Tubuhnya memang tidak enak, tapi itu bukan alasan-setidaknya bukan buat Arka.
Ia tetap akan berangkat sekolah.
Seperti biasa.
Mandi dengan air yang terasa terlalu dingin, mengenakan seragam dengan gerakan yang sedikit lebih lambat dari biasanya, lalu mengikat tali sepatu sambil menahan rasa pening yang datang dan pergi. Setiap gerakan terasa berat, tapi masih bisa ditoleransi. Masih bisa dipaksa.
Arka berdiri sebentar sebelum keluar kamar, menempelkan punggung ke pintu, memejamkan mata sesaat. Napasnya teratur, meski terasa panas di paru-paru.
"Cuma demam," gumamnya. "Belum sekarat."
Sudut bibirnya terangkat samar. Bukan senyum, lebih seperti kebiasaan lama-cara Arka menertawakan keadaan tanpa benar-benar merasa lucu.
Ia akan tetap berangkat sekolah hari ini.
Seperti biasa.
Mungkin tidak bersama mereka.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya, keputusan itu tidak terasa ringan. Ada sunyi yang tertinggal di dadanya-lebih berat, lebih nyata-seolah langkah yang akan ia ambil nanti tidak hanya menjauhi kamar itu, tapi juga sesuatu yang selama ini selalu berjalan di sisinya.
.
.
Jam pelajaran pertama baru saja selesai ketika Chandra bergegas menuju ruang OSIS. Di tangannya, notifikasi pesan dari Arsha, Amara, dan Reska memenuhi layar ponselnya-semuanya berkaitan dengan rapat mendadak. Ia melangkah cepat, merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari isi pesan yang singkat tapi padat itu:
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Fiksi RemajaArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
