Bel istirahat berdentang lantang. Suara kursi berderit, sepatu beradu dengan lantai, dan percakapan riuh seketika memenuhi koridor sekolah. Seperti air yang mengalir bebas setelah ditahan lama, para siswa menyebar ke berbagai penjuru sekolah—menuju kantin, taman, dan sebagian besar ke lapangan.
Di antara gelombang murid itu, Arka berjalan santai ke arah lapangan basket. Matahari menggantung ringan di atas kepala, sinarnya menyilaukan tapi tidak terlalu panas. Angin semilir menyapu peluh yang mulai terbentuk di dahi.
Chandra, seperti biasa, tidak bersama mereka. Di kepala Arka, itu bukan lagi hal yang aneh. Temannya itu selalu sibuk dengan tumpukan agenda OSIS yang tak kunjung habis. Dan Arka pun tidak pernah meminta lebih—karena ia tahu, jika dibutuhkan, Chandra akan datang. Selalu.
Begitu Arka melangkah ke sisi lapangan, suara sorakan dan tepukan tangan langsung menyambutnya.
“Woy! Kapten datang!” Seru Rio paling semangat.
Gillbert membalikkan badannya dengan mata berbinar. “Kapten! Lama banget, ditungguin ini!”
"Latihan-latihan!” Sorak Darren yang sudah siap dengan bola basket di tangannya.
“Lo gak ikut latihan bareng minggu kemaren, jangan nyesel kalo kita udah pada jago sekarang!” Niko menunjuk dirinya sendiri dengan raut bangga.
Sandi menatap remeh Niko yang tampak besar kepala. "Yeu, dia mah gak latihan juga udah jago dari orok!"
"Sebelum lahir juga otak dia udah di reset buat jadi kapten-nya kita sekarang!" Balas Harsa tak mau kalah.
Suara-suara itu disertai tawa dan lemparan bola ke udara. Anak-anak tim basket dan beberapa murid yang biasa menonton latihan langsung berdiri menyambut. Arka membalas sapaan mereka dengan senyuman santai yang seperti biasa, menyembunyikan terlalu banyak hal.
Namun langkahnya terhenti sejenak.
Ia menepuk saku celananya—dan menyadari ia tidak membawa pakaian basket. Biasanya ia menyimpannya di rumah. Tapi semalam ia bahkan tidak pulang.
Belum sempat ia berkata apa-apa, Chandra yang tiba-tiba berdiri di sampingnya menyodorkan kaos dan celana pendek biru.
“Nih,” Chandra menyerahkan sepasang kaos itu.
“Cadangan baju buat lo selalu ada di loker. Lo pikir gue gak hafal, Ar?”
Arka sempat terdiam. Tangannya menerima pakaian itu, dan matanya sempat bertemu dengan Chandra yang tak menunjukkan tanda ingin tahu lebih lanjut. "Thanks, Chan."
Sandi ikut tertawa sambil memantul-mantulkan bola basket. “Ayo lah, Ar! Pak ketua aja sampe rela cabut dari ruang OSIS buat bawain lo seragam cadangan. Masa lo sendiri ogah-ogahan? Buruan ganti sana!”
Arka tertawa kecil. “Iya,iya. Bentar.”
Ia berjalan ke sisi lapangan tempat ruang ganti sementara berada, menenteng pakaian yang dibawa Chandra.
Langkah Arka menyusuri koridor sekolah terasa lambat, namun tetap tenang. Jemarinya memainkan lipatan di kerah jersey biru elektrik yang baru saja diberikan Harsa. Warna cerahnya kontras sekali dengan suasana hati Arka yang kelabu—entah kenapa, benda itu justru menarik seluruh fokusnya.
Langkahnya bergema pelan, lorong lengang karena jam pelajaran istirahat semua siswa sibuk dengan urusan mereka masing-masing di luar kelas. Namun, begitu melewati tikungan menuju kamar mandi, ia dihentikan oleh pemandangan yang tak biasa.
Seorang gadis tengah berlutut di lantai, rambutnya sedikit berantakan, dan sekelilingnya dipenuhi lembaran kertas yang tercecer. Sepertinya itu berkas dari ruang OSIS. Beberapa di antaranya bahkan sudah hampir tertiup angin karena kipas lorong yang terus berputar malas dari atas plafon.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
