Minggu pagi datang dengan ketenangan yang langka. Matahari menggantung malas di langit biru pucat, mengintip dari balik awan tipis yang seperti kapas. Di sudut taman kota yang belum ramai, empat anak muda duduk mengelilingi bangku kayu panjang yang sudah mulai rapuh dimakan waktu.
Arka menyandarkan tubuhnya di ujung bangku. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala pelan, asapnya melayang lambat-lambat, seolah enggan meninggalkan udara pagi yang segar. Ia tampak seperti seseorang yang hadir secara fisik, tapi jiwanya masih melayang. Sesekali ia mengangguk atau menggumam, hanya untuk memberi kesan bahwa ia mendengarkan.
Di sebelahnya, Chandra-si perfeksionis yang tak pernah lepas dari tugasnya-sedang menunduk serius menatap laptop yang ia bawa kemana-mana. Jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, mengetik laporan mingguan yang entah kenapa harus selesai pagi itu juga.
Sementara itu, Sandi dan Harsa duduk berseberangan, seperti dua komentator acara olahraga yang tidak pernah sepakat tentang apapun.
"Ini olahraga pertama gue setelah sekian lamanya,” keluh Sandi sambil mengencangkan tali sepatu. "Gak yakin sih kalo tenaga gue masih sama kayak dulu."
Harsa menyahut, “Ibarat kata pepatah. Umur remaja, jiwa balita, badan lansia!”
Chandra menutup laptopnya dan menghela napas. “Energi kalian itu abis buat hal yang random .”
Sandi tertawa. “Wah, jangan salah lo, pak Ketua! Gini-gini kita tuh rajin pas pemanasan sebelum latihan basket."
Arka menoleh pelan. "Tapi gerakan lo ngaco."
Semua tertawa, bahkan Sandi menyengir dengan wajah tanpa rasa bersalah. Setelah tawa karena kekonyolan kecil, kini mulai berganti dengan desir angin pagi yang tenang.
Arka berdiri lebih dulu, mengambil sikap tegap dengan gerakan santai. "Kita mulai sekarang. Ntar keburu siang.”
Tanpa banyak kata, ia meraih botol minumnya, menyesap sedikit, lalu menatap lapangan kota yang mulai ramai dengan orang-orang yang berjalan santai, bersepeda, atau jogging.
Chandra yang masih duduk langsung menatapnya, sedikit terkejut tapi lalu mengangguk pelan. Ia ikut berdiri, merenggangkan tubuhnya. "Akhirnya, ini yang gue tunggu dari tadi."
Sandi dan Harsa yang semula masih tergelak di bangku, menoleh dengan ekspresi malas-malasan.
"Lari beneran nih?" tanya Sandi dengan alis terangkat.
"Cuman lari santai, gak perlu sambil salto," jawab Arka tanpa menoleh.
Chandra mengencangkan jam tangannya. “Target berapa putaran?”
“Sepuluh,” jawab Arka cepat.
Sandi dan Harsa saling pandang. Harsa spontan bertanya, “Sepuluh kali? Lo niat jogging atau ronda pemukiman, Ar?”
"Kita gak bawa tandu darurat kalo tiba-tiba gue pingsan tengah jalur entar." Sandi menundukkan kepalanya dengan gerakan malas.
“Belum mulai juga udah banyak ngeluh,” tambah Arka, masih dengan suara datar.
Sandi langsung pura-pura meringis. “Gue nih manusia koperatif, mikirin konsekuensi sebelum bertindak!"
"Kita gak lagi di ajang balapan, San. Gak perlu sejauh itu mikirnya." Chandra menggeleng kecil, Sandi terlalu berlebihan pikirnya.
Namun tetap saja, mereka mulai berjalan ke pinggir lintasan. Arka mengambil posisi paling depan. Chandra di sampingnya, lalu diikuti Sandi dan Harsa yang sudah tampak pasrah.
Arka berada paling depan, tubuhnya tegap meski hanya memakai hoodie hitam dan celana Eiger abu. Headband putihnya terlihat sedikit basah karena keringat, tapi ekspresinya fokus. Di sebelahnya, Chandra tampak tenang. Cargo coklat dan kaos putihnya kini terlihat sedikit kotor karena berguling di rumput, tapi wajahnya sudah kembali serius seperti biasanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
