41

6 1 0
                                        

Keesokan harinya, suasana sekolah kembali berjalan seperti biasanya. Riuh rendah suara siswa memenuhi setiap sudut gedung, bercampur dengan tawa ringan dan obrolan yang tak pernah benar-benar habis. Jam istirahat menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh hampir semua murid. Namun hari ini terasa sedikit berbeda—lebih panjang, lebih lengang, dan sekaligus lebih bebas.

Jam pelajaran setelah istirahat sengaja dikosongkan. Para guru tengah mengikuti rapat penting yang membahas rencana ujian tengah semester serta persiapan ujian nasional untuk murid kelas tiga. Bagi siswa, itu berarti satu hal sederhana: waktu luang ekstra yang jarang mereka dapatkan.

Di ruang OSIS, suasana sama sekali tidak santai. Beberapa meja disusun rapat, map dan kertas tersebar, serta papan tulis yang sudah dipenuhi coretan rencana. Anak-anak OSIS tengah mengadakan rapat besar untuk festival sekolah yang akan digelar sebelum masa ujian tiba.

Chandra dan Arsha memimpin rapat dengan serius, bergantian menyampaikan arahan dan memastikan semua divisi berjalan sesuai rencana. Amara berdiri di depan, suaranya lembut namun jelas saat mulai menjelaskan hasil kontribusi dari para guru dan pihak luar yang akan ikut andil dalam festival nanti. Reska duduk tak jauh dari sana, sibuk mencatat dan mengumpulkan data hasil kesepakatan bersama, sesekali mengangguk kecil memastikan tak ada yang terlewat.

Sementara itu, di tengah lapangan sekolah, suasana jauh lebih hidup.

Seperti kebiasaan yang tak pernah berubah, anak-anak basket kembali menguasai lapangan kesayangan mereka. Dentuman bola yang memantul ke lantai berpadu dengan teriakan kecil dan sorakan ringan. Teman-teman sekelas yang tidak ikut bermain memilih duduk di tribun, menonton sambil memberi semangat, beberapa bahkan berteriak berlebihan hanya demi seru-seruan.

Tim Arka hari itu mengenakan jersey hitam dengan campuran garis biru elektrik di sisi bahu—warna yang langsung mencolok di bawah sinar matahari.
Sandi dengan nomor punggung 11.Harsa 26. Farel 03.  Gillbert 34. Rio 55. Niko 17. Darren 16.

Dan Arka—tidak memiliki nomor punggung sama sekali. Di punggung jersey-nya hanya tertera satu nama: Arka.

Di dalam area lapangan, yang bermain saat ini adalah Arka, Sandi, Harsa, Farel, dan Gillbert. Lawan mereka mengenakan jersey putih dengan campuran garis merah cerah, kontras namun sama-sama mencolok.

Permainan berlangsung rapi. Gerakan mereka terlatih, solid, dan santai. Tidak ada tatapan intimidatif, tidak ada aura permusuhan seolah menghadapi lawan berbahaya. Semuanya berjalan seperti pertandingan biasa—kompetitif, tapi tetap sportif.

Saat permainan selesai, kedua tim saling berjotos ringan dan saling memberi semangat, disertai senyum kecil dan tepukan di bahu. Namun di sela momen itu, Arka tak sengaja mengalihkan pandangannya ke arah jembatan penghubung gedung kelas.

Rago berdiri di sana.

Bersandar pada besi pembatas, kedua tangannya bertumpu dengan santai. Mata tajamnya menatap lurus ke lapangan, tanpa ekspresi yang jelas. Tatapan itu dingin, menusuk, dan terlalu fokus untuk sekadar menonton.

Arka menyipitkan matanya, melawan arah matahari yang tepat mengarah ke wajahnya. Bola matanya berkilat, bukan karena cahaya, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih tajam. Rago menyadari tatapan itu. Ia berdecak kecil, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Namun Arka tak mengalihkan pandangannya. Tatapan itu bertahan—diam, tegas, seolah sebuah perintah yang tak perlu diucapkan.

Rago mengumpat kecil. Dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, ia turun dari jembatan dan berjalan menuju tengah lapangan. Membelah beberapa pemain yang kini menatapnya dengan waspada dan kebingungan.

Rago berhenti tepat di depan Arka. Ia mengangkat dagu sedikit, menantang. “Gue lagi gak mood ribut,” katanya dingin. “Tapi tatapan lo tadi bikin gue muak.”

TAK BERHARGA, TAPI SAMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang