Suasana di dalam bangunan tua bergaya klasik itu mendadak riuh seperti pasar pagi. Langkah kaki terdengar menghentak-hentak di lantai kayu yang sudah menua. Udara dingin pagi belum sempat disambut dengan teh hangat, karena tiga lelaki yang tinggal di dalam rumah itu baru saja terbangun-terlambat nyaris tiga puluh menit dari waktu seharusnya.
"Mampus, udah jam segini!"
teriak Sandi sambil melompat dua anak tangga sekaligus, sebelah tangan sibuk mengancingkan bajunya, sebelah lagi memegang sisir seadanya. Nafasnya terengah, rambutnya berdiri ke segala arah.
Di belakangnya, Harsa berlari-lari kecil dengan wajah masih separuh mengantuk. Ia berjalan sambil satu kaki berdiri, kaki satunya sibuk dimasukkan ke dalam kaos kaki.
"Siapa sih yang matiin alarm?! Harusnya tadi tuh bunyi jam 7!"
"Yang matiin alarm juga lo sendiri, ege!" sahut Sandi sendiri kesal, hampir tersungkur karena kehilangan keseimbangan. "Harusnya kita telat cuman 10 menit."
Arka, yang menjadi paling tenang di antara mereka, melangkah cepat tapi tidak panik. Ia mengenakan jaket hitam yang belum sepenuhnya tertutup resleting. Rambutnya sudah rapi, hanya saja ekspresi wajahnya menunjukkan ia tidak menyukai terburu-buru. Tatapannya datar seperti biasa, tapi langkahnya mantap.
"Kalo kalian ribut, malah tambah lama," ucap Arka tegas sambil menuruni tangga terakhir.
Sandi menoleh dengan napas ngos-ngosan. "Ya maaf, tuan muda Dmitriev. Kami rakyat jelata yang hidupnya selalu panikan."
Arka menoleh sekilas dengan ekspresi datar. "Rakyat jelata gak sempat ngelawak kalo lagi mepet gini."
Terdengar suara Harsa mengaduh karena lututnya membentur pegangan tangga. "Argh! Setan emang! Ini kaki siapa sih yang naro sepatu di sini?!"
"Buka mata batin lo! Itu kaki lo sendiri, kocak!" Sandi nyengir sambil melemparkan botol parfum ke arah Harsa yang tergeletak setengah jatuh.
"Buruan, hukuman kita bisa lebih berat dari biasanya."
"Gue rasa ini upacara juga udah selesai, Ar!"
"Makanya diem, jangan bacot lagi."
Arka mendengus malas, dan mereka bertiga berlari melesat keluar pintu dengan segala kekacauan yang belum sepenuhnya beres. Udara pagi menyambut mereka dengan dingin tajam yang membangunkan sepenuhnya. Tapi tidak ada waktu untuk mengeluh.
Di perjalanan yang sudah setengah siang itu, langit mendung masih menggantung rendah, seolah ikut menatap malas pada hari yang berjalan terlalu cepat. Jalanan licin bekas hujan semalam menjadi tantangan tersendiri bagi para pengendara.
Motor Sandi melaju paling depan, melesat tanpa ampun seperti tidak peduli aspal licin atau lubang di jalan. Helm-nya miring, syal lusuh berkibar di lehernya seperti bendera perang.
"Minggir woy! Orang ganteng lewat!" teriaknya seenaknya ke arah pengendara lain yang membuatnya kesal.
Tak lama kemudian-
"Mampos, licin!"
Brak!
Ban motornya selip sebentar di tikungan. Sandi hampir saja mencium trotoar kalau saja instingnya tidak sigap menarik setang dan menyeimbangkan badan. Tapi tentu, pemandangan itu sukses membuat Harsa tertawa sambil tetap menguap.
"KIRI WOY! MINGGIR! URUSAN HIDUP MATI NIH!" teriak Harsa, membuat pejalan kaki di trotoar refleks menoleh dengan tatapan bingung.
Sementara itu, Arka berada sedikit di belakang mereka. Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi tapi tetap terkontrol. Wajahnya tenang, tatapannya lurus ke depan. Helm full-face-nya membuat ekspresinya nyaris tak terlihat, tapi dari caranya menghindari lubang dan menyelip kendaraan, jelas bahwa lelaki itu tidak sedang main-main. Ia tahu mereka terlambat. Sangat terlambat. Ini sejarah baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Novela JuvenilArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
