Taliya dan Telma

1.4K 197 28
                                        

"Hedia mana, ya, Li."

Julio mengedikan bahunya. Lelaki itu sedang fokus membaca buku dan mengunyah buah yang disuguhkan Taliya. "Sabar aja. Habis dari empat tetangga capek kali. Apalagi tadi kayanya habis dari rumah Bu Muna. Habis, sehabis-habisnya itu energi mereka," timpal Julio dengan santai. 

"Daripada nungguin Hedia dan Marga, mending tanyain adek kamu udah di rumah atau masih di rumah sakit," lanjut Julio yang cukup membuat Taliya panik. 

Benar juga. Taliya belum menanyai kabar adiknya yang belakangan ini mengeluh kelelahan. Nanti saat Hedia dan Marga sudah datang ke rumah, Taliya ingin bertanya tentang hal berbau kedokteran dengan Marga. Ia ingin mengerti tentang adiknya. Kasihan Soleil terlihat sangat lelah dan kurang istirahat. 

Suara bel yang menggema di seluruh penjuru rumah membuat Taliya bersemangat. "Udahan dulu bacanya, Li. Hedia dan Marga pasti udah di depan." Taliya segera berjalan menuju pintu depan rumah. Bersiap menyambut tamunya. Julio sendiri masih santai mengunyah buahnya. Membiarkan istrinya menyambut tamu lebih dulu. 

"Hai! Ayo, ayo, masuk," sapa Taliya dengan semangat dan ceria saat mendapati Hedia dan Marga berada di depan rumah.

Marga dan Hedia pun tersenyum. Keduanya melangkah ke dalam rumah saat Taliya sudah menyilahkan mereka untuk masuk. 

"Duduk dulu. Aku mau nyiapin minum buat kalian. Nanti Julio dateng ke sini," ujar Taliya yang kemudian kembali masuk ke dalam rumah. 

Marga dan Hedia hanya terdiam. Pergerakan Taliya sangat cepat hingga keduanya hanya bisa mengangguk untuk menyetujui. Sesuai perkataan Taliya, Julio pun datang menghampiri ruang tamu. Marga dan Hedia pun berdiri untuk menyapa dan bersalaman dengan Julio. 

"Duduk aja. Santai aja sama saya dan istri," ujar Julio yang kemudian mendudukan dirinya di hadapan Marga dan Hedia, di sofa panjang. 

Mereka bertiga kemudian memulai percakapan singkat. Hanya sekedar bertanya soal apa yang dilakukan untuk melanjutkan hidup dan lain-lain. Obrolan masih singkat, dan Taliya datang dengan nampan di tangannya. Ada dua piring cheesecake tersaji di atas meja dan dua gelas teh hangat. 

"Ini cheesecake aku pake resep dari Mbak Kanaya. Nanti kalian jangan bandingin kue buatan aku sama Mbak Kanaya, ya," ujar Taliya dengan jenaka. Ia kemudian mendudukan dirinya di sebelah sang suami. 

"Mbak sama Mbak Winnie belajar bikin kue bareng Mbak Kanaya?" tanya Hedia dengan penasaran.

"Oh, Mbak Winnie nyuguhin kamu cheesecake juga?" Mata Taliya membulat terkejut. Hedia pun menganggukan kepalanya. 

"Kadang hari Minggu tuh Mbak Kanaya suka ngajakin bikin masakan bareng. Nanti dia ajarin kami masak deh. Nah, kemaren tuh Mbak Kanaya ngajakin bikin cheesecake. Yaudah aku dateng aja."

Hedia menganggukan kepalanya mengerti. "Nanti ajak aku dong, Mbak."

"Mbak Kanaya bakal dateng sendiri, nyamperin tetangga satu-satu sekalian dia kasih kue resep baru atau dia lagi iseng bikin kue. Tetanggaan sama Mbak Kanaya enak deh. Malah gak ribet lagi orangnya," balas Taliya. 

"Kita pindah ke dalem aja, yuk. Biar suami ngobrol sendiri aja," lanjut Taliya yang kemudian berdiri dari duduknya. Tidak lupa membawakan piring kue dan gelas teh milik Hedia.

Hedia pun menyetujui hal tersebut. Ia merasa sangat nyaman untuk berbincang dengan Taliya. Keduanya kini duduk di ruang bersantai yang terletak di belakang rumah Taliya. 

"Mbak Kanaya tuh orangnya loyal banget. Jangan sampe deh musuhan sama dia." Taliya meletakan gelas teh dan piring kue milik Hedia di meja rendah di hadapan mereka. Ia kemudian mendudukan dirinya di sebelah Hedia.

Desperate Housewives  ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang