Setibanya di hotel, Bayu langsung mengirimkan pesan teks kepada Mami Kanaya, tetapi tidak ada balasan, ia memutuskan untuk melakukan panggilan telepon. Namun tiba-tiba panggilan Bayu tertolak. Tidak lama kemudian, ternyata Mami Kanaya lantas mengundangnya untuk bergabung dalam panggilan video call.
Bayu yang tengah bahagia, sama sekali tidak merasa terbebani. Tanpa menunggu lama, ia lantas menerima panggilan tersebut. Bayu mengulas senyum simpul, ketika wajah Ibundanya pun telah muncul di layar. Belum sempat Bayu menyapa, suara Mami Kanaya terdengar tidak sabar dan sangat bersemangat.
"Halo, Calon mantu Mami! Gimana? Berhasil, 'kan?" Kirana langsung menodong.
Bayu tersenyum semakin lebar. "Iya, Mami. Ternyata Kanaya masih mau sama saya."
"Akhirnya!" Mami Kanaya terpekik sempurna.
"Bayu ... Ibu senang, anak ibu sebentar menikah...." Arini berseru tak kalah heboh, hingga menghela napas penuh kelegaan. Kedua matanya yang berbinar tampak sudah berkaca-kaca. "Ibu nunggu kabar daritadi sampai kepikiran, takutnya Kanaya belum mau."
"Takut kena tolak lagi, ya, Bu." Bayu pun tidak percaya, Kanaya telah menerima lamarannya.
"Padahal kalau takut, kamu pasti lebih takut," ucap Arini sedikit bergetar masih merasakan keharuan, padahal semua beban pikirannya sudah menghilang.
"Mbak Arini, Nak Bayu sudah jadi paket komplit, masa iya Kanaya sanggup untuk nolak." Kirana terkekeh pelan setelah memuji Bayu-calon menantunya-terang-terangan.
Bayu tertawa pelan menanggapi, meski pandangannya masih menerawang, tetapi senyuman seakan tidak bisa lepas dari wajah. Lagi-lagi, Bayu meloloskan napasnya begitu panjang, setelah beberapa kali mengalami penolakan saat bersama dengan yang sebelumnya, kali ini bagaikan setengah bermimpi ajakan Bayu langsung diterima tanpa ada penolakan sama sekali dari Kanaya. One shot.
"Rasanya Ibu lega sekali tahu kabar ini," ulang Arini masih berkaca-kaca.
"Iya, maaf, Bu. Bayu bingung juga daritadi Kanaya masih nangis. Tapi sekarang kayaknya udah berhenti." Bayu mengalihkan pandangannya, Kanaya mungkin tengah mengganti pakaian di ruang kamar.
Mami Kirana justru tertawa lepas, terlihat seperti tengah membayangkan.
"Sekarang anak ibu yang cantik ke mana? Kok nggak gabung sama kamu?" tanya Arini sesekali mengusap air matanya yang telah menitik.
"Kanaya lagi siap-siap mau retouch makeup. Nanti setelah ini ada acara after party," jelas Bayu agak terkejut melihat Ibunya yang menangis. "Udah, ya, Ibu jangan nangis, anaknya yang ganteng 'kan udah berhasil," lanjut Bayu mencoba menenangkan Ibunya. Namun, bagaimanapun Bayu paham betul perasaan Ibu saat menantikan momen ini.
"Terus kamu bilang apa aja kok Kanaya bisa sampai nangis?" Ternyata Arini masih penasaran.
"Itu dia pasti senang banget, makanya nangis," jawab Kirana lebih dulu.
Bayu terkekeh seketika teringat kembali Kanaya tengah menangis tadi. "Iya, mungkin terharu. Atau bisa karena matanya memang perih kena angin sore, Mam."
"Nak Bayu bisa aja." Kirana tertawa pelan. "Bulan depan jadi, ya?" sambungnya kembali bertanya sekaligus menyakinkan.
Tidak ada keraguan, Bayu langsung mengangguk mantap. "Iya, Mami. Jadi. Mau kapan lagi, udah nggak punya waktu luang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Falling for You
RomancePeringatan! Cerita ini mengandung unsur dewasa, Pembaca diharap bijak. "Makanya jangan kebanyakan ngobrol! Apalagi sampai nginap. Sarapan bareng juga nggak boleh. Semua bukan tanpa alasan, nanti takutnya jadi sayang." Kenyataannya, Kanaya mengabai...
