Pandangan Karen beberapa kali menangkap Bayu tengah berbincang dengan seorang wanita, yang sempat diperkenalkan sebagai istri dari Pak Galang—Bos Besarnya. Mereka tidak jauh dari posisi tempat Karen berada. Siang kali ini suasana gedung kantor di lantai teratas sudah dipadati oleh seluruh Staf dari berbagai departemen. Banyak pula yang terlihat langsung pergi meninggalkan lantai ini, setelah menikmati hidangan makan siang yang tersaji. Meski begitu, seakan tidak mengurangi minat orang‐orang dalam mengantre souvenir, juga menikmati suguhan kudapan ataupun snack dari kantor mitra bisnis yang tengah merayakan hari bakti.
"Gue ikut gabung, ya!"
Suara Damar lantas mengalihkan fokus Karen sepenuhnya. Ia dan Inggrid yang sejak awal sudah menempati meja di dekat pintu masuk, akhirnya menyetujui sharing table bersama Damar yang baru saja tiba.
"Kalau ada Kanaya gabung di sini bisa ramai lagi, nih," celetuk Inggrid tiba-tiba kepada Karen.
"Tuh anak senang kayaknya di Bogor. Nggak ada kabar mau balik kapan," balas Karen merasa kesepian, tampak tidak terlalu bersemangat seperti kehilangan belahan jiwa. Nyatanya, Kanaya memang belum sampai di kantor, lantaran masih harus menyelesaikan dinas luarnya. Energi Karen pun seakan tersisa setelah kemarin berhasil dibuat cemas dan senang dalam waktu bersamaan.
"Tadi dia chat gue. Izin sebentar mau balikin koper dulu ke apartemen," sambar Damar yang sedang menikmati makanannya.
"Gue kira Kanaya ikutan cuti juga kayak Diandra," Inggrid menyahut bercanda. Tak sia-sia ia memilih mengikuti Karen, setelah memutuskan untuk memisahkan diri dari rekan lantainya. Sengaja untuk menggali informasi lebih mengenai kejadian kemarin siang yang berhasil membuat gempar kantor.
"Masih ramai aja," sahut Damar terkekeh pelan.
"Di Whatsapp banyak banget yang mendadak sok kenal, tanya-tanya Kanaya," cetus Karen mendengkus sebal, sampai saat ini ia terus-menerus mendapat pesan, namun tak ada satupun yang ia balas.
"Jujur, gue masih nggak nyangka. Diandra sama Kanaya yang biasanya ngobrol bareng kita bisa ribut kayak begitu." Inggrid menyuarakan isi hatinya.
"Lo makin nggak percaya kalau lihat sendiri Pak Bayu sampai pasang badan buat Kanaya." Tidak biasanya Damar begitu sabar menimpali hal seperti ini. Ia bahkan berdecak kagum saat pandangannya menerawang kepada pria yang tengah mereka bahas.
Karen menghela napas panjang, lalu berdecak kecil. "Gue lebih nggak tega lihat struggle Kanaya kemarin. Gila deh, Mas, masa Kanaya dikira flirting juga sama Pak Wisnu."
Damar mendengkus, kemudian menggeleng tak habis pikir.
"Terus, reaksi Pak Bayu setelah lo ngadu gimana, Ren?" tanya Inggrid begitu penasaran.
"Lari-lari panik," jawab Karen sambil tertawa pelan mengingat kejadian tersebut begitu lucu, lantaran sudah tidak lagi ada ketegangan. Bahkan Bayu sepertinya gagal untuk makan siang. Pria itu langsung kembali naik ke lantai tujuh ketika Karen memberitahu jika Kanaya dan Diandra tengah berseteru. "Lo ikut panik nggak, Mas?" lanjutnya meledek Damar.
"Panik kenapa? Kanaya keren banget kemarin," puji Damar penuh kekaguman.
"Keren apa keren?" timpal Inggrid ikut meledek.
"Seksi, sih." Damar menyeringai.
"Bulan depan udah siap dimutasi, ya, Mas?" Karen semakin puas meledeknya.
Setelah Inggrid tergelak, Damar pun hanya bisa tertawa. Sebelum akhirnya, mengumpati Karen pelan.
"Kemarin nggak lama setelah gue dapat kabar Kanaya sama Diandra ribut, Pak Bayu sempat marah-marah sama Bu Sita, lho," ungkap Inggrid mengecilkan suaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Falling for You
RomansaPeringatan! Cerita ini mengandung unsur dewasa, Pembaca diharap bijak. "Makanya jangan kebanyakan ngobrol! Apalagi sampai nginap. Sarapan bareng juga nggak boleh. Semua bukan tanpa alasan, nanti takutnya jadi sayang." Kenyataannya, Kanaya mengabai...
