Rihany duduk berhadapan dengan Bunga. Perempuan itu tidak ingin menunggu lagi, dia ingin tahu masalah yang sebenarnya Rihany sedang hadapi. Begitu dia pulang kerja tadi, dia langsung mengetuk pintu kamar kos Rihany. Dia mencecar perempuan itu dengan banyak pertanyaan. Pada akhirnya Rihany memilih untuk menceritakan semuanya pada Bunga.
"Jadi kamu sudah ..." Bunga memperagakan gerakan membentuk huruf 'o' di depan perutnya. Rihany mengangguk.
"Aku tidak tahu kalau mengajak kamu ke club akan membuat masalah sebesar ini. Maaf, Ri, aku menyesal. Sungguh." Bunga merasa kalau dia berperan penting dalam hal ini. Kalau saja dia tidak mengajak Rihany ke club beberapa minggu yang lalu, Rihany tidak akan mendapat masalah besar seperti ini.
"Bukan salah kamu, Bunga. Aku yang seharusnya bisa menjaga diri." Kesalahan memang berada pada Rihany. Sejak awal dia yang mulai duluan menggoda Aaron. Akan tetapi Rihany tidak merasa menyesal atas apa yang terjadi padanya. Terlebih setelah dia bertemu dengan Bianca, mamanya Aaron.
"Bagaimana dengan pria itu? Siapa tadi namanya?"
"Aaron, dia mau bertanggung jawab. Kami akan menikah."
"Kamu yakin mau menikah dengan pria itu? Maksudku, kamu 'kan belum mengenal pria itu dengan baik. Kita juga tidak tahu dia orang seperti apa." Bunga bukannya tidak mendukung Rihany, dia hanya tidak mau Rihany terjebak dengan orang yang salah karena kehamilannya. Bunga bersedia membantu Rihany membesarkan anaknya. Dia berjanji akan menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri nantinya.
"Aku sudah bertemu dengan keluarganya. Mereka semua baik, dan mau menerimaku." Rihany tersenyum membayangkan wajah Bianca.
"Serius?" Rihany mengangguk lagi.
"Kakeknya bernama Lukas Harisson sementara ayahnya bernam Alex- kamu baik-baik saja?" Rihany tidak melanjutkan penjelasannya karena Bunga batuk-batuk hebat. Dia membantu menepuk-nepuk pelan punggung teman baiknya itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rihany lagi. Bunga tidak batuk lagi, sekarang perempuan itu sedang minum untuk melegakan tenggorokannya. Bunga menarik napas lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia melakukannya sebanyak tiga kali.
"Kamu tadi bilang Lukas Harisson?" Rihany mengangguk santai.
"Wow!" seru Bunga sembari bertepuk tangan heboh. Dia tidak menyangka kalau Rihany akan bernasib baik bertemu dengan keluarga yang sangat terpandang di negeri ini. Untuk memastikan kalau dia maupun Rihany tidak salah orang, Bunga menunjukkan foto pria itu yang dia dapat dari internet. Rihany kembali mengangguk membenarkan kalau orang itu adalah orang yang dia temui kemarin.
"Kalau begitu segeralah menikah dengan pria itu. Kamu tidak boleh melepaskan dia dari tanganmu!" katanya bersemangat. Dia lebih bersemangat daripada Rihany sendiri. Setidaknya Rihany mendapatkan pria kaya, hidupnya akan terjamin meskipun Rihany tidak bekerja.
"Aku belum membicarakannya lagi dengan Aaron." Selama ini Rihany sendirilah yang selalu menghindari pembicaraan mengenai pernikahan.
"Kamu beruntung bangat, Ri menjadi calon menantu orang kaya. Keluarga Harisson merupakan salah satu dari sepuluh keluarga terkaya di negri ini," kata Bunga bangga.
"Mereka sekaya itu, iya?" tanya Rihany. Dia tidak pernah sengaja mencari tahu siapa saja orang-orang kaya di negara yang dia tinggali ini. Bagi Rihany, dia menjalani hidupnya dengan baik itu sudah cukup. Siapa yang mengira kalau dia akan bersinggungan dengan Aaron yang dia pikir seorang pria bayaran untuk bersenang-senang.
"Kamu tidak tahu?" Rihany menggeleng. Bunga menjelaskan dengan semangat dari mana saja sumber kekayaan keluarga Harisson. Bunga menjelaskan dengan rinci tidak satu pun yang terlewat.
"Itu yang tercatat di internet," kata Bunga mengakhiri penjelasannya.
"Wow!" Rihany tidak takjub dengan kekayaan yang dimiliki Aaron. Dia takjub pada sahabatnya yang hapal semuanya.
"Kehidupan kamu sudah terjamin kalau menikah dengan Aaron. Sudah bisa dipastikan kalau harta mereka tidak akan habis tujuh turunan, delapan tanjakan dan sembilan tikungan."
"Aku kurang percaya diri. Maksud aku, mereka sangat kaya sementara aku hanya seorang perempuan yang baru saja kehilangan pekerjaan." Rihany merasa tidak pantas bersandar dengan Aaron.
"No! kamu pantas bersanding dengan Aaron. Kamu baik, tulus dan juga cantik. Tidak perlu merasa tidak pantas. Yang terpenting kamu tidak memiliki catatan kriminal," kata Bunga meyakinkan Rihany.
Rihany tersenyum kecil mendengar perkataan Bunga. Perasaannya jauh lebih baik setelah bercerita pada Bunga.
***
Aaron memberikan Rihany waktu selama dua hari untuk tinggal di kamar kosnya sekaligus mengepak barang-barang yang akan dipindahkan ke apartemen miliknya. Kemarin adalah hari terakhir jadi, pagi ini dia menjemput Rihany sebelum dia berangkat ke kantor.
"Barang hanya ini?" tanya Aaron. Dia hanya melihat dua buah koper di kamar Rihany. Ada beberapa barang lagi di sana seperti, lemari pakaian dan kasur kecil yang hanya memuat satu orang. Namun dia tidak akan membawanya, dia meninggalkan barang itu di sana.
"Iya," jawab Rihany pendek. Rihany fokus pada menatap ruangan kecil yang menjadi tempatnya berteduh selama setahun lebih.
Aaron mengambil kedua koper tersebut sekaligus lalu berjalan keluar dari kamar tersebut. Dia kemudian memasukkan koper-koper itu ke dalam bagasi mobilnya. Rihany mengikuti langkahnya dari belakang. Sekali lagi dia menatap bangunan tersebut kemudian masuk ke dalam mobil Aaron.
Setelah berada di dalam mobil, Rihany mengirimkan pesan Bunga kalau dia sudah dijemput Aaron. Bunga tadi membantunya menyusun pakaian ke dalam koper. Temannya itu juga ingin mengantar kepindahan Rihany namun, perempuan itu harus berangkat kerja karena dia kebagian shift pagi.
"Kamu sudah pamit pada pemilik kos ini?" tanya Aaron.
"Sudah, kemarin saat dia berkunjung." Aaron mengangguk. Dia lalu menyalakan mesin mobilnya melaju meninggalkan pekarangan gedung kos-kosan tersebut. Selama perjalanan Rihany lebih banyak diam. Sama seperti Rihany Aaron juga diam, dia seperti memahami Rihany yang tidak ingin diajak berbicara. Sangat terlihat dari tatapannya yang jauh. Entah apa yang sedang perempuan itu pikirkan?
"Sudah sampai," kata Aaron memecah keheningan di dalam mobil tersebut. Rihany menoleh kesekelilingnya, benar saja mereka sudah sampai di parkiran apartemen milik Aaron.
"Saya ada rapat satu jam lagi. Tidak apa-apa kalau 'kan kalau kamu sendirian di sini?" Aaron kembali bertanya saat mereka sudah masuk ke dalam apartemen. Aaron menaruh koper Rihany ke dalam kamar yang biasanya di tempati Rihany.
"Tidak apa-apa," jawab Rihany sembari mengangguk kecil.
Aaron tiba-tiba menunduk lalu mengelus perut Rihany. "Papa kerja dulu, iya. Jangan nakal sama Mama," kata Aaron berbisik. Rihany berdiri kaku mendapati perlakuan lembut Aaron pada perutnya.
"Hubungi saya kalau ada apa-apa."
"I—iya," balas Rihany gugup.
Rihany menghembuskan napasnya lega setelah Aaron keluar dari apartemen. Dia cukup terkejut dengan apa yang Aaron lakukan tadi. Dia tidak menyangka kalau Aaron bisa bersikap manis seperti tadi.
"Astaga kenapa jadi deg-degan begini," gumam Rihany.
***
Bersambung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Kamu
Roman d'amourBerniat melupakan mantan yang masih menghuni hatinya, Rihany mengikuti saran temannya untuk pergi ke club malam. Di sana kemudian dia bertemu dengan Aaron Marvel Harisson. Dia mengira pria itu pria malam. "Saya akan memberikan kamu uang, sebagai gan...
