Bab 31

32 1 0
                                        

 Bunga mengenakan pakaiannya dengan wajah datar. Dia menatap Jean yang melakukan hal yang sama dengannya. Bunga menghela napas panjang. Dia tidak pernah berpikir kalau akan berakhir seperti ini. Namun, ada satu hal yang membuat Bunga tidak menyesal telah melakukannya. 

"Aku tidak akan minta maaf mengenai hal ini," ucap Jean. Dia tidak bisa menebak apa yang perempuan itu pikirkan. Bunga pandai memainkan ekspresinya untuk menutupi perasaannya. 

"Aku tidak butuh maaf dari kamu," balas Bunga. Dia lalu mengambil tasnya lalu melangkah menuju pintu untuk keluar lebih dulu dalam kamar hotel tersebut. 

Jean mengerutkan keningnya ketika Bunga sudah benar-benar keluar. Dia mendengar Bunga mengucapkan sesuatu. Jean yakin kalau dia tidak salah dengar. Bunga mengucapkan terima kasih setelah apa yang dia lakukan pada wanita itu. Jean penasaran apa yang mendasari ucapan Bunga itu. 

Jean mengambil ponselnya, dia melihat ada banyak panggilan tidak terjawab dari Gita dan juga puluhan pesan yang belum dia baca. Jean menghela napas kasar. Setelah ini dia akan menerima kemarahan dari kekasihnya itu. 

Jean mengendarai mobilnya menuju rumah miliknya. Namun sebelum itu dia sengaja singgah di sebuah rumah makan cepat saji. Dia ingin mengulur waktu untuk bertemu dengan Gita. Tiba-tiba saja Jean tidak ingin menemui kekasihnya itu. Pikirannya justru dipenuhi dengan sikap Bunga. Seharusnya wanita itu marah padanya atau setidaknya dia mendaratkan satu tamparan di wajah Jean. Namun, Bunga tidak melakukannya alih-alih marah dia malah berterima kasih. 

Ponsel Jean kembali bergetar tanda panggilan masuk. Nama Gita tertera di sana. Jean mengabaikan panggilan dari Gita sama seperti sebelumnya. Dia menikmati makanan yang dia pesan. Ini adalah pertama kalinya dia mengabaikan pesan dan panggilan telepon dari Gita. Sebelumnya dia selalu cepat menerima panggilan telepon dan membalas pesan yang Gita kirimkan. Bahkan ketika Gita ketahuan selingkuh, dia tidak pernah mengabaikan panggilan telepon dari kekasihnya itu. 

Setelah menghabiskan makanannya, Jean pulang ke rumah. Seperti dugaannya, Gita menunggu di sana dengan wajah suram. Dia langsung berdiri begitu melihat orang yang ditunggunya datang. 

"Dari mana saja kamu, Jean?!" tanyanya dengan nada suara yang tinggi. Jean duduk di sofa dengan gaya santai. 

"Sebelumnya kamu tidak peduli aku pergi ke manapun. Kenapa pagi ini kamu sangat penasaran?" Gita menatap heran pada Jean. Ada yang berbeda dari pria itu. 

"Rencana semalam gagal. Pasti itu karena kamu yang tidak becus menjalankan misi." Gita mengabaikan perubahan Jean. Dia masih merasa kalau Jean sangat mencintainya dan melakukan apapun yang dia inginkan. 

"Aku menunggu hingga pagi di kamar yang sudah kita sepakati, tapi apa yang aku dapat? Dia tidak datang dan kamu tidak memberitahuku sama sekali. Kamu membiarkan aku menunggu seperti orang bodoh di sana!" Gita menunjuk wajah Jean dengan gaya angkuh. 

"Keluar dari rumahku!" perintah Jean dengan nada pelan namun, penuh penekanan. Jean benar-benar muak melihat wajah Gita. Wanita itu selalu merasa dirinya benar dan selalu merasa jadi korban bahkan ketika dia tertangkap basah sekamar dengan pria lain. 

"Jean?" 

"Kamu ingat sudah berapa tahun aku selalu mengalah sama kamu, Git?" Gita menaikkan alisnya tinggi. 

"kamu mau hitung-hitungan sama aku?" tanyanya kesal. 

"Aku kehilangan bayi kita karena kamu," kata Gita cepat sebelum Jean menjawab pertanyaannya. Hal yang menjadi senjata andalannya selama ini. Jika dia mengungkit hal ini maka Jean biasanya akan mengalah. Gita tersenyum dalam hati, bayi yang tidak dia harapkan kehadirannya itu bisa jadi senjata untuk meluluhkan Jean. 

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Karena KamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang