Bab 19
Rima membanting kesal tasnya ke atas ranjang hotel. Dia tidak terima dengan apa yang Aaron katakan padanya. Aaron harusnya menghormatinya karena dia yang melahirkan Rihany. pria itu harusnya pintar mengambil hatinya karena dia menginginkan Rihany, putrinya.
"Sialan!" Semua yang terjadi hari ini dia luar bayangan Rima. Mengingat dulu Rihany begitu mudah untuk dibujuk namun, sekarang semuanya jauh berbeda.
"Bagaimana mungkin kamu tidak bisa membujuk anak itu?" Sama seperti Rima, Agus tadinya berpikir sangat mudah untuk menghadapi keluarga Harisson karena mereka memiliki Rihany yang bisa dimanfaatkan.
"Dia sudah berubah. Rihany tidak lagi penurut seperti dulu," kata Rima. Dulu Rihany selalu melakukan apapun yang Rima katakan. Rihany bahkan merelakan barang-barang kesayangannya untuk Netta karena Rima yang memintanya. Sekarang Rihany benar-benar berbeda, entah apa yang membuat anaknya itu berubah.
"Kamu harusnya berusaha lebih keras untuk membujuknya. Lihat keadaan kita sekarang! Kita tidak punya apa-apa lagi selain rumah dan perhiasan kamu." Rima paham kemana arah pembicaraan suaminya. Dan Rima jelas tidak akan membiarkan perhiasannya dijual.
"Jangan hanya melihat perhiasanku. Netta juga punya banyak."
"Mau itu perhiasan kamu atau Netta, semua harus dijual. Memangnya kita mau makan dari mana kalau perhiasan itu tidak dijual."
"Memangnya tidak ada harapan lagi untuk perusahaan kita?" Rima bertanya pelan.
"Tentu saja ada, kalau kamu bisa membujuk Rihany. Anak itu bisa berbicara pada mertuanya itu untuk mengembalikan perusahaan seperti semula. Atau bahkan minta dia berbicara pada mertuanya untuk menyuntikkan dana pada perusahaan kita. Dengan begitu perusahaan bisa berkembang lebih besar lagi."
"Aku tidak yakin bisa berbicara lagi dengan Rihany." Melihat sikap Rihany yang sekarang, Rima tidak yakin Rihany mau bertemu dengannya lagi. Rima menyesal telah menampar Rihany. Dia harusnya bisa menahan diri sampai tujuannya tercapai.
"Aku tadi kelepasan menamparnya," kata Rima memberitahu.
"Bodoh!" maki Agus pada istrinya. Rima membuang muka, dia sudah sering mendengar kata itu keluar dari mulut suaminya.
"Nyatanya Netta jauh lebih bodoh. Anak kesayangan kamu itu menghancurkan perusahaan kamu dengan mudah." Sindir Rima secara terang-terangan. Agus meninggalkan kamar hotel itu, dia tidak mau terus berdebat dengan istrinya. Kepalanya sudah penuh dengan saham perusahaannya yang tidak laku di pasaran.
***
Pagi ini Rihany bangun dengan perasaan ringan. Tidak ada muntah seperti pagi-pagi sebelumnya. Semuanya karena dia tidur di kamar Aaron. Rihany baru tahu kalau kamar Aaron senyaman itu. Dia berguling-guling di atas ranjang karena suasana hatinya yang baik. Sementara Aaron yang sudah bangun lebih dulu, melihat tingkah Rihany dengan kening berkerut.
"Aku mau tidur di sini aja mulai sekarang," kata Rihany. Dia masih nyaman dengan posisinya di atas tempat tidur milik Aaron.
"Boleh 'kan, Aar?" tanya Rihany.
"Kamu baru bertanya sekarang setelah menerobos masuk tanpa izin semalam?" Aaron balik bertanya. Dia tidak masalah Rihany tidur di dalam kamarnya. Lagipula perempuan itu akan menjadi istrinya tidak lama lagi. Hanya saja, aroma tubuh Rihany membuatnya tidak bisa menahan diri.
Rihany tersenyum menutupi rasa bersalahnya karena masuk kamar orang tanpa izin. Tidak tahu kenapa, dia ingin sekali masuk ke dalam kamar Aaron malam tadi setelah terbangun dari mimpi buruk. Merasa nyaman saat berada di kamar Aaron dia memutuskan tidur di sana tanpa izin dari pria itu. Aaron sendiri sudah tidur dan tidak merasakan kehadiran Rihany di dalam kamarnya. Dia baru sadar saat bangun pukul lima pagi tadi.
"Aku minta maaf karena sudah masuk ke kamar kamu tanpa izin. Aku awalnya hanya ingin melihat keadaan kamar kamu aja, tapi jadi keterusan karena aku merasa nyaman." Aaron menghela napas panjang. Setelah bangun pagi tadi, dia sudah dua kali masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya. Dia tidak bisa menidurkan adik kecilnya begitu melihat Rihany yang tidur dengan gaun tipis di ranjangnya. Rihany sialan!
"Ngomong-ngomong, apa dokter memperbolehkan saya menyentuh kamu?" Aaron tidak mungkin masuk kamar mandi terus setelah Rihany pindah ke kamarnya 'kan? Ada baiknya dia menuntaskan hasratnya dengan Rihany. Lagipula ini bukan yang pertama.
Wajah Rihany memerah mendengarkan pertanyaan Aaron. Mereka tidak pernah membahas hal ini setelah tinggal bersama lebih dari dua minggu.
"Aku tidak tahu, kemarin pas ke dokter tidak ada yang membahas itu," kata Rihany pelan.
"Kalau begitu biar saya saja yang telepon dokter nanti," balas Aaron tanpa peduli dengan wajah Rihany yang sudah semerah tomat.
"Apa kamu tidak malu bertanya hal sensitif pada dokter?"
"Kenapa harus malu? Saya bertanya juga untuk menjaga kesehatan anak kita dan untuk kesenangan kita berdua."
"Bukan kita berdua, tapi kamu sendiri," ucap Rihany pelan namun, telinga Aaron dapat mendengarnya dengan baik.
"Jadi kamu tidak senang bisa tidur seranjang dengan saya?" Aaron masih ingat dengan perkataan Rihany tentang dia yang tidak memuaskan. Rihany benar-benar tahu cara melukai egonya.
Rihany mengangguk kemudian cepat-cepat menggeleng begitu menyadari ekspresi Aaron yang menyeramkan. "Nggak, aku senang tidur berdua sama kamu," kata Rihany.
"Benarkah?" Aaron tersenyum miring. Dasi yang sudah terpasang di leher, kembali dia buka. Satu per satu kancing kemejanya juga dia lepas.
"Kamu mau apa?" tanya Rihany gugup. Dia mengambil langkah mundur ketika Aaron mulai mendekat.
"Membuktikan, apakah kamu benar-benar senang tidur dengan saya." Rihany menelan ludahnya kasar. Dia merasa serba salah kalau berhadapan dengan Aaron.
Aaron menangkap tangan Rihany dengan cepat menghentikan langkah perempuan itu yang jika dibiarkan maka akan semakin jauh darinya. Dia tidak akan membiarkan Rihany lari darinya. Aaron akan memberikan hukuman pada Rihany agar kedepannya dia bisa menjaga cara bicaranya.
"Tunggu! Kita hanya tidur 'kan?" tanya Rihany sembari mencoba melepaskan tangannya dari pegangan Aaron. Nyali Rihany ciut melihat tatapan Aaron yang tajam dan wajahnya yang mengeras.
"Menurutmu?" Aaron duduk di tengah ranjang lalu menarik Rihany duduk di pangkuannya. Rihany bergerak tidak nyaman, dia belum pernah duduk di pangkuan siapapun sebelumnya.
Aaron menahan pinggang Rihany untuk diam. "Jangan banyak bergerak atau saya akan langsung memasuki kamu!" ancam Aaron dengan nada rendah. Rihany langsung diam seperti patung. Dia tidak berani bergerak karena takut dengan ancaman Aaron.
Dengan gerakan halus Aaron mempertemukan bibirnya dengan bibir Rihany. Mulanya dia hanya mengecup ringan kemudian makin lama makin intens. Rihany sampai kewalahan menghadapi pria itu. Ciuman Aaron kemudian turun kepada leher Rihany sementara itu tangan tidak tinggal diam.
"Udah, Aar. Kamu belum menghubungi dokter untuk memastikan kita aman berhubungan intim." Aaron tidak mendengarkan Rihany. Tangan kirinya bahkan sudah berpindah ke dada perempuan itu.
"Aaron stop." Rihany menangkap tangan pria itu yang bergerak menuju perut bagian bawah.
"Saya tidak tahu bagaimana cara menghentikannya," gumam Aaron sambil terus menjelajahi tubuh Rihany dengan lembut dan penuh pemujaan. Tindakan lembut Aaron tersebut membuat Rihany terbuai. Pada akhirnya dia mendesah pasrah di bawah kuasa Aaron.
***
Bersambung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Kamu
عاطفيةBerniat melupakan mantan yang masih menghuni hatinya, Rihany mengikuti saran temannya untuk pergi ke club malam. Di sana kemudian dia bertemu dengan Aaron Marvel Harisson. Dia mengira pria itu pria malam. "Saya akan memberikan kamu uang, sebagai gan...
