Bab 12

157 17 2
                                        

Aaron tidak bisa fokus pada pekerjaannya karena terus kepikiran dengan Rihany. Dia cemas meninggalkan perempuan itu sendirian. Kalau saja tidak ada rapat penting hari ini dia mungkin akan menemani perempuan itu. Aaron akhirnya menghubungi mamanya untuk menemani Rihany. Setelah mamanya mengabari kalau dia sudah sampai di apartemen, Aaron baru bisa bernapas lega. 

Sementara itu Rihany terkejut mendapati Bianca berada di sana. Dia baru selesai mandi lalu melihat Bianca sudah duduk santai di sofa ruang tamu sekaligus ruang keluarga di apartemen milik Aaron. 

"Kamu baru mandi, iya?" tanya Bianca. Dia tersenyum melihat tingkah Rihany yang canggung. 

"Iya, Tante," jawab Rihany. 

"Mama, dong, Ri. Kamu 'kan calon menantu Mama. Kamu harus membiasakan diri." 

"Baik, Ma." Rihany mengusap lehernya berusaha menghilangkan rasa gugupnya. 

Bianca menepuk sisi kosong di sampingnya. Mengisyaratkan Rihany agar duduk di sana. Menangkap maksud Bianca, Rihany langsung berjalan lalu duduk di samping perempuan itu.  

Bianca mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang. Tidak besar juga tidak kecil, dia lalu memberikan kotak tersebut pada Rihany. 

"Ini hadiah dari Mama atas kehamilan kamu. Dijaga baik-baik, iya cucu Mama." Bianca memberikan Rihany sebuah kalung berlian. Hadiah yang menurutnya Rihany pantas menerimanya. 

"Ini ..." Rihany tidak mampu melanjutkan kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya. Rihany pernah melihat kalung yang sama persis di internet. Meski ukurannya kecil namun, harganya mampu membeli satu unit rumah di kawasan perumahan elit. 

"Kenapa, Sayang? Kamu tidak suka dengan bentuknya atau bagaimana?" Rihany menggeleng cepat. 

"Bukan begitu, Ma. Aku suka, tapi ini terlalu mahal." 

"Mama hanya mendengar kalau kamu suka." Bianca tidak menerima penolakan dari Rihany. Sebenarnya sudah bisa menebak reaksi Rihany karena itu dia memilihkan kalung dengan bentuk yang kecil agar tidak mencolok. Bianca bisa menebak karakter Rihany dengan mudah setelah mendengar cerita perempuan itu.

"Terima kasih, Ma." Tidak ada kata lain yang bisa Rihany ucapkan selain kata-kata itu. 

"Sama-sama, Sayang ... Oh, iya kamu sudah makan siang?" Rihany menggeleng. 

"Aku belum makan tapi, aku sudah masak tadi, Ma. Mama mau coba masakan aku?"  Rihany bertanya ragu. Dia hanya memasak makanan sederhana sebelum dia mandi tadi. Tumis kangkung dan udang yang dia campur dengan sambal tomat. 

"Ah, kebetulan Mama juga belum makan." Bianca berjalan lebih dulu menuju meja makan. Rihany mengikutinya dari belakang. Dia tidak yakin kalau Bianca  mau makan masakannya yang seadanya.

Tidak seperti dugaan Rihany, Bianca nyatanya memakan masakannya dengan lahap. "Udang sambalnya enak," kata Bianca memuji masakan Rihany. 

"Terima kasih, Ma." Diam-diam Rihany bernapas lega melihat makanan yang dia masak habis. Tadinya dia takut mendapat komentar buruk dari Bianca tentang masakannya. 

"Kamu ada kegiatan setelah ini, Ri?" 

"Tidak ada, Ma. Aku sudah berhenti kerja tiga hari yang lalu." Bianca mengulum senyumnya. Dia tahu kalau Aaron berada di balik diberhentikannya Rihany bekerja. Supermarket itu merupakan milik keluarga mereka lebih tepatnya suami dari adik iparnya, Alea Harisson. 

"Sudah seharunya kamu bersantai di rumah. Biarkan Aaron yang bekerja memenuhi kebutuhan kamu dan anak kalian." 

"Dan karena kamu tidak ada kegiatan, kamu tidak keberatan 'kan kalau menemani Mama ke mall?" 

Karena KamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang