Bab 23

110 11 0
                                        

Rihany menatap bungkusan makanan ditangannya dengan tatapan lapar. Dia mengabaikan perkataan Aaron tentang menjaga porsi makannya. Saat perjalanan pulang ke apartemen tadi, dia melihat penjual bakso yang cukup ramai. Tiba-tiba saja dia merasa sangat lapar dan menginginkan bakso itu hingga air liurnya akan menetes dari sudut bibirnya. Jadilah dia membeli satu porsi lengkap dengan seluruh isian yang dijual di sana. 

Rihany memasuki lobby apartemen dengan langkah ringan namun, langkah kakinya berhenti ketika dia melihat dua orang yang tidak ingin dia temui. Rihany melanjutkan langkahnya dan bersikap seolah tidak melihat keberadaan kedua orang itu. Rihany lebih ingin menikmati baksonya sekarang daripada bertatap muka dengan Netta dan Demon. 

"Rihany, tunggu! Kita perlu bicara." Netta menghalangi langkah kaki Rihany. Dia memasang tampang memelas untuk menarik simpati Rihany. 

"Tidak ada hal yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Jadi, tolong menyingkir dari hadapanku!" kata Rihany datar. 

"Aku sudah melahirkan tiga hari yang lalu. Tapi, karena keterbatasan biaya, kami tidak bisa membawa pulang bayiku. Tolong kami, Rihany. Tolong bicara dengan Aaron dan orang tuanya agar mau membantu perusahaan Papa, supaya kami bisa mengambil bayiku." Netta menatap Rihany dengan tatapan penuh permohonan. 

"Aku tidak bisa membujuk Aaron begitu juga dengan kedua orang tuanya. Sebagai gantinya aku akan melunasi tagihan rumah sakit agar kamu bisa mengambil bayimu kembali." Rihany sebenarnya memiliki hati yang lembut, perlakukan keluarganya lah yang membuatnya menjadi seperti sekarang. 

"Tidak!" Netta menolak setengah berteriak. 

"Maksudku tidak seperti itu. Jika hanya melunasi tagihan rumah sakit, bagaimana dengan biaya hidupnya kelak?" Rihany mengangguk-angguk. Dia tahu ke mana arah pembicaraan Netta.

"Karena itulah aku meminta agar kamu membujuk keluarga Aaron untuk membantu perusahaan Papa. Jika perusahaan Papa kembali stabil aku tidak akan menyusahkan kamu lagi." Netta menatap Rihany lagi. Diam-diam dia tersenyum tipis ketika melihat Rihany berpikir keras. 

"Akan aku bicarakan dengan Aaron nanti," kata Rihany. Kemudian Netta langsung tersenyum puas. 

"Kamu harus bisa membujuk mereka, kalau tidak bisa tinggalkan saja dan cari laki-laki lain yang lebih kaya." Rihany menatap Netta tajam. 

"Iya, ampun! Aku hanya bercanda," kata Netta sembari tertawa kecil. Hanya saja Rihany tidak ikut tertawa. Tanpa berbicara lagi, Rihany melangkah meninggalkan Netta dengan Demon yang tidak berbicara sepatah kata pun. Dia hanya menatap Rihany dengan tatapan penuh kerinduan. Jika waktu bisa diulang kembali dia ingin mempertahankan hubungannya dengan Rihany dibandingkan menikahi Netta karena perusahaan keluarganya yang mendapat masalah. Hanya saja dia tidak bisa memutar ulang waktu kembali pada masa saat hubungannya dengan Rihany masih baik-baik saja. 

"Sudah puas memandanginya?" tanya Netta pada Demon dengan nada sinis. 

"Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Sekarang serahkan anakku padaku!" Demon tentu saja terpaksa mengikuti kemauan Netta karena anaknya. Dia dan Netta sedang dalam proses perceraian. 

"Tidak sekarang. Tunggu sampai perusahaan papa membaik baru aku memberikan anak itu. Sekarang aku masih butuh dia untuk membuat Rihany iba." Netta lalu berbalik meninggalkan Demon. 

"Jangan main-main denganku, Netta!" Demon menangkap pergelangan tangan Netta dan mencengkramnya kuat. 

"Aku tidak main-main! Kalau saja kamu mau membantu perusahaan Papa, aku tidak perlu membuat rencana seperti ini. Kamu pikir aku tidak muak harus berpura-pura baik sama Rihany?" Netta menyetak tangannya karena cengkraman Demon menyakitinya. 

Karena KamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang