Pagi ini Aaron tetap mengantarkan Rihany bekerja meskipun sebenarnya dia lebih menginginkan Rihany untuk berada di rumah saja. Aaron terpaksa karena tidak mau ribut dengan Rihany sekarang. Dia akan mencari cara untuk membuat Rihany berhenti sendiri dari pekerjaannya tanpa paksaan.
"Pulang jam berapa nanti?" tanya Aaron setelah menghentikan mobilnya di depan supermarket tempat Rihany bekerja.
"Sore, tapi bisa malam juga. Kadang ada kasir yang tidak masuk tanpa alasan dan harus ada yang lembur menggantikan kasir yang tidak masuk tersebut. Dan tidak menutup kemungkinan kalau aku yang diminta untuk menggantikannya."
"Kamu lagi hamil, Han. Untuk bekerja lembur kamu harus menolak. Jangan menyiksa anak saya dengan pekerjaan kamu yang hasilnya tidak seberapa itu ... Intinya saya akan tetap jemput kamu sore." Aaron kemudian turun dari mobilnya, dia lalu membuka pintu di samping Rihany. Mempersilakan perempuan turun.
"Terima kasih," ucap Rihany terpaksa. Dia tidak suka diperintah seperti ini namun, dia tidak menolak. Inilah yang menjadi kekesalannya. Aaron selalu bisa membuatnya menurut dengan cara apapun.
Rihany memandang mobil yang dikendarai Aaron hingga mobil tersebut hilang dari tatapan matanya. "Kamu diantar siapa?" Rihany terkejut kemudian berbalik.
"Taksi online," jawab Rihany berbohong. Selain Bunga tidak ada satu pun yang dia percaya di tempat kerjanya. Apalagi perempuan yang baru saja bertanya tersebut. Namanya, Nila. Perempuan itu adalah biang gosip. Apapun yang dia dengar pasti akan sampai ke telinga seluruh penghuni di supermarket.
"Masa taksi online mobilnya bagus banget." Nila tidak percaya.
"Dan lagi, kontrakan kamu 'kan dekat, biasanya juga jalan kaki." Rihany berusaha untuk tidak gugup. Dia tidak akan membiarkan Nila menyebar gosip tentangnya.
"Lagi malas aja hari ini. Pesan taksi online dan kebetulan dapatnya mobil itu. Nasib baik aku dong naik mobil bagus," ucap Rihany bercanda. Nila memaksakan senyumnya karena tidak bisa mengorek informasi si pemilik mobil tersebut.
Setelah absen dan briefing pagi, mereka berjalan menuju meja kasir masing-masing. Sementara para pramuniaga mereka pergi ke brand masing-masing. Untuk memeriksa stok dan lainnya. Rihany sendiri, hari ini dia bekerja di kasir dua. Dia telah selesai membereskan meja kasir dan dia sudah siap menerima customer yang ingin membayar belanjaannya. Perasaannya sedang baik sejak bangun pagi tadi.
Dia cukup lama mengobrol dengan Bianca kemarin. Wanita itu bahkan memintanya agar dia memanggilnya sama dengan Aaron yaitu, Mama. Rihany juga sudah punya nomor telepon wanita itu. Bolehkah dia berharap mendapatkan kasih sayang dari Bianca? Dia melihat wanita itu sangat tulus padanya.
"Selamat pagi," sapa Rihany pada customer pertamanya. Dia menghitung belanjaan dengan teliti. Tidak satu pun dia lewatkan agar dia tidak menombok.
Setelah makan siang dia bertemu dengan orang yang seharusnya tidak berada di sini. "Jadi kamu bekerja di tempat seperti ini?" Netta menatap rendah pada Rihany. Perempuan itu datang bersama Mamanya.
"Totalnya tiga ratus lima puluh ribu, mau bayar cash atau debit?" Rihany memperlakukan mereka sama seperti customer lain.
"Saya masih menginginkan barang lain." Netta tersenyum licik. Dalam waktu singkat dia akan membuat Rihany kehilangan pekerjaan. Dia akan membuat saudara tirinya itu menjadi gelandangan.
"Ambilkan barang itu!" Netta menunjuk asal barang yang berada jauh dari meja kasir.
"Tugas saya hanya membantu menyelesaikan pembayaran. Jika Anda menginginkan barang lain silakan minta kepada pramuniaga," tolak Rihany sembari tersenyum manis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Kamu
RomansaBerniat melupakan mantan yang masih menghuni hatinya, Rihany mengikuti saran temannya untuk pergi ke club malam. Di sana kemudian dia bertemu dengan Aaron Marvel Harisson. Dia mengira pria itu pria malam. "Saya akan memberikan kamu uang, sebagai gan...
