Bab 16
Malam, tepat pukul satu dini hari, Rihany belum juga bisa tidur. Perutnya berbunyi sangat nyaring. Sejak siang belum ada masuk makanan apapun. Dia hanya minum susu hamil sore tadi. Sekarang dia kelaparan namun tidak berani keluar karena takut di marahi oleh Aaron. Sejak tahu kalau Aaron anak orang kaya, Rihany jadi lebih berhati-hati dan tidak ingin membuat Aaron marah. Dia takut Aaron mengambil anaknya lalu pergi jauh. Uang bisa melakukan apapun bukan?
Rihany benar-benar tidak kuat lagi, dia terpaksa keluar dari kamarnya. Pelan-pelan dia membuka pintu kemudian melangkah tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan Aaron. Rihany masuk ke dapur mencari sesuatu yang bisa membuat perutnya kenyang.
Setelah mencari sekitar lima menit, dia akhirnya menemukan sereal. Rihany tersenyum kecil, makanan itu tidak membuatnya mual. Dia menuangkan susu ke dalam mangkok kemudian menuang sereal teresebut. Baru saja ingin menyuap sereal ke dalam mulutnya, tiba-tiba mangkuk dan sendok berisi sereal tersebut sudah berakhir di tempat sampah. Rihany menatap pelaku yang membuang serealnya itu.
"Kenapa dibuang?" tanya Rihany pelan dengan suara bergetar menahan tangis.
"Kamu ingin mencelakai anak kita, hah?!" Aaron tanpa sadar membentak Rihany. Aaron ke dapur karena dia haus, lalu dia menemukan Rihany yang hendak memakan sereal yang sudah kadaluarsa. Aaron sudah mengingatkan asisten rumah tangga yang datang setiap pagi dan pulang sore untuk membuang sereal itu. Dia tidak tahu kalau ternyata ART itu lalai dalam bekerja.
"Aku lapar, Aar. Makanan itu tidak membuatku mual. Apa aku salah?" Air mata yang coba di tahan Rihany akhirnya mengalir panjang di pipinya.
"Aku akan mencari kerja mulai besok. Aku janji tidak akan memakan apapun yang kamu beli." Aaron tidak mengatakan apapun namun, Rihany berasumsi kalau dia adalah beban bagi Aaron. Dia meyakini kalau Aaron tidak ingin dia memakan makanan yang dihasilkan dari uang pria itu.
"Aku tidak mengatakan kalau kamu tidak boleh memakan makanan yang aku beli, Rihany."
"Aku tahu, tapi sikap kamu sudah menjelaskan semuanya." Aaron mengambil kotak sereal tersebut kemudian menunjukkan pada Rihany tanggal kadaluarsa makanan tersebut.
"Kamu lihat? Ini sudah kadaluarsa sejak tiga bulan yang lalu. Kalau saja aku tidak datang maka kamu sudah berakhir di rumah sakit sekarang." Aaron menjelaskan dengan sabar.
"Kalau sudah kadaluarsa kenapa masih di simpan?" Rihany jelas tidak mau disalahkan. Dia tidak salah hanya tidak teliti saja.
"Asisten rumah tangga sepertinya lupa membuangnya. Aku sudah mengingatkan mereka dari bulan lalu." Rihany mengusap pipinya yang basah karena air mata. Dia kemudian mengambil gelas lalu mengisi air minum ke dalamnya.
"Kamu seharusnya bertanya lebih dulu kalau mau memakan sesuatu. Jadinya tidak salah paham begini."
"Aku lapar dan sereal itu tidak membuatku mual. Aku mana tahu kalau ternyata itu sudah tidak bisa dimakan lagi."
"Oke, besok kita beli sereal." Aaron tidak ingin memperpanjang masalah lagi. Jam segini seharusnya mereka sudah tidur.
"Tapi aku maunya sekarang!" Rihany tidak bisa lagi menahan lapar hingga besok pagi. Aaron melirik jam dinding di dapur itu.
"Tidak ada supermarket yang buka jam segini, Rihany. Sebaiknya kamu tidur. Lalu besok pagi kita beli sereal sebanyak yang kamu mau."
"Aku nggak bisa tidur karena kelaparan, Aar. Kamu tidak mengerti, sih bagaimana rasa sakitnya," sungut Rihany kesal.
"Bagaimana kalau aku buatkan salad buah?" tanya Aaron. Pagi tadi Rihany makan salad buah dengan lahap tanpa mual atau muntah.
"Terserah," jawab Rihany pelan. Namun, perempuan itu duduk di meja makan menunggu salad buah yang akan dibuat oleh Aaron. Aaron hanya menggeleng melihat tingkah ibu dari calon anaknya itu.
Aaron tidak butuh waktu lama untuk membuat salad buah. Dia hanya memotong beberapa macam buah lalu menambahkan sedikit mayonaise kedalam mangkuk. Dia tidak mau menambahkan banyak-banyak. Hal itu tidak terlalu bagus untuk kesehatan. Dia lalu menunggu hingga Rihany selesai memakan buah tersebut. Rihany memakan sekitar sepuluh potong setelahnya dia tidak mau lagi.
"Sudah?" tanya Aaron.
"Iya," jawab Rihany pendek. Perempuan itu lalu menguap lebar, matanya sayu menandakan kalau dia sudah mengantuk.
"Terima kasih, Aaron. Sekarang aku sudah kenyang. Aku tidur duluan, iya," katanya.
"Ayo aku antar ke kamar." Aaron melihat matanya Rihany yang mulai tertutup. Dia takut perempuan itu tidak melihat jalannya dan menabrak dinding atau pun benda lainnya.
***
Siang ini Rihany dan Aaron datang ke rumah orang tuanya untuk memenuhi undangan dari mamanya. Bianca menyambut calon menantunya dan anaknya dengan raut bahagia.
"Ayo masuk! Mama sudah siapkan banyak makanan untuk makan siang kita," kata Bianca yang langsung mengajak calon menantunya itu ke ruang makan.
"Kamu tidak mual 'kan?" tanya Aaron setelah mereka semua duduk. Ada Alex juga di sana.
"Kamu masih sering mual, Iya?" tanya Bianca.
"Iya, Ma. Kadang seharian tidak makan nasi karena mual. Paling makan buah aja sama sereal." Rihany menjawab jujur. Sesekali dia bisa makan nasi namun, tidak lama setelahnya dia akan muntah.
"Coba disuapin sama Aaron. Dulu Mama pas hamil adiknya Aaron juga begitu. Tapi, pas disuapin makan sama Papanya Aaron tidak muntah lagi." Rihany menatap Aaron canggung. Bukan apa-apa, mereka belum begitu dekat untuk suap-suapan makan.
"Nggak perlu, Ma."
"Nggak apa-apa, biar aku suapin kamu." Aaron langsung menyodorkan sendok berisi nasi ke depan mulut Rihany. Pria itu melakukannya tanpa ekspresi.
"Buka mulutmu, Rihany!" perintah Aaron pelan. Rihany mau tidak mau terpaksa menerima suapan dari Aaron. Dan benar saja, Rihany tidak merasakan mual sedikit pun. Justru ada keinginan untuk makan lebih banyak.
"Mual?" tanya Aaron. Ekspresi Aaron memang datar dan dingin namun, perlakuannya membuat hati Rihany menghangat.
"Tidak sama sekali," jawab Rihany tersenyum senang.
Saat mereka sedang asyik makan. Tiba-tiba asisten rumah tangga datang. "Maaf, Tuan, Nyonya. Di depan ada tiga orang yang ingin bertemu dengan Nyonya dan Nona Rihany. Mereka mengaku keluarga Nona Rihany," kata asisten rumah tangga itu.
"Minta mereka menunggu, kami sedang makan siang." Bianca sudah bisa menebak siapa yang datang ke rumahnya dan apa tujuannya.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Kamu
RomanceBerniat melupakan mantan yang masih menghuni hatinya, Rihany mengikuti saran temannya untuk pergi ke club malam. Di sana kemudian dia bertemu dengan Aaron Marvel Harisson. Dia mengira pria itu pria malam. "Saya akan memberikan kamu uang, sebagai gan...
