Bab 17

119 14 0
                                        

Bab 17

Setelah selesai makan siang, mereka tidak langsung pindah ke ruang tamu untuk menemui Netta dan kedua orang tuanya yang sedang menunggu. Bianca menahan Rihany dan Aaron, serta suaminya untuk berlama-lama di sana. Sengaja membiarkan Netta dan kedua orang tua perempuan itu menunggu di sana sampai bosan. Bianca akan mengajarkan pada mereka kalau tidak semua hal bisa mereka dapatkan dengan mudah. Bahkan setelah mereka menunggu lama, dia tidak akan membiarkan suaminya mengembalikan perusahaan mereka seperti semula.

"Ma, apa tidak masalah membiarkan mereka menunggu lama?" Rihany bertanya pelan. Dia takut Netta membuat masalah lagi.

"Kamu mau kita menemui mereka sekarang?" Bianca menjawab pertanyaan Rihany dengan pertanyaan. Rihany menggeleng kecil.

"Aku ikut Mama saja," katanya. Rihany sudah tidak peduli lagi pada mereka. Sama seperti mereka yang tidak pernah peduli padanya.

"Kalau begitu biarkan mereka menunggu sampai bosan." Bianca kemudian kembali bercerita tentang kegiatan amal yang dia ikuti dengan grup sosialitanya. Bianca tergabung dengan grup tersebut sejak sepuluh tahun yang lalu. Grup yang dia ikuti memiliki kegiatan yang positif, mereka lebih banyak melakukan kegiatan amal. Sekarang ini mereka sudah memiliki sebuah yayasan yang menaungi tiga panti asuhan.

"Nanti setelah kamu menikah dengan Aaron, kamu mau 'kan masuk ke dalam grup itu?" Rihany tidak langsung menjawab. Dia butuh persetujuan dari Aaron. Karena nantinya dia akan tinggal dengan pria itu. Rihany menatap Aaron, bertanya melalui gerakan mata yang dia berikan. Beruntung Aaron cukup peka dan mengerti apa yang calon istrinya itu katakan.

"Rihany boleh gabung, Ma. Tapi ... Setelah anak kami nanti besar. Sebelum itu prioritasnya adalah anak kami."

"Papa setuju dengan Aaron," kata Alex. Bianca pun dulu ikut grup itu setelah anak-anak mereka besar.

"Tidak masalah, Rihany nanti bisa sesekali datang menggantikan Mama ke panti asuhan." Bianca ingin calon menantunya itu ikut terjun ke dalam pengurusan panti asuhan.

"Maaf, Tuan, Nyonya." Asisten rumah tangga tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.

"Tamu yang di depan memaksa ingin masuk ke ruang makan ini," kata wanita itu lagi. Dia menunduk tidak berani melihat majikannya karena sudah menyela pembicaraan mereka.

"Kami akan ke depan. Kamu boleh kembali ke pekerjaan kamu," ucap Bianca memerintah asisten rumah tangganya itu.

"Sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk bertemu. Kalau begitu kita pindah ke ruang tamu sekarang."

"Kamu tidak masalah bertemu dengan mereka?" tanya Aaron pada Rihany. Dia yakin Rihany tidak pernah mendapatkan perlakuan baik dari keluarganya. Terbukti dari Rihany yang tidak pernah mendapatkan sarapan dari dia kecil. Dan satu lagi, Rihany telah diusir dari keluarga itu.

"Aku baik-baik saja," kata Rihany sembari tersenyum.

Mereka kemudian tiba di ruang tamu rumah besar milik Alex. Ketiga orang itu, Netta dan mama, papanya langsung berdiri menyambut kedatangan yang punya rumah. Mereka menunggu hampir dua jam untuk bertemu dengan Alex dan Bianca. Dan mereka cukup terkejut dengan adanya Rihany di antara keluarga Alex Harisson. Netta paling tidak suka dengan kehadiran Rihany di sana. Seharusnya dia bisa lebih leluasa menjelekkan Rihany di hadapan Aaron.

"Sayang, Mama kangen banget sama kamu." Rima menghampiri Rihany lalu langsung memeluk putrinya itu. Kemudian dia berbisik pelan pada Rihany, "jangan membuat semuanya jadi rumit. Bujuk mereka untuk mengembalikan perusahaan Papa kamu," kata Rima dengan nada mengancam. Dia lalu melepaskan pelukannya sembari tersenyum.

"Maaf, iya, Sayang. Mama nggak tahu kalau sekarang kamu sudah memiliki calon suami. Kamu, sih jarang banget hubungin Mama," kata Rima lagi. Dia berusaha agar terlihat seperti ibu yang baik dan Rihany sebagai anak yang tidak berbakti.

"Aku pikir hubungan kita sudah berakhir setelah Mama mengusir aku dari rumah," kata Rihany dengan santai. Dia lalu duduk di samping Aaron. Mata Rima melotot mendengar perkataan Rihany, dia tidak menyangka kalau anak itu berani mengungkap masalah itu.

"Rihany, Mama tidak pernah mengusir kamu dari rumah. Kamu yang pergi tanpa memberitahu kami semua keluargamu." Netta berpura-pura menatap sedih pada Rihany. Dia ingin menarik simpatik Aaron. Rihany hanya menatap datar Netta tanpa berniat membalas perkataan perempuan itu. Rihany tidak ingin ribut dan membuka semua kebusukan keluarganya di hadapan Aaron dan kedua orang tuanya.

"Jadi apa tujuan kalian datang ke rumah kami?" tanya Bianca. Dia menatap kasihan pada Rihany. Ibu kandungnya jelas terlihat tidak tulus terhadapnya. Bianca mendengar sekilas apa yang Rima katakan pada Rihany tadi.

"Begini, Tante. Aku minta maaf karena perkataan yang aku ucapkan tentang Tante. Aku tarik kembali perkataan yang kemarin," kata Netta. Dia menekan egonya dan berbicara dengan nada yang lembut.

"Hanya denganku? Kamu tidak ingin minta maaf dengan Rihany?" Wajah Netta menegang. Dia melirik Rihany dengan ujung matanya. Dia mendapati Rihany tersenyum tipis seakan mengejeknya.

"Rihany aku minta maaf atas apa yang ucapkan sama kamu kemarin." Netta sangat terpaksa mengatakannya. Dia mengepalkan tangannya di balik punggung. Harga dirinya terluka. Dan untuk hari ini, dia pastikan akan membalas Rihany nantinya.

"Aku selalu memaafkan kamu, Net. Bahkan sebelum kamu meminta maaf aku sudah melakukannya." Harga diri Netta semakin terluka karena ucapan Rihany.

"Kami mengakui salah mendidik Netta. Kami berharap Pak Alex bisa memaafkan putri kami demi menjaga hubungan kekeluargaan kita." Alex tersenyum mengerti tujuan perkataan pria itu.

"Rihany adalah putri kami dan menjalin hubungan dengan Aaron, putra kalian. Demi restu kedua keluarga, saya harap pak Alex mengembalikan perusahaan kami seperti semula," tambah Agus lagi. Alex tertawa kecil.

"Saya tidak melakukan apapun pada perusahaan Anda, Pak ..." Alex tidak melanjutkan ucapannya berpura-pura tidak tahu nama pria itu.

"Agus Ramano," kata Agus menyebut nama lengkapnya.

"Ah iya. Pak Agus, kecurangan kalianlah yang membuat perusahaan itu hancur."

"Saya Tidak merasa melakukan kecurangan dalam berbisnis, Pak Alex. Mungkin yang Bapak maksud adalah pada pekerja saya. Selama ini saya tidak tahu kalau ada banyak pekerja yang berbuat curang. Karena itu, Pak Alex, saya berharap Bapak bersedia membantu kami, demi hubungan kekeluargaan kita." Agus sangat pintar bermain lidah. Melimpahkan kesalahannya pada pekerjanya.

"Bisnis adalah bisnis dan keluarga adalah keluarga. Keduanya tidak bisa di campur adukkan." Alex jelas berbohong, demi Bianca, istrinya yang begitu dia cintai dia melakukan banyak cara untuk menjatuhkan perusahaan Agus. Dan pekerjaan itu dipermudah karena perusahaan tersebut sudah banyak melakukan kecurangan.

Agus tidak senang mendengar itu. Dia lalu menatap Rihany, anak itu harus bisa dia manfaatkan untuk membuat Alex berubah pikiran. Dia kemudian mengkode pada istrinya agar lebih menekan Rihany.

"Bisa saya berbicara berdua dengan Rihany?" Rima langsung mengerti apa yang suaminya inginkan.

"Tidak bisa!" Bianca langsung menyuarakan penolakan atas permintaan Rima. Dia yakin kalau permintaan itu hanya untuk menekan Rihany.

"Kenapa tidak bisa? Maaf, tapi Rihany adalah putriku. Aku yang melahirkannya, Anda tidak punya hak untuk melarang." Bianca tetap bersikeras tidak membiarkan Rihany berbicara dengan Rima. Dia merasa perlu melindungi Rihany karena perempuan itu sedang mengandung cucunya.

"Tidak apa-apa, Ma. Aku tidak keberatan." Rihany tidak masalah berbicara berdua dengan mamanya. Dia ingin tahu apa yang ingin mamanya bicarakan.

***






Karena KamuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang