Aaron menyentuh kening Rihany ketika perempuan itu keluar dari dalam toilet. Dingin, itulah yang Aaron rasakan. Melihat lagi wajah Rihany, Aaron semakin khawatir. Dia lalu mengajak perempuan itu keluar dari restoran tersebut. Beruntung mereka belum memesan makan tadi.
"Sudah lebih baik?" tanya Aaron. Rihany bersandar di kursi mobil sembari memejamkan matanya. Dia mengangguk menjawab pertanyaan Aaron. Rasanya memang lebih baik setelah keluar dari dalam restoran.
"Kalau seperti ini kamu akan sakit nantinya," kata Aaron melihat kondisi Rihany. Tidak ada makan yang masuk ke dalam perut perempuan itu sejak siang.
"Apa tidak ada makanan yang kamu inginkan?" Rihany membuka matanya lalu melihat Aaron dengan mata sembab. Jujur saja kepalanya masih berdenyut nyeri. Untuk membuka mata saja rasanya sedikit berat.
"Rujak." Rihany menginginkan makanan asam itu. Membayangkannya sudah membuat kepalanya sedikit membaik.
"Rujak? Mana ada malam-malam seperti ini yang jual rujak."
"Aku hanya mau makan itu." Aaron menggeleng tegas menolak keinginan Rihany. Dia yakin tidak ada yang jual rujak menjelang tengah malam seperti ini.
"Yang lain," katanya.
"Aku tidak menginginkan yang lain." Rihany kembali memejamkan matanya. Dia yakin kalau Aaron tidak akan mengabulkan keinginannya.
Aaron melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya. Dia tidak mengatakan apapun lagi pada Rihany. begitu tiba di apartemen Aaron Rihany langsung masuk ke dalam kamar yang dia tempati kemarin. Sementara Aaron berada di ruang tamu apartemennya.
"Ma, bagaimana caranya membuat rujak?" tanya Aaron pada mamanya melalui panggilan telepon. Tawa Bianca, mamanya Aaron membahana mendengar pertanyaan putranya itu.
"Serius, Nak, kamu nanya hal itu malam-malam begini?" Bianca yakin kalau putranya hanya bercanda menanyakan hal tersebut. Lagi pula Aaron tidak pernah menyukai makanan yang terdiri dari berbagai macam buah tersebut.
"Aku serius, Mam. Temanku menginginkan makan itu." Bianca terdiam beberapa saat. Dia menduga-duga banyak hal namun, tidak ingin menanyakannya langsung pada putranya. Bianca kemudian menyebutkan bahan-bahan yang di perlukan untuk membuat rujak. Setelahnya dia juga menjelaskan cara membuat sambalnya.
"Kamu sudah paham 'kan?"
"Paham, Ma."
"Bagus. Nanti kalau sudah jadi fotoin ke Mama. Mama mau lihat hasil karya kamu," kata Bianca antusias.
"Oke," balas Aaron singkat. Dia kemudian meminta izin untuk mengakhiri panggilan. Karena dia ingin langsung membuatkan Rujak untuk Rihany.
Aaron membuka lemari pendingin di dapurnya. Beruntung asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya selalu menyediakan berbagai macam buah di sana. Kali ini Aaron menemukan tiga macam buah di dalam kulkasnya. Ada mangga, Apel dan pepaya. Tiga buah itu sudah cukup untuk membuat rujak. Setelah mengupas dan memotong buah-buahan tersebut, Aaron membuat sambal.
Karena dia tidak memiliki kacang tanah, Aaron menggantinya dengan kacang almond. Mengikuti semua arahan Mamanya yang dia rekam tadi. Aaron akhirnya berhasil membuat rujak dengan bahan seadanya.
"Kamu buat apa?" Aaron mengalihkan pandangannya. Dia mendengar langkah kaki tadi, dan sudah menebak kalau langkah tersebut milik Rihany.
"Cobalah!" Aaron memberikan rujak tersebut ke hadapan Rihany.
"Terima kasih," ucap Rihany sembari tersenyum lembut. Dia mencoba rujak buatan Aaron.
"Enak?" Aaron melihat Rihany memakan rujak buatannya dengan lahap. Rihany mengangguk tanpa melihat ke arah Aaron. Sejak dia memasuki dapur tadi dia sudah sangat tertarik dengan isi dari piring tersebut. Mendapat kesempatan untuk memakannya, Rihany tidak mungkin melewatkan kesempatan tersebut terlebih perutnya sudah berteriak minta diisi.
"Boleh aku mendapatkannya lagi besok pagi?" tanya Rihany setelah dia menghabiskan satu piring rujak tanpa sisa satu potong pun.
"Tidak," tolak Aaron tegas.
"Besok pagi sarapan susu sama roti." Rihany mengernyit tidak senang dengan ucapan Aaron.
"Bagaimana kalau aku mual?"
"Tidak akan," ucap Aaron yakin. Melihat Rihany yang tidak muntah makan buah maka dia akan meminta asistennya untuk mengantar selai buah besok pagi.
"Sekarang kembali ke kamar dan istirahat!" perintah Aaron tegas. Rihany menghentakkan kakinya ke lantai namun, tetap menurut masuk ke dalam kamarnya. Tanpa sadar Aaron tersenyum melihat tingkah Rihany.
***
Aaron sudah bangun dari jam setengah enam tadi. Asistennya sudah mengantar selai yang dia pesan lima menit yang lalu. Sekarang dia sedang menyiapkan sarapan untuk Rihany. Perempuan itu sedang berada di dalam kamar mandi.
"Selamat pagi," sapa Aaron begitu melihat Rihany datang. Wajah perempuan itu pucat.
"Muntah lagi?" Rihany mengangguk lemah menjawab pertanyaan Aaron. Dia menatap susu yang disodorkan Aaron ke hadapannya tanpa minat.
"Habiskan!" perintah Aaron tanpa bisa dibantah oleh Rihany. Wajah garang Aaron cukup menakutkan. Rihany meminum susu tersebut tanpa jeda. Dia langsung menghabiskannya.
"Pintar," puji Aaron melihat Rihany yang langsung menghabiskan susu hamil. Aaron membelinya saat pagi tadi, dia memilihkan susu paling mahal untuk anaknya.
Saat kedua asyik sarapan tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Aaron membulatkan matanya ketika melihat mamanya dan juga Oma Yuna berdiri tidak jauh dari mereka. Tidak lama keluarganya yang lain juga masuk ke dalam apartemennya. Aaron menelan ludahnya susah payah melihat hampir semua keluarganya berkumpul di apartemennya.
"Selesaikan sarapan kalian setelah itu kita berbicara," kata Lukas tegas. Pria dengan seluruh rambut berwarna putih itu masih terlihat begitu tegap dan juga sehat. Pria itu bahkan masih memantau perusahaan sampai sekarang.
"Mereka siapanya kamu?" tanya Rihany.
"Keluarga saya," jawab Aaron pendek. Aaron meletakkan roti yang ada di tangannya ke piring. Selera makannya tiba-tiba hilang setelah melihat keberadaan keluarganya di sana.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Kamu
RomantikBerniat melupakan mantan yang masih menghuni hatinya, Rihany mengikuti saran temannya untuk pergi ke club malam. Di sana kemudian dia bertemu dengan Aaron Marvel Harisson. Dia mengira pria itu pria malam. "Saya akan memberikan kamu uang, sebagai gan...
