Aaron merasa ada yang beda dari Rihany sejak mereka menikah. Perempuan itu lebih pendiam dan tatapannya matanya sering kali menyorotkan kesedihan. Aaron sudah mencoba mencari tahu namun dia tidak mendapatkan jawaban apapun. Sudah dua bulan berlalu sejak hari pernikahan mereka. Sikap Rihany tetap sama. Jika ditanya, perempuan itu tidak pernah jujur.
Aaron sekarang sedang berada di kantornya. Satu bulan yang lalu dia resmi diangkat menjadi CEO di perusahaan milik keluarganya. Kesibukannya di perusahaan bertambah. Tidak jarang dia pulang di atas jam delapan malam. Oleh karena itu dia dan Rihany sepakat untuk mempekerjakan satu orang asisten rumah tangga. Seorang perempuan berusia hampir lima puluh tahun. Namanya, Bu Lani. Wanita itu telah bekerja dengan keluarga Aaron selama lima belas tahun di rumah utama.
Hari ini Aaron kembali akan pulang lebih lama dari biasanya. Dia kemudian menghubungi Rihany untuk memberitahukan tentang hal tersebut. Aaron mengerutkan keningnya setelah dua kali mencoba menghubungi perempuan itu dan tidak mendapatkan jawaban. Aaron menyentuh deretan angka nomor ponsel Rihany. Dia mencoba menghubungi istrinya itu sekali lagi. Sama seperti sebelumnya, Rihany tidak menerima panggilan telepon darinya.
"Apa yang dia lakukan sekarang?" tanya Aaron pada dirinya sendiri. Aaron lalu menghubungi telepon apartemennya.
"Halo," sapaan Bu Lani terdengar ramah.
"Bu Lani, Ini Aaron. Rihany ada di rumah?" tanya Aaron langsung. Dia penasaran kenapa Rihany tidak menerima panggilan telepon darinya.
"Nyonya muda pergi sejak tiga jam yang lalu, Tuan. Dan belum kembali hingga sekarang." Bu Lani menjawab dengan nada khawatir. Nyonya mudanya itu pergi dengan buru-buru tadi.
"Ke mana?"
"Tidak tahu, Tuan. Nyonya tidak bilang akan pergi ke mana." Aaron buru-buru menutup teleponnya. Aaron kemudian menghubungi Jean. Dia meminta sahabatnya itu untuk melacak keberadaan Rihany.
"Halo." Aaron tidak menunggu ketika panggilan telepon dari Jean masuk ke ponselnya.
"Dasar tidak sabaran," sungut Jean kesal. Pasalnya setelah Aaron meneleponnya tadi, pria itu kembali mengirimkan pesan beruntun yang memintanya melakukannya dengan cepat.
"Katakan saja lokasinya di mana sekarang, Jean. Tidak perlu basa-basi." Aaron sangat mengkhawatirkan istrinya. Dia tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi.
"Gedung kos tepatnya tinggal dulu. Dia ada di sana."
"Oke, terima kasih." Aaron memutus panggilan setelahnya. Dia kemudian mengambil kunci mobilnya dan segera menuju tempat Rihany berada. Dia tidak tenang membiarkan Rihany berkeliaran di luar apartemen.
***
Dua jam setelah Aaron pergi ke kantor, Rihany juga keluar dengan langkah buru-buru. Dia mendapat pesan dari Netta untuk mengajak bertemu. Rihany menurutinya karena perempuan itu mengatakan ada hal penting yang ingin dia sampaikan mengenai ibunya. Rihany tahu kalau Netta hanya berbohong namun, dia sangat penasaran dengan kebohongan apa yang akan Netta sampaikan.
Tempat mereka bertemu tidak jauh dari apartemen. Rihany sengaja memilih tempat itu karena menurutnya lebih aman saja. Saat masuk ke dalam kafe Rihany langsung melihat Netta dengan dengan mamanya yang duduk berdampingan. Mereka tidak menyadari kedatangan Rihany. Obrolan mereka cukup serius sepertinya.
"Rencana ini harus berhasil. Kalau tidak Papa kamu akan mendekam di penjara untuk waktu yang lama," kata sang Mama pada Netta yang mendengus kesal.
"Rencana apa kalau boleh tau?" tanya Rihany dengan memasang wajah datarnya.
"Kami tidak merencanakan apapun, Nak." Rihany tersenyum tipis mendengar nada bicara mamanya yang berubah lembut. Ini pertama kalinya setelah dua puluh tahun lebih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karena Kamu
RomanceBerniat melupakan mantan yang masih menghuni hatinya, Rihany mengikuti saran temannya untuk pergi ke club malam. Di sana kemudian dia bertemu dengan Aaron Marvel Harisson. Dia mengira pria itu pria malam. "Saya akan memberikan kamu uang, sebagai gan...
