28. Kematian dalam kesedihan

4 2 0
                                        

"eh, bukannya itu Diana, ya?"

"Kok dia masih berani buat datang ke sekolah, sih?"

"Dia kan harusnya masuk penjara, kok dia masih berkeliaran kayak gitu sih?"

"Mungkin aja kan orang tuanya bayar polisi buat bebasin anaknya, mereka banyak uang!"

"Heh! Lo gak denger? Katanya orang tua Diana jatuh bangkrut, rumahnya aja di sita. Kata ibu gue, Ayahnya menghilang entah kemana. Ibunya juga kayak ngak ada."

"Hah? Jadi sekarang dia hidup kayak gembel? Pantas aja pakaiannya aja lusuh kayak gitu, mungkin aja kan dia berhari-hari ngak ganti baju!"

"Makannya jadi orang itu jangan belagu, kan kalau udah jatuh gak ada yang mau nolongin!"

Umpatan para siswa terus saja terdengar disepanjang lorong saat Diana yang sedang memapah tubuhnya dengan lemas, sudah hampir satu hari ia tidak makan. Ia hanya Luntang-lantung di jalanan hanya untuk menjernihkan pikirannya. Mungkin akan ada keajaiban yang akan datang kepadanya. Namun, ternyata tidak ada apapun.

Ia sudah pasrah dengan hidupnya yang sudah tidak bisa ia perbaiki, tidak ada lagi untaian tangan yang mau menolongnya. Sekarang Diana tengah berada di ujung jurang, satu-satunya jalan hanyalah terjun  ke dalam jurang atau hanya diam sendirian dengan ketakutan.

"Diana?" panggil Allen, di sampingnya terdapat Axel, Devin dan juga Alvian. Mau bagaimanapun mereka adalah sahabat Diana.

Diana hanya menatap kosong ke arah Allen, wajahnya terlihat lesu lalu memelas. Melangkah mendekati Allen menghiraukan cemoohan yang sedang orang-orang bicarakan. Diana sudah tidak peduli dengan hinaan orang-orang kepadanya, karena sekarang yang orang bilang adalah sebuah fakta yang harus ia terima.

"Aku malu," ucap Diana, suaranya tidak begitu bisa di dengar oleh banyak orang. Karena saat itu suasana tengah ramai.

"Maaf, aku gak bisa bantu kamu. Aku gak tahu harus ngapain buat bantuin kamu." Bahkan di sisi lain Diana memiliki niat jahat kepada Allen, namun dengan sisi lembutnya Allen dengan suka rela masih memikirkan Diana.

"Laporin aku ke polisi, aku tahu kamu yang minta orang tua kamu buat bebasin aku kan?! Kenapa Allen?"

"Kita sahabat, Diana! Aku tahu kamu benci sama aku, tapi ngak kayak gini."

"GUE BENCI SAMA LO ALLEN! LO ADALAH MANUSIA YANG PALING JAHAT DI DUNIA INI, KENAPA TUHAN UDAH KASIH GUE TEMEN KAYAK LO!"

"Diana brengsek! Kita di sini mau peduli sama lo, kita di sini masih punya niatan mau nolongin lo. Tapi kenapa lo malah bilang gitu sama Allen? Lo udah sadar gak sih sama ucapan lo barusan? Musibah yang lo alami ini belum cukup buat bikin lo sadar?!" jelas Devin.

"Gue gak minta kalian untuk peduli sama gue, gue bisa sendiri. Gue bisa hidup sendirian tanpa bantuan kalian!" ucapnya sambil tertawa seperti orang gila.

"Terserah mau lo apa, Diana. Yang penting gue ngak mau lo sekolah di sini lagi, gue gak mau temenan sama lo lagi mulai dari sekarang. Kita udah jijik tahu gak sih lihat lo di sini!" Alvian menatap rendah tubuh Diana yang sudah lusuh.

"Gak Alvian jangan gitu, kita mau kok nerima lo kembali. Asal lo sadar, bahwa yang udah lo lakuin adalah sebuah dosa besar yang harus lo obatin. Kita butuh maaf dari lo, kita butuh Diana yang baik, kita butuh Diana yang menyadari kesalahannya. Bukan Diana yang  selalu bangga akan kesalahannya!"

Diana menggelengkan kepalanya, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya yang kotor. "Gue gak bisa, gue udah malu. Muka gue mau di taro dimana? Dan ini semua gara-gara kalian! Kalian tega hancurin hidup sahabat kalian sendiri?"

Story Renjio [ END ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang