Abigail mendengar handphonenya yang berdering di atas meja belajar, namun karena ia sedang mengeringkan rambut membuat ia kesusahan untuk meraih handphonenya yang sedikit jauh.
Abigail sedikit mengintip layar handphonenya, tertulis nama Melodi di layar handphone. Dengan tergesa-gesa Abigail mematikan hairdryer lalu mengambil handphonenya, ia menggeser toggle ke warna yang hijau.
"Halo?" ucap Abigail.
Tidak ada balasan dari Melodi, hanya suara hening yang di dengar oleh Abigail.
"Melodi?" Abigail mengerutkan keningnya kebingungan, kenapa Melodi tidak membalas ucapannya. Tidak ada suara apapun yang ia dengar.
"Halo, Melodi?"
TUTT
Telepon dimatikan oleh Melodi, rasa binggung mulai bertambah dari benak Abigail. Kenapa dengan tiba-tiba Melodi menelponnya tanpa mengatakan apapun, apakah terjadi sesuatu dengannya?
Abigail menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan situasi ini, ia juga menggaruk-garuk kepalanya dengan rambut yang masih basah. Berusaha berfikir dengan positif, mungkin saja Melodi kehilangan signal atau baterai handphonenya robet.
Keesokan harinya Abigail mendapatkan kabar duka dari Seno, Melodi telah tiada. Ia di temukan di samping sungai yang sedang pasang karena hujan. Tubuhnya sudah kaku, diduga ia terjatuh ke sungai dan tenggelam.
Abigail sempat agak linglung dengan kabar yang baru saja ia dengar di pagi cerah ini.
"Orang satu-satunya yang mengetahui tentang Dera udah ngak ada, dia udah pergi juga meninggalkan dunia ini untuk bertemu Dera di atas sana," keluh Seno di dalam kelas Abigail.
"Padahal semalam dia nelpon gue, tapi dia ngak ngomong apa-apa," ucap Abigail tidak semangat.
"Apa?! Semalam Melodi telepon lo? Trus dia bilang apa? Kata polisi, kemungkinan dia jatuh pada saat malam. Mungkin sebelum dia jatuh dia telepon lo dulu!"
"Dia ngak ngomong apa-apa, gue kira mungkin dia ngak ada signal. Dia duluan juga yang matiin telponnya."
"Kenapa dia nelpon lo tapi ngak ngomong apa-apa yah? Apa dia cuman iseng doang? Atau dia, apa ya?"
"Kalian pikir dia memang bener-bener jatuh?" ucap Renjio dengan tiba-tiba bergabung di tengah pembicaraan.
"Maksud lo? Melodi di bunuh lagi gitu? Sekarang sama siapa yang lo bakal curugai jadi pembunuhnya, gak semua kematian itu di sebabkan oleh pembunuhan!" jelas Seno.
"Kali ini gue setuju sama Seno, ngak ada bukti yang mengatakan bahwa Melodi itu di bunuh. Apalagi kan dari pemeriksaan dia memang mempunyai luka akibat terjatuh dari jembatan ke sungai."
Tapi, ada perasaan mengganjal yang gue rasakan. Karena kemarin gue nelpon Alvian.
Batin Renjio.
FLASHBACK ON
Renjio menerima telpon dari Alvian, Renjio sedang merebahkan diri di sofa ruang tengah. Rumahnya sedang kosong karena orang tuanya masih belum pulang bekerja. Hari ini juga tidak ada tugas yang harus di kerjakan oleh Renjio.
"Hi! Renjio, gue sama Devin lagi jalan-jalan. Seru banget, tapi sorry ya gue ngak sempet ngajak lo."
"Iya gak apa-apa kok, santai. Malam-malam gini kalian jalan-jalan kemana? Bukannya besok kalian harus sekolah, ya?"
"Oh itu, gue kayaknya gak bakal sekolah besok." Kemudian Alvian tertawa, "kita mau pergi ke–eu adalah suatu tempat yang lagi mau kita datangi."
"Emangnya jauh banget tempatnya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Story Renjio [ END ]
Teen Fiction15 Juli 22 - 6 Mei 23 Renjio, hidupnya dikelilingi oleh rasa bersalah kepada sahabat kecilnya Keisya. Seakan-akan kini Keisya sedang menghukum Renjio, namun ternyata hukuman itu sangat menyakitkan bagi Renjio. Seusianya ini, Renjio masih tidak bisa...
![Story Renjio [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/316314393-64-k767752.jpg)