"Yach, sekarang gue pulang sama siapa nih? Seno udah pulang sama cewek barunya, mana kakak setingkat lagi pacarnya," protes Alvian.
"Sabar aja, mending lo nunggu supir lo datang aja ke sini. Kalau kita nungguin lo di sini keburu hujan nanti," ucap Renjio yang sudah siap duduk di atas motor, dan di belakangnya sudah ada Abigail.
"Ah kalian, gak solidaritas tau. Masa temennya di tinggalin sendiri, bentar lagi, kok."
"Alvian! Lo kayak anak kecil aja harus di temenin, lo kan udah gede. Udah jadi mahasiswa, masih aja manja."
"Nih dengerin pacar gue, lagian gak ada kok penculik yang mau nyulik lo. Ya kalau lo emang di culik kan keluarga lo duitnya banyak."
"Ah gak tau ah, kalian berdua pasangan emang serasi bener. Awas aja ya kalian kalau ketemu lagi besok sama gue, kalau kalian butuh sama gue, gue gak bakal nolongin kalian lagi. Udah sana-sana pergi, tinggalin gue aja sana!" Alvian memutarkan bola matanya penuh kekesalan kepada dua sahabatnya.
"Ciee, ngambek. Kita kan cuman bercanda, lo mah bawaannya serius mulu."
"Noh, mobil lo udah datang, sana pulang. Berisik tahu gak sih!" suruh Renjio.
Alvian kemudian melangkahkan kakinya ke dekat mobil, ia sedikit mengangguk kepada orang yang berada di dalam mobil. Alvian memegang kenop pintu mobil tersebut, tapi sebelum itu ia menoleh ke arah Abigail.
"Sana pulang Abigail, manja banget harus di anterin sama pacar."
"Ck, apaan sih. Ini gue juga mau pergi, jangan sedih ya karena nanti kita gak akan ketemu. Kalau kangen telepon aja, wle!"
"Gue gak bakal rindu sama lo, gue cuman rindu sama Devin. Temen gue yang paling ganteng, gantengnya itu melebihi pacar lo, tuh!"
Benar saja, hujan turun sebelum mereka sampai di rumah. Hujan turun dengan lebat, dengan berhati-hati Renjio memelankan kecepatan motornya. "Mau neduh dulu, ngak?" tanyanya kepada Abigail.
"Gak usah, sebentar lagi juga sampe. Lagian kita udah terlanjur basah, mending nanti di rumah aku kamu mampir dulu. Terus ganti baju, biar gak demam."
"Neduh aja, deh. Aku takut nanti kamu sakit." suaranya tidak begitu jelas di dengar oleh Abigail karena suara hujan.
"Hah?"
"Neduh dulu–"
"Hidup Renjio tanpa Keisya gimana, ma?" Renjio menangis terisak, ia memeluk sebuah mainan yang selalu ia mainkan bersama Keisya.
"Gak apa-apa, Jio. Kan ada Mama ada Papa, Renjio gak boleh takut. Karena suatu saat nanti juga kalian pasti akan bertemu lagi di dunia yang berbeda, cuman bedanya sekarang Keisya perginya duluan."
"Tapi kan, kalau Keisya pergi duluan. Jio di sini jadi sendirian, kenapa Keisya harus pergi sih? Dia gak betah yang tinggal di dunia ini, kenapa gak bilang sama Jio? Mungkin kalau Keisya bilang, Jio bakal bikinin taman bunga yang indah buat Keisya, Jio bakal bikinin makanan enak buat Keisya. Apapun yang Keisya mau Jio bakal kasih, asalkan dia bisa tetap berada di sisi Jio."
"Ini semua sudah jalannya, Jio harus ikhlas. Emang berat, tapi Mama yakin Jio bisa."
"Jio pasti akan mendapatkan sahabat yang lebih baik lagi dari Keisya, dan sahabat kamu nantinya pasti akan selalu ada buat kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Story Renjio [ END ]
Teen Fiction15 Juli 22 - 6 Mei 23 Renjio, hidupnya dikelilingi oleh rasa bersalah kepada sahabat kecilnya Keisya. Seakan-akan kini Keisya sedang menghukum Renjio, namun ternyata hukuman itu sangat menyakitkan bagi Renjio. Seusianya ini, Renjio masih tidak bisa...
![Story Renjio [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/316314393-64-k767752.jpg)