Backstreet-5-

16.8K 961 43
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.
.

Jeno mengusap rambut Haechan yang tengah tertidur di sofa dengan pahanya sebagai bantalan. Wajah pemuda itu terlihat begitu damai.

Setelah berhasil mengejar Haechan, Jeno tidak sempat menjelaskan apa-apa pada kekasihnya. Karena sang dominan malah memeluknya erat begitu saja, lalu membawanya pergi ke Apartment pribadi milik mereka berdua.

Bagi Haechan, tidak perlu mendengar sebuah  penjelasan. Melihat tatapan mata Jeno saja dia sudah tahu jika kekasihnya itu tak mungkin melakukan sesuatu yang ada di dalam benaknya.

Artinya, apa yang Haechan lihat tadi hanyalah kesalah pahaman semata. Tidak lebih dari itu.

Jeno bersyukur bisa memiliki kekasih seperti Haechan yang selalu perhatian dan mengerti tentang dirinya dari segala bentuk apapun itu.

Ya, lagipula Haechan juga tahu kalau Jaemin sudah berkencan dengan orang lain. Tidak mungkin punya hubungan juga dengan Jeno, kan? Terlebih Jaemin sering bertingkah aneh jika pemuda itu lupa diberi obat.

"Mikirin apa?"

Jeno tersentak ketika mendengar Haechan bersuara. Padahal mata sang kekasih tengah terpejam.

"Kamu bengong gitu dari tadi," ucap Haechan. Matanya perlahan mulai terbuka.

Jeno menjauhkan tangannya dari rambut Haechan, namun sang dominan menahannya.

"Kirain tidur," ujar Jeno sekenanya.

Haechan mengubah posisi menjadi menyamping. Ia bergerak memeluk pinggang Jeno, menyingkap kaos yang dikenakan oleh pemuda itu. Hingga helaan napasnya menerpa kulit perut sang submissive.

Jeno meringis pelan, merasa geli. Dia berusaha melepaskan pelukkan tangan Haechan, tapi terlalu kuat. Akhirnya ia hanya bisa menghela napas pasrah.

Haechan tersenyum tipis tanpa diketahui oleh Jeno. Merasa senang karena sang kekasih kalah darinya.

"Kita tidur sini aja, ya? Aku males kalau harus balik ke Ilichil atau Dream," ucap Haechan.

"Bukannya besok masih ada jadwal bareng Ilichil?" balas Jeno. "Gak ada yang tau tempat ini."

"Aku bisa berangkat dari sini pakai taksi online. Bukan masalah besar," sahut Haechan seraya menduselkan kepalanya di perut sang kekasih. "Kamu gak aku izinin balik ke Dream. Temenin di sini atau kamu nerima hukumannya."

Jeno berdecak, lalu memutar bola mata malas. "Terserah," ucap pemuda itu. "Akh! Haechan!" Ia memukul bahu sang dominan ketika perutnya digigit.

Haechan hanya membalas dengan wajah polos tanpa dosa. Ia melepas pelukan tangannya dan mengubah posisi menjadi telentang dengan masih berbaring di paha Jeno.

"Itu makanannya gak mau dimakan?" tanya Haechan.

Jeno melirik satu plastik berisi makanan yang dibawa oleh sang dominan.

"Besok aku panasin. Tadi udah makan. Masih kenyang," ujar Jeno.

Haechan kembali mengubah posisinya menjadi menyamping, memeluk pinggang sang kekasih lagi.

"Aku belum makan."

Jeno mengerutkan kening. Bukankah tadi sebelum pulang Haechan berkata akan makan malam dulu bersama anggota 127?

Seolah mengerti diamnya Jeno, Haechan lantas menjawab; "Aku belum makan kamu."

Haechan tergelak ketika mendapat pukulan 'cinta' dari sang pujaan hati.

"Buat tenaga besok kerja. Biar semangat nyari uangnya," kata Haechan diakhiri tawa geli.

"Gak usah aneh-aneh," ucap Jeno pelan.

Haechan kembali tertawa. "Becanda, sayang," sahutnya seraya membubuhkan ciuman mesra di bagian perut sang kekasih hati.

Lagi-lagi Jeno hanya bisa berdecak melihat kelakuan Haechan yang seperti ini. Bukan apa-apa, area perut itu sangat sensitif. Selalu mengundang getaran aneh untuk dirinya.

"Pindah kamar, yuk. Aku ngantuk," kata Haechan seraya bangun.

Jeno mengangguk. "Duluan. Aku mau ke kamar mandi."

"Oke." Haechan mencuri ciuman di bibir sang kekasih, lalu tersenyum miring. Ia lantas berdiri. "Kalau lebih dari lima menit, ada hukumannya. Jadi, kalau gak mau dihukum, jangan telat."

Kening Jeno mengkerut. "Kamu_" Pandangan matanya jatuh ke area selangkangan sang dominan. Pemuda itu berdecak pelan. Kalau sudah seperti ini, walaupun ia tidak telat, tetap saja hasilnya sama. Dia akan terterkam juga oleh Beruang yang ingin dimanja.

Haechan yang melihat raut wajah sang kekasihnya hanya bisa tertawa geli. Lucu sekali.

"Aku tunggu di kamar," kata Haechan seraya beranjak.

"Ya," gumam Jeno pelan.

Haechan berlalu ke kamar tidur, sementara Jeno masih di ruang tamu. Dia menghela napas, lalu berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Pemuda itu hanya ingin membuang air kecil, sekalian sikat gigi sebelum tidur.

Namun, sepertinya Jeno tidak bisa tidur cepat malam ini karena harus meladeni Haechan dulu sampai sang dominan puas.

.
.
.

Tbc~~~

Hemm, ingin dibumbuin konflik yang ringan atau berat, nih?




Backstreet(Hyuckno) Done ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang