Backstreet-9-

14.2K 843 33
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


.
.
.

Jaemin merangkul Jeno yang tengah duduk di sebuah kursi di tempat lokasi syuting pemotretan salah satu produk kecantikan yang dibintangi oleh NCT unit Dream dengan pormasi lima anggota.

Jeno hanya melirik sekilas ke arah pemuda Na itu, sebelum kembali fokus pada ponselnya. Dia tengah membalas pesan sang kekasih yang menanyakan apakah ia sudah makan atau belum.

"Ngapain, Jen?" tanya Jaemin penasaran. Terlebih respon Jeno cukup dingin menanggapi rangkulan darinya.

Jeno mematikan layar ponsel ketika melihat Jaemin tengah melirik-lirik penasaran apa yang tengah ia lakukan.

"Dih? Pelit amat langsung dimatiin layarnya," gerutu Jaemin.

Jeno tidak menjawab, dia hanya memberi lirikan sekilas. Lalu, menatap pada Chenle dan Jisung yang sedang memperebutkan sesuatu.

"Chating sama siapa sih, Jen?" Sepertinya Jaemin masih penasaran.

"Bukan urusan lo," sahut Jeno.

"Ck!"

Jaemin berdecak jengkel, lalu melepaskan rangkulannya di bahu Jeno. Sementara pemuda itu kembali melihat ponsel.

"Oh, ya, Jen. Kemarin lo sama Haechan nginep di rumah teman kalian yang mana? Idol juga atau bukan?" tanya Jaemin.

"Bukan," sahut Jeno singkat.

Kening Jaemin mengkerut. Sebenarnya dia hanya iseng bertanya demikian pada Jeno, tapi kenapa sekarang ia jadi penasaran begini?

Pasalnya, jawaban Haechan berbeda dengan Jeno ketika ditanya hal yang sama oleh Jaemin.

Haechan menjawab jika teman yang mereka berdua maksud itu Idol. Sementara Jeno kebalikannya.

Lantas, jawaban siapa yang benar?

"Kenapa lo?" tanya Jeno dengan alis bertaut heran kala tidak mendengar suara Jaemin lagi.

Jaemin segera tersadar, kemudian menggelengkan kepala. Pemuda itu memutuskan untuk tidak membahas masalah 'perbedaan jawaban' ini. Namun, ia memiliki keyakinan jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh Haechan dan Jeno. Sesuatu yang cukup penting, dan dia harus mencari tahunya.

"Oh, ya, lo tadi ke sini dianterin sama Haechan?" tanya Jaemin berbasa-basi.

Jeno mengangguk sebagai jawaban.

"Pake mobil Manager Ilichil?" tanya Jaemin lagi.

"Mobil Haechan," sahut Jeno seadanya.

"Eh, pantesan tadi pagi gue lihatin mobil dia gak ada di tempat parkir dorm," ucap Jaemin. "Tapi, tumbenan Haechan mau nyetir sendiri gitu. Kesambet apaan dia?" ledeknya.

"Mungkin takut mesin mobilnya bermasalah karena lama gak dipake," kata Jeno, menjawab dengan realistis.

"Apaan. Semingguan lalu juga dia pake mobilnya, tuh," celetuk Chenle yang baru bergabung setelah selesai bertengkar dengan Jisung. Si maknae mengekor di belakang. "Dipake pergi bareng sama lo, kan?" lanjutnya pada Jeno.

"Emang beneran, Jen?" tanya Jaemin seraya memandangi Jeno.

"Heem." Pemuda bermarga Lee itu hanya bergumam sebagai jawaban.

"Kalau dipikir-pikir, lo sering banget jalan berduaan sama Haechan saat dia lagi gak ada kerjaan atau saat free gitu," cetus Jaemin.

"Udah jadi kebiasaan begitu, kan?" ucap Chenle. "Kalau gak pergi keluar, Haechan dan Jeno bakal diem terus di kamar berduaan. Keluar kamar pas waktunya makan doang," lanjutnya.

"Eh, bener. Gue baru sadar soal kebiasaan itu," kata Jaemin sembari memandangi Jeno dengan sorot mata curiga.

"Emang ada yang salah dari semua itu?"

Jaemin, Chenle, Jisung bahkan Jeno langsung menoleh pada Renjun yang baru saja bersuara.

"Ya, enggak ada, sih, Ren," sahut Jaemin seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Renjun mendengus. "Terus masalahnya buat lo apaan sampe ngebahas hal ginian segala?" ujarnya sembari duduk di sebelah Jeno yang sejak tadi diam karena mendengar perkataan dari Jaemin.

"Mereka berdua ini bahkan udah kenal sebelum masuk SM jadi traine. Wajar kalau apa-apa berduaan. Namanya juga sahabat," kata Renjun. "Kaya lo sama Mark Hyung enggak aja, sih. Bahkan kalau dia ke Dream, pasti selalu nempel sama lo, bukan yang lain. Gak ada bedanya dengan Haechan dan Jeno."

Jaemin cengengesan tidak jelas mendengar penuturan dari Renjun. Memang benar, sih. Kalau Mark ke Dream, pasti selalu menempel pada Jaemin.

"Hehehe, iya juga, ya," gumam Jaemin. "Mungkin gue doang yang kepikiran."

Renjun mendengus. "Udahlah, lo gak perlu ngebahas hal yang gak penting dan udah jelas jawabannya apaan," kata pemuda itu.

"Iya, iya. Maaf," ucap Jaemin penuh sesal.

Tidak ada yang berbicara lagi setelahnya. Bahkan Jeno yang menjadi topik utama pembicaraan. Pemuda itu hanya diam tanpa berniat untuk mengeluarkan suara. Terlebih sudah ada Renjun yang mungkin tanpa sadar membantunya.

Sementara Renjun, dia tengah memperhatikan Jeno sedari tadi. Ada senyuman tipis di wajahnya.

Kalau kalian emang gak mau bilang, gue yang tau juga gak perlu lancang ngomong, kan? Semua keputusan ada di tangan kalian, bukan gue.

.
.
.

Taeyong tersenyum lega karena hari ini maknae Ilichil telah kembali menjadi sosok seperti sedia kala. Tidak lagi berwajah datar dan berucap dengan nada dingin.

Mungkin memang benar, kemarin Haechan sedang berada dalam mood buruk. Sehingga pemuda itu lebih pendiam daripada biasanya.

Tapi, sekarang delapan anggota unit 127 bersyukur karena Haechan telah kembali, dan mereka berjanji tidak akan lagi membahas masalah kemarin yang membuat Haechan marah.

"Chan, nanti malam kita main game, yuk! Gue udah beli ps baru kemarin bareng Yuta," ujar Johnny sembari merangkul Haechan yang tengah berdiri memandangi kaca besar di tempat latihan. Sedangkan anggota lain tengah mengobrol di sofa bersama salah satu koreografi.

"Wah, mau, sih. Tapi, gue gak bisa, Hyung. Ntar malam gue mau nginep di Dream," sahut Haechan. "Soalnya udah janji sama Jeno. Dia bisa marah kalau gue ingkari janji gitu."

Johnny terlihat heran. "Besok lo masih ada jadwal bareng kita. Kenapa milih nginep di Dream?" tanyanya. "Lebih baik di Ilichil. Biar gak ribet. Manager meski jemput lo."

"Gak apa-apa, sih. Pengen aja," sahut Haechan. "Lagian gue bisa berangkat sendiri dari dorm Dream. Jadi, Manager Hyung gak perlu jemput segala."

Meskipun terlihat heran dengan keputusan Haechan untuk menginap di dorm Dream malam ini padahal kegiatan pemuda itu masih padat bersama unit 127.

"Ya, udah, deh. Sayang banget malam nanti belum bisa nyobain ps nya," kata Johnny.

"Lusa gue di Ilichil, kok," ujar Haechan seraya mengambil ponselnya yang bergetar di saku celana.

Johnny mengangguk, lalu tersenyum. "Baguslah," ujarnya.

Haechan tidak lagi menjawab karena dia tengah fokus pada ponsel di tangannya. Sementara Johnny diam-diam memperhatikan.

Kening Johnny mengkerut ketika melihat Haechan tengah tersenyum memandangi ponsel.

Sebenarnya gue gak mau penasaran gini, tapi kenapa akhir-akhir ini tingkahnya emang mencurigakan? Selalu aja senyum waktu ngelihat ponsel. Padahal biasanya enggak. Apa salah kalau gue curiga dia emang udah punya seseorang yang disayang dan dijaga?

.
.
.
Tbc.

Semalam mau update, gue ga mood. Jadinya milih tidur dulu -,-

Backstreet(Hyuckno) Done ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang