Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ps: Setelah adegan chap sebelumnya, ceritanya aku bercepat, ya. 127 udah CB dan promosi di mushow.
. .
"Udah."
Haechan hanya bisa tertawa mendengar rengekan dari Jeno yang memintanya untuk berhenti. Padahal sang kekasih yang menantang, tapi dia juga yang akhirnya kewalahan.
"Hyuck...."
"Iya, sayang."
Haechan kembali tertawa, lalu mencium bibir Jeno beberapa saat, sebelum kemudian ia menjauh dari atas tubuh kekasihnya itu.
Jeno berdecak. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengubah posisinya menjadi menyamping.
Kata orang tua dulu, jika sudah berhubungan badan, sebaiknya segera mengubah posisi tubuh menyimpang agar jalannya sel telur tidak terhambat menuju rahim.
Ya, itu berlaku untuk seorang perempuan, sih. Tapi, Jeno hanya ingin mencobanya saja. Siapa tau keberuntungan itu juga terjadi padanya.
"Capek, hm?" tanya Haechan yang sudah selesai membersihkan cairan sperma Jeno di tubuhnya.
Sang kekasih hanya mengangguk. Matanya terlihat terpejam. Namanya juga baru selesai berhubungan badan, siapa yang tidak lelah?
"Tidur, ya," kata Haechan sembari mencium kening kekasihnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Jeno saat melihat Haechan sudah memakai celana dan hendak keluar kamar.
"Ambil minum bentar," sahut Haechan. "Kamu mau minum juga?"
Jeno mengangguk. Haechan tidak membalas, pemuda itu segera berlalu keluar kamar untuk mengambil minuman.
Jeno kembali menarik napas, kemudian ia meringis pelan. Ini salahnya sendiri karena berani menantang Haechan. Sehingga sang kekasih benar-benar seperti binatang buas yang tengah memasuki masa kawin.
Tapi, tidak masalah selangkangan Jeno sakit atau perih, yang penting sang dominan tidak bosan dan berniat pergi meninggalkannya karena kurang perhatian darinya.
"Aku gak tau gimana jadinya kalau sampai Haechan benar-benar pergi ninggalin aku," gumam Jeno pelan.
Tidak berselang lama, Haechan kembali membawa segelas air putih dan sebungkus chocobi.
Jeno menarik napas kala melihatnya. Haechan dan chocobi seolah tidak bisa dipisahkan. Bahkan dia pernah diabaikan karena Haechan sibuk memakan cemilan tersebut. Sampai rasanya ia ingin memusnahkan chocobi dari muka bumi.
"Bangun dulu, sayang."
Suara Haechan segera menyadarkan Jeno. Pemuda itu lantas bangun, dan berusaha duduk. Ia sedikit meringis. Sang dominan terlihat membantunya minum dengan memegang gelas air putih tersebut.
"Udah?" tanya Haechan yang dibalas anggukkan kepala dari Jeno. "Sekarang tidur, ya."
Jeno mengangguk lagi, kemudian kembali berbaring. Rasa kantuk mulai menyerangnya.