Haechan hanya tertawa menanggapi omelan tersebut. Namun, ia langsung menjauh dari dekat Renjun ketika melihat bagaimana ekspresi Jeno.
Sang kekasih sedang cemburu. Dia tahu itu.
"Chan." Jaemin memanggil.
"Hm?" balas Haechan yang sedang ikut memotong beberapa sayuran di dekat Jeno.
"Menurut lo siapa yang paling imut di antara gue, Renjun dan Jeno?" tanya Jaemin random.
"Hey! Pertanyaan apaan itu, anjir!"
Renjun langsung misuh-misuh. Sementara Haechan, Jaemin tertawa dan Jeno hanya melirik tanpa bersuara.
"Wajib dijawab, Chan. Gue nunggu, nih," kata Jaemin.
"Hm .... Siapa, ya?" Haechan melirik usil ke arah Renjun dan Jaemin. Tapi, saat menatap Jeno, dia terkekeh pelan.
"Siapa hayo~~~?" Jaemin bergaya imut.
Haechan merangkul Renjun, lalu berucap dengan nada jahil. "Dia, nih."
"Hadeh!"
Renjun melotot dan Jaemin langsung pura-pura merajuk. Bibirnya mengerucut. Sementara Jeno masih diam, fokus pada pekerjaan pemuda itu.
Sedangkan Haechan sendiri hanya tertawa tanpa dosa.
"Dasar bucin Renjun!" ledek Jaemin. "Di mata lo emang cuma Renjun yang imut. Ya, kan, Jen?" lanjutnya.
"Heem." Jeno berdeham singkat.
"Hahaha. Tuh, tau," balas Haechan sembari melepas rangkulannya. Pemuda itu mendekat pada Jeno, lalu memegang tangan sang kekasih tanpa diketahui oleh yang lain.
"Di hatiku, tetap kamu yang paling lucu," bisik Haechan pelan.
Jeno hanya melirik sekilas, lalu fokus lagi pada pekerjaannya. Dia juga berusaha melepaskan tangan Haechan yang menggenggam tangannya. Namun, sang dominan malah tersenyum tipis.
"Lagi sariawan, Jen? Diem mulu dari tadi," tegur Jaemin.
Haechan langsung melepaskan genggaman tangannya, lalu kembali membantu Jeno memotong sayuran.
"Lo mau ngeliat gue akrobat di sini?" balas Jeno.
Renjun tergelak, Haechan terkekeh sembari geleng-geleng kepala dan Jaemin melotot.
"Gak gitu juga, anjir!" ucap Jaemin.
"Lagian pertanyaan lo aneh aja," kata Renjun.
"Aneh gimana? Lo lihat Jeno, deh. Dari tadi emang diem anteng. Gak biasanya," balas Jaemin.
Renjun melirik Jeno. Ya, dia juga merasa seperti apa yang dirasakan oleh Jaemin, sih. Sejak datang ke dapur, Jeno sama sekali tak bersuara. Kecuali ada yang bertanya.
"Dia udah kelaparan dari tadi, makanya diem mulu. Nunggu kalian pulang lama banget," ucap Haechan sambil bersiul.
Jeno meliriknya, lalu mendengus dan Haechan tertawa pelan.
"Emang iya, Jen?" tanya Jaemin yang dibalas anggukkan kepala dari Jeno. "Yaelah. Kan, bisa pesan makanan atau masak. Si Haechan bisa, tuh."
"Bentar lagi aku ke dorm Ilichil," ucap Haechan ketika melihat Jeno datang ke kamar.
Sang submissive melirik, lalu mengangguk. Dia berjalan ke kamar mandi.
"Kamu gak mau nahan aku biar di sini aja gitu?" kata Haechan sembari memandangi kekasihnya.
"Itu keinginanmu sendiri yang mau di Ilichil," balas Jeno.
"Yaaah .... Padahal aku pengin ada adegan kaya di film-film. Saat si dominan mau pergi, submissive nya nahan karena ingin ditemenin."
Haechan bersiul-siul ketika mengatakan kalimat tersebut. Matanya menatap layar ponsel, tengah membalas pesan dari Taeyong.
Jeno menoleh pada sang dominan. Kalau'pun ia memang sangat ingin agar Haechan tak pergi malam ini, dia tidak mungkin mengatakannya secara langsung.
"Silahkan main film," ucap Jeno seraya mengambil piyama tidur di dalam lemari.
Haechan terkekeh mendengar perkataan dari sang kekasih. Dia tahu sekali maksud kalimat kekasihnya ini.
Pemuda itu beranjak mendekati Jeno, lalu memeluknya dari belakang.
"Becanda. Besok aku masih libur. Jadi, malam ini mau pergi keluar dulu atau enggak?" bisik Haechan seraya mencium pipi sang kekasih. "Baru jam delapan lebih."
Jeno menyandarkan tubuhnya pada tubuh sang dominan agar mendapat posisi yang nyaman.
"Ke mana?" balasnya.
"Ada tempat yang mau kamu tuju?" ucap Haechan.
"Gak tau," sahut Jeno.
Haechan menggendong sang kekasih, kemudian membawanya ke tempat tidur. Terdengar decakan kesal dari Jeno ketika pemuda itu menindih tubuhnya.
"Berat," ucap Jeno. Ia menghindar kala Haechan ingin mencium bibirnya. Hingga ciuman itu mengenai pipi. Sementara sang dominan malah terkekeh.
"Jalan, yuk," kata Haechan seraya mengusap poni kekasihnya.
"Ngantuk," balas Jeno singkat.
"Masa?"
Jeno menoleh dan Haechan mengambil kesempatan tersebut untuk mencium bibir kekasihnya itu.
Sang submissive hanya bisa pasrah saja menerima ciuman dari sang dominan. Bahkan kini kedua tangan Jeno mengalung indah di leher Haechan.
Ciuman tersebut hanya berselang beberapa menit, karena Jeno meminta udah.
Haechan tertawa pelan ketika melihat bibir kekasihnya sedikit memerah. Sementara sang kekasih tengah berdecak. Pipi putihnya merona samar.
"Aku serius. Mau jalan? Selagi ada waktu, karena ke depannya kita bakal sibuk oleh jadwal," kata Haechan. "Mungkin bakal jarang punya waktu berdua."
Jeno terdiam menatap sang dominan untuk beberapa saat, sebelum kemudian mengangguk.
"Namsan Tower," ujar Jeno pelan.
"Oke."
Haechan tersenyum. Dia mengecup bibir Jeno sekilas, lalu beranjak dari atas tubuh sang kekasih.
"Aku ke kamar dulu buat ganti baju. Kamu pakai baju yang hangat. Cuacanya cukup dingin," kata Haechan.
"Iya," balas Jeno singkat.
Haechan berlalu keluar kamar, dan Jeno beranjak untuk mengganti pakaiannya.
Sang dominan benar. Tidak ada waktu bagi mereka bisa berduaan seperti ini. Mereka memiliki jadwal yang cukup padat ke depannya. Terutama Haechan, yang harus aktif di dua unit NCT.