SEHARGA KAMAR HOTEL ITU

64 3 0
                                    

Jakarta, Mei 2015.

-

Aku memasuki aula gedung pernikahan.

Di sampingku beberapa perempuan lain sedang bersiap-siap dengan gaun yang senada denganku. Hari ini sahabatku akan menempuh perjalanan baru, sebagai istri dari seseorang. Dia sangat percaya takdir dan cinta. Melihat kedua itu menghampirinya bahkan tak lama setelah dia menyelesaikan studi S1-nya, membuatku bahagia bukan main.

Mataku mencari ke setiap sudut aula, menembus keramaian yang mulai memenuhi aula gedung.

Harusnya lelaki itu sudah sampai sejak setengah jam yang lalu, mengingat pesannya semalam yang mengatakan di jam berapa dia akan berangkat.

"Ya," seseorang menepuk pelan pundakku.

Dia. Aku hampir menyambutnya senang kalau tidak langsung menyadari raut wajahnya yang berbeda.

"kenapa?"

Pandanganku lalu jatuh pada tangan yang melingkari lengannya, lalu tertuju pada wajah perempuan di sampingnya. Lelaki di hadapanku tersenyum. Bukan senyum yang selama ini dia alamatkan padaku, tapi senyum lain yang aku tidak pernah tau dia punya. Senyum pura-pura bahwa semua terjadi sebagaimana seharusnya.

"Ya, kenalin." Mata laki-laki itu dengan cepat berpindah pada perempuan di sampingnya yang tersenyum lebar.

"halo, aku Gretha, calon istri Tirta."

Sebelumnya aku tidak pernah tau aku dan lelaki di hadapanku ini apa. Sejauh hitungan bulan yang berbeda setelah malam itu, aku tetap tidak tau kita ini apa. Lelaki itu tidak pernah menjelaskan, aku juga tidak pernah bertanya. Aku tidak tau kenapa dia tidak pernah menjelaskan, tapi aku tau kenapa aku tidak pernah bertanya.

Aku takut bertanya.

Bukan takut dia memberi penjelasan bahwa harga hubungan kami hanya sebatas harga kamar hotel itu. Bukan. Justru aku takut segalanya lebih mahal dari itu. Karena jika benar semua itu jauh lebih mahal, aku takut aku tidak cukup berani untuk membayarnya.

Dan sekarang mungkin seharusnya aku merasa tenang melihat jelas hubungan kami berada di berapa banyak angka.

Seharga kamar hotel itu. Ya, hanya segitu.

Kali ini aku yang memberi senyum yang tak pernah kualamatkan padanya. Senyum cerah meski ada mendung jauh di dalam mataku yang kuredam sebaik mungkin. Tidak akan ada hujan hari ini. Hari ini terlalu baik untuk kubiarkan digenangi air.

"hai. Alijah. Kenalan Tirta."

Aku tidak bisa memperkenalkan diri sebagai sahabat atau temannya. Aku tidak tau hubungan seharga kamar hotel itu apa namanya.

Sejak tadi mata itu memang tidak hanya berhenti padaku, namun setiap perhentiannya di mataku selalu dengan pandangan yang sama.

Dia sedang membacaku.

Gak perlu kamu baca, Ta.

Kalimat yang kubicarakan lewat mataku. Dia mengalihkan pandangan pada perempuan di sampingnya yang masih setia menjelma bidadari sempurna. Iya, sekarang rasanya, sial. Aku marah rasanya mengakui kalau sekarang semua terasa benar. Dia dan perempuan itu, terlihat sebagaimana seharusnya. Aku yang salah berada di sini. Aku yang sekarang diam-diam marah pun sudah salah.

Kenapa marah, Al?

MARI TELANJANGI SEMUA LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang