Jakarta, September 2015.
-
Tinggal sepuluh orang lagi.
Lima orang lagi.
Dua pasangan di depanku.
Aku menoleh cepat ketika laki-laki itu memindahkan pandangannya padaku di tengah cakap-cakap itu. Dua pasangan di depanku masih mengobrol ceria dengan Gretha, yang sesekali disertai senyum laki-laki itu. Genggaman tangan Reyan lima menit lalu sudah berganti menjadi tanganku yang melingkari lengannya. Dia tidak perlu tau aku sedang gugup setengah mati dan itu akan tertebak melalui telapak tanganku yang berkeringat.
Hadapi, Al. Hadapi!
Sekarang kedua mempelai itu sudah berada di hadapanku dan Reyan. Aku juga sudah memasang kebohongan sebaik mungkin di wajahku.
"selamat ya."
Tidak kusebut embel-embel nama mereka berdua. Tak apa. Aku tidak mau dia mendapatiku mampus ketika namanya terucap melalui bibirku yang bergetar.
Sentuhan salam sekian detik pada tangannya yang kuberi berganti menjadi pelukan singkat darinya. Tidak erat. Tidak dekat. Seperti sebuah surat dalam amplop putih yang di dalamnya tertera satu baris kalimat pada secarik kertasnya. Aku menolak membacanya.
Aku cepat beralih pada Gretha yang berdiri dengan anggun. Dia bahkan terlalu cantik dan nyata dalam balutan gaun pengantin itu. Aku seperti sedang menyusuri karakter utama perempuan di sebuah buku klasik. Seakan aku telah kalah berdebat dengan penulis buku itu agar mempertahankanku sebagai pemeran utama di cerita, dan si penulis itu telah merombak isi kontrak perjanjianku dengan buku itu bahwa aku harus mengemas kepahitan itu agar tidak menodai isi buku itu. Aku dipaksa berpindah ke buku lain, entah buku bekas, buku baru, persetan.
Lagi-lagi, keberadaannya terasa benar.
Gretha tidak tampak terganggu sama sekali ketika menyaksikan peluk tak berarti itu. Mungkin Tirta sudah melakukan tugasnya dengan baik dalam menggambarkan aku sebagai tokoh kecil tak bersalah dalam buku itu. Perempuan itu memelukku erat. Pelukan perempuan dengan perempuan di sebuah perayaan pernikahan.
Suara pelan Tirta sedikit mengganggu jantungku di tengah pelukan itu.
"gue titip Alijah ya."
Aku baru bisa menatap si pencetus kalimat itu selesainya pelukan tadi. Reyan sudah melepas jabat tangannya dengan Tirta diakhiri senyum gagahnya. Empat pasang mata itu sekarang jatuh padaku. Tidak, enam pasang mata. Seakan Tuhan ingin memberi kesempatan bagiku sekali saja mendapat sorot cahaya pemeran utama. Untuk yang terakhir kali.
Di tengah sorot itu aku memilih untuk menjatuhkan diri dalam tatapan laki-laki itu. Tiga detik, dengan senyum yang sejak beberapa hari lalu kubeli untuk kupasang pada bibirku yang payah ini. Cukup. Senyum pamit tiga detik tanpa drama itu cukup untuk mengamankan jantungku dari kekacauan. Setidaknya untuk sekarang.
Aku kembali menggamit lengan Reyan, berlalu dari hadapan kedua mempelai itu.
Entah berapa detik sejak kepergianku yang Tirta perlukan untuk memutus pandangannya dariku, entahlah. Aku tidak membiarkan punggungku memberitahu. Tidak perlu.
Sudah tidak perlu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARI TELANJANGI SEMUA LUKA
RomanceKita sama-sama lelah membungkus mata dengan langit senja dari negeri khayalan. Bibir kita sama-sama muak mencecap permen kapas yang telah basi. Aku, kamu. Mari kita telanjangi sakitnya. Sampai hati dan tubuh kita mampus.
