APAPUN BISA TERJADI DALAM WAKTU 20 MENIT

174 5 2
                                    

Jakarta, Februari 2019.

-

Langit malam ini tampak mesra. Gumpalan awan-awan malam bergumul membentuk kepingan-kepingan kapas di langit sana.

Mataku melirik angka yang tertera pada bagian atas layar ponsel. Sudah cukup larut.

Kali ini mungkin aku menaiki bus terakhir yang beroperasi. Sepatuku membuat ketukan berkali-kali di lantai halte dengan tak sabar. Jaket sudah kurapatkan dengan sedemikian rupa, tapi angin malam ini terlampau cerdik menyusup masuk memeluk kulitku.

Tak banyak antrian di depan atau belakangku. Hanya seorang bapak-bapak tua bertopi dengan tentengan kresek hitam yang sejak beberapa menit lalu sudah mengacaukan isi perutku karena aroma fuyunghai yang sepertinya menguar dari dalam sana. Seorang perempuan yang sedari tadi jarinya tak henti menari di atas layar ponsel, wajahnya tampak kesal. Dan seorang ibu serta bocah lelaki yang sedikit-sedikit tertawa meski kelopak mata sang ibu tampak berat untuk tetap terbuka.

Dan aku, yang berdiri di jalur antrian halte, menunggu bus dengan rute tujuanku datang.

Dari kejauhan, rute bus yang kutunggu tampak terlihat. Kosong. Mataku menyapu sekilas deretan kursi kosong melalui kaca depan bus. Jelas saja kosong, jam segini mungkin orang-orang lain sudah bercanda ria dengan kasur, atau menggelar tubuh di atas sofa ruang tamu ditemani segelas kopi hangat dan sepiring gorengan. Ah, bayangan itu sudah membuat kepalaku berdenyut-denyut lelah ingin cepat merealisasikan pikiran barusan.

Sesaat pintu bus terbuka, kakiku segera melangkah masuk dan aku menjatuhkan bokong di atas kursi deretan paling belakang. Sedang orang-orang yang tadi kusebutkan, yang juga menunggu bus rute ini, memilih kursi-kursi di barisan tengah.

Mataku baru saja hendak terpejam, namun suara derap langkah terdengar berlari ke arah bus ini, sampai akhirnya seorang perempuan memasuki bus tepat ketika pintu bus hendak menutup. Napasnya tersengal-sengal selagi ia menghampiri deretan kursiku, dan mengambil kursi di samping kaca jendela bus.

Bus pun beranjak dari halte selagi perempuan itu merapatkan coat yang ia kenakan.

Sekalipun syal merah yang tempo hari kuberikan tidak bertanggar manis di leher perempuan itu, aku tidak mungkin lupa, atau mungkin saja lupa. Tidak, aku tidak mungkin lupa wajahnya.

"mbak?"

Entah bokongku yang bodoh karena tanpa diperintahkan langsung bergeser ke sampingnya, atau tanganku yang tanpa sadar melambai di hadapan wajahnya. Aku bahkan tidak tau mau berkata apa.

Dia menoleh. Mata bulatnya sedikit menyipit, sedang keningnya membentuk kerutan di sana.

Tak lama tangannya sendiri teraih menyentuh syal merah yang ia kenakan.

"syal?"

Dan aku hanya mengangguk seperti orang bodoh. Dia ingat, dan aku hanya mengangguk seperti orang bodoh. Iya, entah kenapa aku merasa bodoh.

Dia mungkin salah memahami anggukanku, dan segera melepaskan syal itu dari lehernya.

Sebelum aku berkata apa-apa karena memang aku bukan mau meminta syal itu kembali, mataku yang bodoh ini terpaku pada lehernya.

"kalau kamu mau nambahin juga silahkan. Toh aku memang udah tampak murahan."

Dia menyibak rambut panjangnya ke belakang bahu, menyandarkan kepalanya ke kursi, membuat tanda-tanda merah keunguan itu semakin terlihat jelas. Mataku lalu jatuh pada syal yang baru saja berpindah ke tanganku.

Aku hanya perlu melewati 20 menit perjalanan untuk sampai di halte yang kutuju. Perjalanan itu kubayangkan akan bosan, dan akan cepat dengan jalanan yang cukup lengang di jam segini. Bayangan perjalanan cepat itu sekarang bergerak lambat dan samar dalam kepalaku.

"kamu merasanya kotor? Atau bersih?"

Tatapan kami bertemu. Pandangannya tidak lekat, tapi pandangan itu seperti meminta untuk dijaga.

"harusnya apa?" suaranya terdengar lembut dan dingin di saat yang bersamaan.

"harusnya kamu yang rasa, bukan aku yang menilai."

Aku tau dia bisa saja memejamkan matanya dengan nyaman dan tertidur di busway sampai waktunya turun. Tapi mata lelah itu seperti lebih butuh dijaga daripada dipaksa terpejam, mungkin terkesan memaksa untuk bicara setelah mungkin seharian bungkam. Terlalu banyak mungkin yang aku sendiri tidak tau mana yang bukan hanya mungkin.

Tubuhku tersentak saat tangannya menarik pergelangan tanganku untuk bangkit dari kursi ketika pintu busway terbuka. Pikiranku yang seharusnya terpaku pada halte apa yang tengah kupijak bersama perempuan ini sesaat setelah kami keluar dari bus, seperti disihir untuk mengikut saja. Kami keluar dari halte, terus berjalan menyusuri jalanan yang tak seramai dua jam lalu. Aku dan dia berjalan di sepanjang trotoar, dan bibirku rasanya terkunci untuk bertanya mengapa tanganku masih digenggamnya.

Langkahnya terhenti. Dia berbalik, masih memegang tanganku, berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh tembok tinggi pembatas sebuah gedung dengan trotoar tempat kami berpijak.

Sekarang rasanya aku tak bisa berhenti menilai. Dia perempuan berani, aku bisa melihatnya, tapi sekarang tatapannya sangat rapuh dan ragu untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

"kalau aku merasa kotor, lalu apa?"

Dia bukan menantangku dengan nada tersinggung. Tidak. Dia benar-benar meminta jawaban. Lebih tepatnya, membutuhkan jawaban.

Di bawah pancaran lampu jalanan yang tidak terlalu terang, serta bantuan bulan yang menambah penerangan, tanda-tanda di lehernya tampak pekat.

"aku bisa bersihin."

Harusnya aku meminta izin. Harusnya mungkin tanganku tidak selancang ini ketika tangan kananku menyentuh wajahnya, membuatnya mendongak. Aku menjadi pengecut yang tidak berani terlalu dalam tenggelam dalam matanya, kemungkinan untuk menemukan kemarahan atau penolakan.

Bibirku menyapu seluruh saksi bisu di lehernya yang seakan bertanggar paksa di sana. Aku menghujani kecup selembut mungkin. Telingaku kubiarkan terbuka tajam agar jika dia membisikkan kata tidak, aku akan berhenti membersihkannya.

Aku tidak tau siapa yang paling tenggelam setelahnya. Malam seakan menelan kami berdua untuk lekat dalam pasrah.

"aku butuh sakit yang nyata."

Kalimat itu ia suarakan setelah bibirnya bertemu bibirku dan aku hilang dalam kacaunya ritme napasku sendiri.

Waktu 20 menit yang kujanjikan dalam pikiran untuk membawa tubuhku melepas lelah seharian di atas ranjang tempat tidur ditemani segelas teh hangat dan sepiring gorengan, telah berakhir di kehangatan lain dengan hati yang duduk dengan empuk dan bibir yang seterusnya berbicara banyak dalam bibir perempuan di hadapanku.

MARI TELANJANGI SEMUA LUKATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang