20. Menyukai di Bawah Cinta

112 15 2
                                        

Adriana

"Bagaimana sikap Grandma sekarang ke padamu?" tanyaku sambil bersandar pada pagar balkon apartemen di Boston--yang cukup besar.

"Aku menjadi cucu favoritnya sekarang," jawab Ashley. "Apa kau puas, sudah menyebarkan skandal di brunch party?" Dia menaruh nampan berisi dua cangkir putih, dan satu teko yang senada di meja kayu jati.

Aku duduk di sofa panjang. "Hey... aku tidak tahu apa-apa, aku mabuk red wine. Okay... aku tahu Ash, karena Dee merekam kejadian saat aku menceritakan detail skandal pacarmu dan Jenna." Aku tersenyum menerawang. "Aku terlihat keren saat menceritakan skandal itu Ash, dengan santai sambil memakan es krim rasa stroberi." Aku terkekeh. "Ya, aku hebat."

Ashley menuang teko teh pada cangkir. "Duh, kau berbuat seperti itu karena kesal pada Ryker. Dan ngomong-ngomong aku sekarang dianggap gadis manis, dan Jenna dianggap nona murahan perebut pacar orang." Dia terkekeh, pandangannya menerawang. "Aku jadi ingat sepupu-sepupu kita yang mempunyai pacar, dengan polosnya meledek Jenna, Jangan tiduri pacar kami... please!"

Aku tertawa terbahak-bahak sampai terjatuh dari sofa; dia mentertawakanku sambil menggeleng-geleng.

"Oh, Jenna memang pantas menerimanya, Ash... sangat pantas." Aku kembali duduk sambil menaikkan kedua kakiku ke atas sofa. Aku bepikir tentang Ryker, majalah, dan balas dendam... "Well, kalau aku mau jadi sampul majalah GQ, kapan terbit edisinya?"

"Dua bulan lagi. Memang seperti itu kalau majalah, persiapannya dua bulan sebelumnya," jawab Ashley menatapku sesaat, lalu meneruskan membaca Kindle-nya.

"Kalau sebulan, gimana? Bisa, nggak?"

Ashley mencebik. "Gila, lagakmu sudah seperti Angelina Jolie... kau tak manis lagi!"

"Ya sudah, bilang ke mereka kalau aku tidak bisa," ancamku.

"Ya Tuhan... beri aku kesabaran. Aku akan cari tahu, apa kau bisa menjadi sampul untuk bulan depan atau tidak. Well, 2 bulan lagi ada pesta penggalangan dana untuk tiga panti asuhan di area Boston... kau tahu ada pelelangan di situ?" tanya Ashley sambil meniup-niup teh panasnya.

"Aku tahu dong, Dad sudah bilang padaku... setiap anak perempuan berumur 18 sampai 25 tahun, dan belum menikah, akan dilelang keperawanannya."

Ashley yang mau meminum segelas teh, langsung menumpahkannya sebelum masuk ke mulutnya. "Kau benar-benar bisa jahat--kalau kau mau! Jangan tersenyum bangga seperti itu, sejak kau tidak berhubungan lagi dengan Ry... hidupku jadi menderita!"

Aku mengambil beberapa lap di dapur lalu kembali ke balkon. "Oh begitu, kau menderita?" Aku mengelap bekas tumpahan teh di lantai. "Ini baru dua hari setelah kejadian itu, dan brengseknya cowok itu sama sekali tidak merasa bersalah, dia tidak meneleponku dan memohon-mohon kepadaku..." aku berdiri dari sofa dan mengambil lap yang yang bersih, dan berjalan ke arah jendela. "Aku jadi ingin membersihkan jendela, Ash...."

"Maksudmu apa? tanya Ashley.

"Aku mau membersihkan jendela dulu...."

"Bukan yang itu. Dan demi Tuhan kaca di jendela sudah kau bersihkan kemarin. Jangan coba-coba membersihkan yang lain... semuanya sudah mengkilap!"

"Apa?" tanyaku.

"Apa-apanya...? Apa maksudmu?" Ashley mengerutkan kening.

Aku berkacak pinggang. "Kau tadi bilang bukan yang itu, maksudmu apa?"

"Oh itu, begini... maksudku, bukannya kau menyuruhku menutup telepon dari Ryker--kalau dia menelepon ke ponselku? Kau selalu dengan pikiranmu sendiri kalau ada masalah, kau juga melarangku menelepon mereka semua. Kau masih nggak mau menjelaskan padaku?"

In Bed with a RockerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang