17. Ciuman Malaikat

3.2K 161 3
                                        

Darlin... Baca tulisan ini, yah ini, berarti harus tinggalin jejak loh... Makasih.

Wattpad error berat. Beberapa chapter ilang nggak jelas. Imbasnya view aku berkurang n' PR update chapter baru.

So, kalo ada tulisan yg belum di-I (italic) mohon maklum, wokkay, cuz aku nggak edit lagi.

Ryker

Dari tadi Adriana sibuk memasang-masangkan pakaian untukku di ranjang sambil tertawa-tawa. Walaupun alkohol sudah berpengaruh, dia masih bisa menjelaskan semuanya. 

"Biar aku yang masukkan ke dalam kopermu. Kau seharusnya punya fedora biru, tahu." Adriana turun ke karpet, membuka koperku dan menaruh pakaianku sambil senyam-senyum.

Aku hanya duduk memandangnya dari atas ranjang. Adriana seperti istri yang merapihkan pakaian suaminya yang akan pergi ke luar kota. Tiba-tiba dia menghampiriku, mengambil sesuatu di belakangku, lalu menimpuk punggungku dengan bantal. Dia terkekeh, aku juga ikutan. "Akhirnya aku kena juga dengan bantal ini."

"Akhirnya," kekeh Adriana, sekali lagi menimpukku. Kali ini kepalaku.

"Stop, Rian. Aku pusing tahu!" Tapi dia tetap menimpukku, walaupun sekarang menimpuk dadaku. Akhirnya aku menariknya dan menjatuhkannya di ranjangku. Dia tertawa-tawa, aku juga sama--sambil ikut tiduran di sampingnya. Tawa kami pun mereda, lalu kami bertatapan.

Adriana tersenyum menghantui. "Aku panggil-panggil, kau diam saja. Umm aku mau nanya, barang-barangmu yang lain, mana?"

"Barang-barang apa?" tanyaku.

"Boxer, peralatan mandi, after shave, seperti itu..." Dia tertawa.

"Biar kuurus itu besok. Sekarang aku mau cerita sesuatu."

"Aku sukaaa cerita," balas Adriana manja.

"Begini... temanku pernah bilang, katanya kalau dia sudah berjanji, dia pasti menepa--" seketika mulutku ditutup oleh telapak tangan mungilnya.

"Aku nggak berjanji padamu untuk menjemput... ouch... kenapa kau menggigitku?" tanya Adriana sambil terkikik.

"Itu karena kau berbohong. Terus, kenapa kau enggak menjawab CA-mu ketika aku menele--" mulutku kembali ditutup lagi oleh telapak tangannya.

"Itu karena CA-ku dalam mode diam. Ouch... kenapa kau menggigitku lagi?" Adriana tertawa, lalu mencubit lenganku.

"Itu karena berhubungan dengan pertanyaan yang ini. Kenapa Tay bisa ke lokasi syutingmu? Padahal dia--" kali ini bibir seksi Adriana yang mendarat di mulutku.

Aku mendapatkan ciuman malaikat?

Ini tidak mungkin? Halusinasi, mabuk?

Dia sudah melepaskan ciumannya.

Oh, tidak!

Akhirnya aku bertanya lagi. "Kenapa Tay bisa mendatangimu--" dia kembali mencium bibirku, kali ini lama; bibirku langsung memagut bibirnya yang harum wiski beraroma cokelat dan mint. Yeah, tadi di jalan, dia sempat mengunyah permen mint.

Akhirnya dia mulai memagutku balik, membuatku mengerang di mulutnya. Lidahnya mulai menyelusup membelai gigi dan rongga mulutku; kali ini aku menggeram.

Sambil mengisap lidahnya, aku mulai membelai tubuhnya, dari leher terus ke punggung dan pinggangnya; kini dia yang mengerang dan balik mengisap lidahku.

Damn... berciuman saja rasanya nikmat seperti ini, apalagi bercinta... pasti luar biasa.

Aku mulai mendekatkan tubuhku dan memeluknya; tangan mungil Adriana menjambak rambutku, membelai leherku, lalu meremas bisepku yang membuatku kembali mengerang.

In Bed with a RockerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang