Drrtt! Drrtt!
Irene calling . . .
Klik!
"Yeoboseyo..."
"Jane, jangan main-main! Kau bilang apa semalam? Batal mengisi penampilan VIP mu? Heyy! Apa kau sudah gila? Kau sudah menyetujui penawaran itu kemarin. Mana bisa seenaknya kau batalkan begitu saja! Apa yang sedang ada dikepalamu itu, huh?"
Jennie menghela nafas panjang diantara kelopak matanya yang belum sepenuhnya sadar.
Hari masih pagi, namun Irene sudah menelponnya perihal baru membaca pesan yang dikirimkan Jennie semalam. Tentang keputusannya yang membatalkan penampilan VIP itu.
Sahabatnya itu tentu saja mengamuk, dan langsung mencecarnya dengan omelan panjang yang saat ini tengah dinikmati oleh si pipi mandoo.
Namun karna sudah biasa menghadapi sifat cerewet Irene, Jennie berusaha membuka matanya.
"Aku baru bangun..." jawabnya bersama suara yang masih terdengar sengau.
"Ya. Sebaiknya kau segera bangun, agar bisa menjelaskan padaku tentang setan apa yang merasukimu semalam hingga berani-beraninya membatalkan penampilan itu."
Ruby Jane berdecak diam-diam.
Namun akhirnya ia menuruti saran Irene untuk sepenuhnya bangun dari tidurnya.
Ditariknya rambut panjang itu kebelakang, dengan selimut yang mulai ia singkap.
Jennie kemudian melirik jam digitalnya. Waktu menunjukkan hampir pukul delapan.
Matanya mengerjap beberapa kali untuk meningkatkan kesadaran diri.
Setelah merasa cukup waras, barulah adik dari Kim Jisoo itu terlihat akan memberi penjelasan.
"Aku tidak bisa menipu Lisa lagi. Dia sangat tulus membantuku, Irene."
"Masih dengan alasan yang sama?"
"Irene, aku serius. Setelah kami bercinta, hubunganku dengan Lisa menjadi tidak sederhana lagi. Banyak hal yang semakin terkait diantara kami."
"Apa itu? Kau mulai ketagihan dengan hisapan mulutnya?"
"Gosh!" Kim Jennie frustasi. "Ini bukan soal seks."
"Lalu apa? Jika kau benar-benar bicara cinta, aku sudah jelas tidak percaya."
"Bagaimana jika memang ya?"
"Mwoo?? Yyakk! Jennie-yaa! Mana ada orang jatuh cinta secepat itu?? Yang kau rasakan hanya ketagihan menikmati hebatnya dia menjilati v*ginamu!"
"Stop fucking shitt! Jika kau masih terus berbicara seperti itu, aku akan menutup teleponnya sekarang juga!" Jennie mengancam dengan rasa kesalnya yang mulai datang.
"Oke, oke. Tapi-,,, huftt... Jennie, tetap saja kau tidak bisa memutuskan sepihak. Ada Tuan Jinyoung yang kuyakin tidak akan menyukai hal ini."
Ruby Jane terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Irene kini mulai jadi pertimbangannya.
Ia memang harus memikirkan perkara itu.
"Ya sudah. Nanti malam aku akan coba berbicara dengan Tuan Park." jawabnya kemudian, yang mana menjadi ujung percakapan antara dirinya dengan Irene.
KAMU SEDANG MEMBACA
Money
RomanceApa yang paling dibutuhkan seseorang didunia ini untuk bertahan hidup? Jawabnya, tentu saja uang. Segala hal akan dilakukan demi menuntaskan obsesi tersebut. Begitu pula bagi Jennie dan Lisa. Dimana keduanya sama-sama memiliki kepentingan sendiri da...
