Suara kertas riuh terdengar di dalam ruangan Shania. Tampak Shania sedang memeriksa beberapa laporan dan rancangan rekan kerjanya untuk mega proyek real estate yang sedang berlangsung pembangunannya. Pekerjaan Shania sebagai Kepala Departement sempat terbengkalai karena terlalu banyak waktu yang dia curahkan untuk acara pertunangan itu. Dalam seminggu batang hidung Shania hanya terlihat 2-3 kali saja. Beruntung sekali Shania memiliki tim yang kompak sehingga beberapa pekerjaan yang sulit pun dapat mereka atasi. Dan kini, sudah menjadi tugas Shania untuk memeriksa semua hasil kerja timnya sebelum diserahkan kepada atasan mereka yang adalah ayah Shania sendiri. Sejak dari pagi hingga malam menjelang pun tak pernah ditinggalkannya ruang kerjanya meski untuk mengisi perutnya sekalipun. Untungnya saja, salah satu rekan kerjanya membawakannya makan siang dan malam.
Shania berusaha menyelesaikan pekerjaannya itu sebelum meninggalkannya cukup lama karena beberapa hari dia akan pergi ke Bali, lokasi dimana Acara Pertunangan itu akan diselenggarakan. 2 hari lagi Shania akan berangkat kesana untuk mempersiapkan semuanya dengan baik. Pertunangan antara Tania dan Arya tak lama lagi. Namun hingga kini Shania maupun Tania tak mengetahuinya sama sekali kebenarannya yang sesungguhnya.
Shania tak pulang semalam. Dia tidur di kantornya saat pekerjaannya selesai tepat disubuh hari. Ketika pagi menjelang dan keadaan kantor kini riuh kembali, Shania kini sedang merapikan dirinya setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan kemeja putih ketat, celana hitam panjang dan cardigan hitam lengan panjang yang dilipat hingga kedua sikunya.
Shania keluar dan menyapa beberapa rekan kerjanya dan menuju coffe shop langganannya. Mobil sport melaju mengusir kesunyian jalan yang tampak renggang.
Shania membuka mobilnya dan menutupnya saat hendak masuk ke dalam coffee shop. Pintu di dorong oleh Shania dan terdengar bunyi bell yang menandakan adanya pelanggan yang masuk. Salah satu pelayan disana menyapa hangat Shania dengan senyuman dan mengantarnya menuju salah satu tempat favorit Shania. Tak heran jika para pelayan coffee shop sudah hafal dengan spot favorit Shania karena sejak coffee shop ini berdiri Shania telah menjadi pelanggan tetap. Bahkan saat Shania duduk, si pelayan yang mengantarnya barusan langsung mengetahui pesanan Shania hanya dengan ekpresi wajah yang ditunjuk oleh Shania.
Shania mengutak-atik Hp nya dan beberapa kali membuka kotak pesan dan beberapa email masuk ataupun dari berbagai macam social media. Tak satupun didapatinya pesan yang berasal dari Andhika, orang yang sudah seminggu tak telihat dan terdengar kabarnya. Rasa penasaran Shania masih terkalahkan oleh gengsinya untuk menghubungu Andhika terlebih dahulu. Pernah sekali dia menghubungi Andhika lewat Line tapi tak dibalasnya hingga sekarang meski sudah dibacanya. Kesal dan marah yang dirasakan Shania. Tapi terselip rasa ingin jumpa didalam hatinya. Andhika menghilang begitu saja tanpa ada kabar sama sekali. Semua urusan pertunangan dialihkan kepada Arya. Segala sesuatu menjadi tanggung jawab Arya selama Andhika menghilang entah kemana. Shania malu untuk bertanya kepada Arya dan kawan-kawannya kemana Andhika pergi. Kini, yang sering dilakukan oleh Shania disaat waktu senggang seperti sekarang adalah mengecek semua sosial media, messenger atau apapun itu dan berharap Andhika mengabarinya tentang keberadaannya sekarang.
Kesibukan Shania dengan Hp nya terhenti saat pelayan membawakan pesanannya. Secangkir Cappucino dan 2 buah roti berisikan daging dan keju menjadi menu sarapan Shania. Shania tersenyum dan berterima kasih kepada pelayaan itu dan meninggalkan Shania sendiri.
Selama 30 menit Shania menghabiskan sarapannya. Kini, dia sedang mengantri untuk membayar makanan dan minumannya tadi serta beberapa minuman dan kue untuk semua rekan kerjanya yang sudah bekerja keras selema ditinggalnya. Setelah semua sudah disiapkan, Shania yang diikuti oleh salah satu pelayan yang sedang membawa pesanannya, secara tiba-tiba sebuah sosok pria tinggi dan tampan tak sengaja menyambar Shania, yang kebetulan pada saat itu dalam keadaan tidak siaga, terhempas kebelakang dan jika sebuah tangan kekar tak menopang tubuhnya, pasti tubuh Shania jatuh bebas ke belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Four Seasons
ChickLitKehidupan 4 orang wanita yang telah bersahabat sejak masih kecil dan memiliki kisah cinta yang pedih. Mereka mendirikan sebuah EO yang berasal dari modal mereka sendiri tanpa adanya campur tangan dari para orang tua mereka yang terbilang sangat suks...
