Kania PoV
Sudah sebulan lebih aku diberikan kesempatan untuk berpikir tentang tawaran dari dokter Patrick. Entah apa yang membuatku belum memutuskan tentang tawaran itu. Seperti ada sesuatu yang menahanku untuk tidak menerimanya. Jangan tanya sejak kapan aku merasakan hal itu, karena aku sendiripun tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang.
Hari ini, Shania dan Fania sudah berada di Bali untuk mempersiapkan acara disana. Aku diminta Angga untuk tetap stay disini bersama Tania yang sengaja dibuat datang pada hari H nanti.
Hari ini hujan lebat mengguyur daerah tempatku bekerja. Sejak pagi hari matahari enggan untuk keluar dan membiarkan awan gelap menguasainya. Dari ruang kerjaku, bisa terlihat hiruk pikuk manusia berlalu lalang di jalan dengan berbagai macam payung. Sebuah pemandangan yang indah ditengah hujan lebat.
Beruntung tidak ada pekerjaan yang berat disaat hujan lebat seperti ini. Semua pasien yang kutangani dalam keadaan aman dan terkendali. Hari ini pekerjaanku hanyalah berkunjung satu persatu pasien yang dalam tanggung jawabku untuk mengontrol dan mengecek keadaan mereka. Termasuk Aluna. Keadaan Aluna tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan dan masih dalam keadaan koma meski semua organ dalam tubuhnya bekerja semestinya.
Angga menitipkn Aluna kepadaku. Betapa dia sangat care dengannya. Jika tidak ada pekerjaan banyak, hampir setiap hari Angga mengunjungi Aluna bahkan beberapa kali menginap di RS. Melihat hal itu, membuatku iri. Eits, tunggu dulu. Jangan kalian pikir aku iri atau cemburu karena Angga. Aku ingin seperti Aluna yang memiliki seseorang yang begitu peduli, perhatian bahkan mungkin sangat mencintainya dalam kondisi seperti sekarang sekalipun. Aku berharap Tuhan juga menyediakan seseorang yang benar-benar tulus mencintaiku dan selalu disisiku selama-lamanya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu menyadarkanku dari lamunan.
"Silahkan masuk..."
"Permisi, dokter. Saya hanya ingin menyampaikan informasi dari General Manager tentang perkenalan calon Direktur Utama Rumah Sakit ini."
"Direktur Utama? Siapa?" Tanyaku penasaran.
"Saya tidak tahu jelas dokter, dari perbincangan para suster dan pegawai wanita calon Dirutnya ganteng, tapi sayang sudah punya tunangan dan tunangannya itu anak dari pemilik rumah sakit ini." Jawab suster Lani penuh ekspresi.
Aku tertawa kecil mendengar penjelasan suster lani tersebut. Wajah gembira karena, calon dirutnya ganteng tapi juga kecewa karena sudah bertunangan.
"Ganteng sih ganteng, tapi punyanya orang ogah deh sus... Tuh, si dokter riko masih single sus... Siapa tahu jodoh..."
"Iiihhh... ogah deh dokter... Dokter Riko emang ganteng tapi playboynya itu loh yang bikin ogah." Tolak suster Lani mentah-mentah
"Hahaha... awas loh sus, benci dan cinta hanya dibatasi dinding tipis... Hari ini benci, siapa yang tahu nanti suster Lani malah yang ngejar-ngejar dokter Riko" godaku lagi kepada suster Lani.
"Amit-amit deh..." Suster Lani mengetok-ngetok mejaku sebagai penolakan.
Akupun tertawa dengan kelakuan Suster Lani. Mereka berdua -dr. Riko & suster Lani- sering dijodohkan oleh beberapa dokter senior tapi suster Lani menolak mentah-mentah dengan alasan tidak mau punya pasangan yang playboy. Takut disakiti alias diduakan.
"Sudah... kita lanjut lagi ke pembicaraan awal. Pertemuannya kapan dan dimana?" Tanyaku kembali fokus.
"Di Grand Hall Rumah Sakit jam 7 malam. Sesudah perkenalan ada jamuan makan malam untuk semua yang hadir. Pertemuan ini adalah perkenalan awal kepada semua tenaga medis disini dan 2 minggu kemudian akan diselenggarakan acara yang resmi dimana semua direksi, rekan bisnis, pegawai dan tenaga medis akan diundang. Kalau tidak salah, akan dirangkaikan juga dengan acara pertunangan." Ujar Suster Lani panjang lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Four Seasons
Romanzi rosa / ChickLitKehidupan 4 orang wanita yang telah bersahabat sejak masih kecil dan memiliki kisah cinta yang pedih. Mereka mendirikan sebuah EO yang berasal dari modal mereka sendiri tanpa adanya campur tangan dari para orang tua mereka yang terbilang sangat suks...
