//Sequel Ripple//
[Rumah Untukmu Pulang]
Mencintaimu sepadan dengan semua rasa sakit ini jadi biarkan aku tetap memeluknya erat sampai hari dimana aku tidak bisa lagi menggenggam harapan.
"Mari kembali jatuh cinta dan melakukannya dengan benar di la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lo jatuh cinta sekali lagi, Nathaniel. -Renika Catra-
~••~
Masih dengan pemandangan yang sama, gadis cantik juga suara jepretan kamera. Rutinitas yang sedikit memuakkan untuk Renika akhir-akhir ini, kepalanya rasanya penat dan butuh penyegaran tapi masih banyak hal yang harus dirinya tuntaskan.
Hasil rapat beberapa jam yang lalu semakin menyudutkannya, segala macam kekurangan seolah adalah kesalahannya. Renika merasa ingin menangis sekarang tapi air matanya seolah kering kerontang beberapa tahun terakhir.
"Nona, Tuan Niel sedang menunggu di ruangan anda."
"Makasih."
Hari ini untuk kesekian kalinya Nathaniel berkunjung ke kantor, ada saja alasan untuknya datang. Tapi kali ini dibanding kesal atau semacamnya Renika lebih merasa takut. Nathan dengan amarah adalah perpaduan yang mengerikan, pria itu bisa membunuhnya bahkan hanya dengan mulut terkunci rapat.
Tadi pagi-pagi sekali pria itu sudah menelponnya dan menanyakan perihal Amora Vienna dengan suara rendah yang menakutkan, tidak banyak yang tahu sisi gelap Nathan dan Renika berharap pria itu tidak berakhir memusuhinya setelah ini.
Dengan langkah pelan Renika beranjak meninggalkan acara pemotretan untuk sampul majalah bulanan perusahaan mereka. Amora ada disana, gadis itu akan menjadi wajah utama bulan ini sebelum keberangkatannya ke Paris.
Saat membuka ruangannya Renika menemukan Nathan sedang sangat fokus dengan beberapa potret. Alis pria itu tampak menukik tajam dengan dahi yang berkerut. Renika tau dia sedang meneliti satu persatu hasil kerja Amora selama berada di California.
"Na?"
Pria itu menoleh mendengar suara Renika, wajahnya tidak banyak berubah. Dia hanya tersenyum tipis menyambut kedatangan Renika dan kembali melanjutkan kesibukannya.
"Ave itu Amora Vienna, iyakan?"
Renika sempat melirik sejenak kemudian mengangguk. Amora Vienna, mantan kekasih Nathan yang paling membekas di kepala. Gadis yang menyumpahi Nathan dengan berbagai umpatan pedas saat mereka putus. Renika kadang masih sering tertawa kecil jika mengingat bagaimana Nathan menceritakan gadis itu dengan menggebu-gebu.
"Sejak kapan dia jadi model disini dan kenapa lo gak pernah cerita sama gue soal ini? Lo tau seberapa frustasi gue nyariin dia kemana-mana tapi dia justru disini, di tempat yang notabene gak pernah absen gue datangin?"
Renika duduk dengan tenang sambil memainkan bolpoin miliknya, Nathan punya banyak sekali wajah dengan emosi yang bisa saja berbeda dengan apa yang dirinya perlihatkan. Jadi bersikap tenang adalah cara paling bijak untuk membuat Nathan menunjukkan perasaan aslinya.
"Dia anak asuh Papa, baru balik dari California," Renika menjawab seolah Nathan belum tau apapun, padahal dirinya yakin Nathan tahu detail cerita ini dengan sangat jelas.