//Sequel Ripple//
[Rumah Untukmu Pulang]
Mencintaimu sepadan dengan semua rasa sakit ini jadi biarkan aku tetap memeluknya erat sampai hari dimana aku tidak bisa lagi menggenggam harapan.
"Mari kembali jatuh cinta dan melakukannya dengan benar di la...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mari saling membersamai sampai kita lupa kapan cinta ini bermula. -Mahendra Vega-
~••~
Gemericik air masih terlihat mengguyur kota Jakarta, malam yang semakin larut membuat dingin ini menusuk menembus gaun sederhana yang Renika kenakan. Hujan di luar musimnya seperti saat ini memang sedikit menjengkelkan karena kita kadang tidak punya persiapan menghadapinya.
"Ada selimut, kamu mau pakai?"
Renika menggelengkan kepala sebagai jawaban, tidak enak juga merepotkan pria ini lebih banyak. Suasana dalam mobil Mahendra saat ini sedikit sunyi dengan suara playlist yang berputar dengan volume kecil.
Tadi Nathan meminta Mahendra untuk mengantar Renika pulang lebih cepat karena besok pagi gadis itu masih ada jadwal rapat. Meskipun sempat menolak berkali-kali nyatanya Nathan dan Mahendra jauh lebih keras kepala darinya, apalagi yang lain masih repot dan tidak ada yang tega jika Renika harus pulang dengan taksi online.
Traffic light berganti merah, memanfaatkan waktu yang ada Mahendra melepas jas hitamnya dan mengenakannya pada Renika agar gadis ini tidak semakin kedinginan.
"Pakai ini aja kalau gak mau pakai selimut, nanti kamu sakit."
"Makasih."
Mahendra tersenyum mendengarnya, seperti pertemuan mereka sebelumnya Mahendra berharap malam ini tidak cepat berlalu. Meskipun harus berjalan tanpa percakapan apapun tapi Mahendra merasa nyaman bisa berdekatan lebih lama dengan Renika.
"Kalau ngantuk tidur aja dulu masih lumayan jauh juga dari apartemen kamu."
"Iya."
Jawaban singkat dari Renika membuat Mahendra menoleh dengan cepat, kernyitan nampak jelas di dahinya. Ada yang aneh dengan gadis ini, sedari pulang hanya gelengan atau jawaban singkat yang dirinya berikan padahal saat acara berlangsung dirinya begitu semangat dan riang, karena merasa khawatir Mahendra dengan spontan menaruh punggung tangannya di dahi Renika, demam. Pantas saja gadis ini lebih pendiam.
"Ca, kita ke rumah sakit aja ya? Kamu demam."
"Nggak mau! Pulang aja aku mau tidur, besok pasti udah mendingan."
"Ada obat penurun panas di apart?"
"Gak tau, aku belum cek kotak obat tapi anterin aku pulang aja jangan ke rumah sakit."
"Oke, kita mampir ke apotek dulu bentar. Kamu tadi gak salah makan, kan? Gak makan udang atau seafood, kan?" Renika kembali menggelengkan kepala pelan sebagai jawaban.
Mahendra mengangguk sambil mengusap kepala Renika pelan, dirinya khawatir. Untuk pertama kalinya Mahendra melihat bagaimana Renika jatuh sakit, ini hal baru baginya meskipun Nathan selalu bilang kalau Renika punya ketahanan tubuh yang lemah.