19# Yang Sebenarnya

65 7 3
                                        

Beberapa orang akan saling menyakiti untuk saling melindungi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Beberapa orang akan saling menyakiti untuk saling melindungi.
-Gabriel Oretha-

~••~

Ruangan Gabriel menjadi tempat diskusi dadakan karena kepulangan Mahendra. Pria itu bilang akan menghubungi Nathan lagi setelah telpon tengah malam kala itu tapi nyatanya dia hanya meminta Nathan menyimpan nomornya yang baru.

"Serius Ren gak perlu dikasih tau?" Arunika adalah satu-satunya perempuan disini karena Rosetta berakhir menemani Bintang pergi ke Jepang setelah banyak perdebatan.

"Percaya sama gue."

"Tapi dia perlu tau, Nat, biar bisa nyiapin mental juga."

"Gak perlu, Arunika. Kita cuma perlu mastiin mereka ketemu aja dan selebihnya biar mereka dan Tuhan yang nentuin."

"Gue udah minta Rosetta, Sam sama Bintang tutup mulut," Gabriel mengantongi ponselnya setelah mendapat balasan dari Rosetta.

"Tapi Renika punya hak buat gak ketemu sama Mahen, kan?"

Pertanyaan Arunika membuat Nathan terdiam sejenak lantas beralih menatap Arunika dengan senyuman.

"Dia punya hak untuk gak ketemu tapi sampai kapan, Aru? Sampai kapan kita biarin mereka berdua saling nyakitin satu sama lain dengan jarak ini?"

"Sampai mereka siap, Nat."

"Mereka gak akan pernah siap, jadi jalan satu-satunya harus dipaksa."

Nathan kembali dengan argumennya, ini bukan perkara mengkhianati persahabatan antara dirinya dan Renika tapi mereka memang harus bertemu dan memperjelas semuanya. Renika dan Mahendra tidak bisa terus diam dan saling menjauh seperti ini mereka harus melangkah, entah untuk mengakhiri tentang perasaan satu sama lain atau justru berjalan bersama setelah semua keegoisan dan salah paham yang terjadi.

"Dipikir-pikir Bang Mahen sama Kak Ren itu drama banget ya? Maksud gue kalau emang masih saling cinta kenapa gak jujur satu sama lain dan malah ngilang kayak gitu?" Erlang mulai memberikan opini setelah banyak bungkam.

"Kegedean gengsi mereka itu, sama-sama egois dan yang paling parah sama-sama impulsif."

"Kejadian yang sebenarnya bukan kayak yang lo pikirin, Na," Gabriel menyanggah apa yang Nathan katakan.

"Dan mereka gak drama, Lang. Ada hal lain yang bikin mereka jadi kelihatan impulsif dan egois padahal dibalik itu mereka sembunyiin sesuatu."

"Hal apa yang mereka sembunyiin, El? Udah jelas yang satu berangkat ke New York karena berita palsu yang satu berangkat ke Chicago karena salah paham."

"Siapa yang bilang Rere ke New York karena berita palsu? Itu semua karena Papa. Gue denger sendiri gimana Papa maksa dia untuk berangkat ke New York secepatnya demi gengsi Papa yang setinggi langit, belum lagi Bunda yang gak bisa bantu apa-apa selain nurutin apa maunya Papa, menurut lo Rere bisa bujuk Papa semudah itu? Nggak, Na, dia cuma mau nenangin kita."

Scars || Mark LeeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang